My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KOMA



Dengan cemas Aron mondar mandir didepan ruangan UGD, sudah dua jam lamanya Elena berada didalam sana membuat Aron kian gelisah.


Tidak lama Hugo dan Zio pun datang, Saat Zio ingin melaporkan keadaan kepada Aron tetapi ditahan oleh Hugo yang mengerti situasi ini.


"Kenapa mereka lama sekali, Kau apakan calon istriku Robby!" teriak Aron menggebrak pintu ruang UGD


"Bersabarlah tuan mereka butuh konsentrasi" ucap Halid memegang bahu Aron.


Tidak lama pintu UGD pun terbuka, seorang dokter tampan susia dengan Aron keluar dari sana


"Bagaimana Keadaannya?" tanya Aron menatap tajam dokter tampan itu


"Baru kali ini aku melihat kecemasan diwajahmu Aron" ucap dokter itu


"Cepat katakan Robby!" Bentak Aron


Dokter tampan itu bernama Robby, sepupu Aron yang menarik diri dari dunia hitam maupun bisnis karena ingin fokus pada rumah sakit miliknya.


"Dia koma"


Deghhhh


Kaki Aron terasa lemas setelah mendengar jawaban Robby, lampunya kehidupannya kini telah padam bersama dengan keadaan Elena.


"Terlalu banyak mengalami benturan dikepala dan juga bagian tubuh yang lain, jika kalian telat sedikit membawanya aku tidak jamin dia akan selamat"


Aron mengusap wajah nya kasar, hati nya benar benar merasa sakit saat mendengar penjelasan Robby.


"Aku akan memindahkannya kerua..."


"Berikan ruangan VVIP" ucap Aron dan langsung di pahami oleh Robby


Robby sebenarnya sangat penasaran siapa wanita yang dibawa sepupunya nya ini, Aron yang notabene nya sangat membenci wanita tidak pernah bersikap seperti ini.


Elena sudah berada di ruangan VVIP, Aron pun masuk setelah semua nya sudah selesai.


Aron mendekati tubuh lemah yang sedang terbaring diatas brankar dengan banyak alat yang tertancap ditubuh putih itu.


"Sayang hiks hiks" lirih Aron mulai menumpahkan air matanya karena tidak sanggup melihat keadaan wanita yang amat dicintainya.


"Maafkan aku sayang maaf" lirih Aron yang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Elena.


Hugo, Halid dan juga Zio menitikan air mata juga melihat hidup tuan nya yang kembali meredup bersamaan dengan memburuknya keadaan Elena.


Seminggu telah berlalu, keadaan Elena masih sama gadis itu juga belum bangun hingga sampai hari ini.


Penampilan Aron benar benar kacau, Aron tidak pernah meninggalkan Elena barang sedetik pun karena merasa trauma dan takut.


"Kabari Laras dan Fras jika Elena bersama ku, sahabat nya juga harus tahu tetapi pastikan mereka tutup mulut" ucap Aron menatap tiga orang kepercayaan nya.


Mendengar keadaan Laras yang terpuruk karena Elena tidak juga ditemukan membuat Aron merasa sedikit bersalah.


Dan memutuskan untuk memberitahu bahwa putri angkat yang mereka cari sedang bersamanya dalam perlindungan yang amat ketat.


Dirumah mewah milik Fras dan Laras, terlihat Laras yang memandang kosong kearah taman belakang rumahnya


Semenjak kepergian Elena dan menyerahnya pengawal Fras, Latas semakin terpuruk dan juga enggan mengembangkan butik nya yang sekarang dikembangkan oleh Dita.


Keempat sahabat Elena juga merasa terpukul bahkan sampai sekarang masih berusaha mencari keberadaan gadis cantik itu.


"Permisi nyonya, Tuan besar memanggil" ucap Kepala pelayan dirumah Laras yang sangat iba melihat keadaan Laras yang semakin kurus.


Laras mengangguk dan berlaku pergi ke ruang tamu dimana suaminya sudah menunggu bersama seseorang.


"Ada apa mas?" tanya Laras duduk disamping suaminya sembari menatap bingung Hugo yang ada didepannya.


"Ini Hugo sayang, salah satu orang kepercayaan tuan Aron ingin menyampaikan sesuatu kepada kita" ucap Fras saat melihat raut bingung istrinya.


Hugo sebenarnya tidak tega menyampaikan pesan ini, mereka harus bertemu dalam keadaan Elena yang sedang tidak baik baik saja.


"Menyampaikan apa ya?" tanya Laras dengan suara khas lembutnya.


"Maaf sebelumnya nyonya Laras dan tuan Fras maksud kedatangan saya kemari atas permintaan tuan Aron"


"Mungkin pesan ini sangat tidak enak didengar tapi ini harus sampai kepada Anda berdua" ucap Hugo tanpa mengurangi kesopanan nya.


"Tidak apa tuan, Katakanlah" ucap Fras dengan santai walaupun sedikit tegang jika harus berurusan dengan orang yang sangat berpengaruh itu.


"Ini tentang nona muda kami tuan, Nona Elena Gresya"


Deghhhh


Seketika Laras dan Fras mematung saat nama yang mereka sebutkan kini disebut Hugo, dengan tersmat nama nona muda disana.


"A..apa yang? dimana putriku?" tanya Laras dengan mata yang sudah berkaca kaca


"Nona Elena sedang berada di rumah sakit nyonya"


Deghhhh


Brukkkkk


Laras langsung pingsan setelah mendengar jawaban dari Hugo, putri yang dirindukan nya kini kembali dalam keadaan yang mengenaskan.


Dirumah Sakit milik Robby.


Aron menatap wajah Elena yang sebagian masih terlihat memar, Aron menghela nafas dan megusap air mata yang luruh ke pipinya.


"Apa kau tidak ingin mengomeliku lagi sayang? Ayolah bangun sayang, mintalah untuk dibebaskan lagi"


"Bangunlah sayang dan maki aku sesukamu hiks" lirih Aron menelungkupkan wajahnya di lengan Elena.


Robby yang melihat sepupu nya begitu rapuh pun merasa sedih, Robby sudah tahu siapa Elena karena Halid sudah menceritakan semuanya.


Robby kini tahu siapa gadis kecil yang sedang terbaring lemah itu, gadis itu yang akan menjadi kakak iparnya nanti dan menjadi nyonya smith dirumah Aron.


"Kuatkan dirimu, berdo'a lah agar dia cepat sadar" ucap Robby menepuk pundak Aron yang terlihat bergetar.


Baru kali ini Robby melihat sisi rapuh sepupunya yang terkenal dingin, arogan dan juga kejam.


"Aku harus kuat bagaimana? kekuatan ku ada bersamanya, jika dia seperti ini aku tidak bisa" lirih Aron yang menatap sendu wajah Elena.


Dari dalam Robby dan Aron bisa mendengar suara tangis seorang wanita yang terdengar sangat pilu.


Ruangan rawat Elena terbuka, Laras, Fras dan juga Hugo yang mengantar mereka pun masik kedalam


Tangis Laras semakin pecah saat melihat putri angkat kesayangan nya sedang diambang kematian.


"E..El hiks hiks" lirih Laras dengan tubuh gemetar.


Aron yang mengerti situasi pun mengalah untuk menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari brankar Elena.


"El kenapa seperti ini nak? bangun El ini bunda sayang" lirih Laras menyentuh pipi lembut yang sudah lama berada jauh dari jangkauan nya.


Fras juga tidak bisa menahan air matanya melihat gadis kecil yang sangat disayanginya dan di jaga nya kini terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.


"El sayang, ini ayah sama bunda datang nak, buka lah matamu sayang" lirih Fras yang tidak mampu terlihat kuat lagi.


Brukkkk


Untuk kesekian kalinya Laras pingsan dengan tubuh ringkihnya, Robby langsung mengambil tindakan untuk Laras dan dibawa ke ruang UGD.


Tidak lama setelah kepergian Laras dan Fras, datang empat sahabat Elena yang sudah terdengar tangis nya dari dalam ruangan.


"ELLL" pekik Dita sampai berlutut didepan brankar Elena saat melihat tubuh lemah yang terpasang berbagai alat ditubuhnya.


Aron memilih duduk disofa dengan tatapan yang terus tertuju kearah Elena, seakan jika beralih saja maka gadis itu akan hilang.


Kaki Jessica seketika lemas melihat wajah Elena yang terlihat lebam dan beberapa bagian tubuhnya masih melekat perban.


"E..El kenapa seperti ini?" lirih Rasya menyentuh tangan Elena yang terasa dingin


Clara yang ikut bersama mereka sudah pingsan setelah melihat kondisi Elena tadi, sangking tidak sanggup nya melihat sahabat nya terbujur lemah disana.


"El bangun El kami disini El, aku merindukan suara mu El aku mohon jawab aku Elena" lirih Dita memeluk tubuh lemah Elena.


Merry yang baru datang pun tidak bisa menahan tangis nya lagi, wanita yang sering mengumpati nya kini terbaring lemah disana.


Aron memang hanya mengizinkan mereka saja untuk saat ini, keluarga Elena akan dikabari setelah mereka yang ada disini tahu


Aron takut mereka berbondong-bondong datang sehingga mengganggu kesehatan Elena yang semakin buruk.


"Kenapa adikku seperti ini, Elena bangun sayang aku ada disini Aku Merry" lirih Merry menatap Elena dengan berlinang air mata.


Rasya yang harus lebih kuat dari sahabatnya yang lain pun memapah Jessica dan Dita agar duduk disofa.


Clara yang cepat sadar pun langsung kembali ke ruangan Elena dengan berderai air mata, dia pingsan hanya karena syok.


"El" panggil Clara dengan bibir gemetar menahan tangis nya yang tidak mau berhenti.


"El bangun El, kau dengar aku El? kau tidak merindukan aku El?" ucap Clara menggenggam erat tangan Elena.


Semuanya sudah berderai air mata, bahkan Hugo saja sudah berada ditoilet untuk menumpahkan rasa sakit didada nya melihat keadaan nona mudanya.


"El, kamu ga mau bangun nak?" lirih Laras yang sudah kembali dengan wajah pucat.


Seisi ruangan Elena dipenuhi dengan isak tangis pilu, mereka semua hanya bisa berdoa dan berharap gadis ini akan segera pilih dan kembali berkumpul bersama mereka.


.


.


.


Jangan ngabisin tisu wkwk


Jangan lupa nyengir hihi.