
Pagi yang cerah, Elena sudah berdiri di teras rumah bersama Aron karena pria itu akan berangkat bekerja.
"Hati hati dijalan" ucap Elena tersenyum manis
"Jangan nakal" jawab Aron mengecup kening Elena dan berlalu masuk kedalam mobil.
Elena melambaikan tangan nya mengiringi kepergian Aron sampai mobil mewah itu menghilang dibalik gerbang.
Elena menghembuskan nafasnya kasar "mau sampai kapan non?" tanya bik Minah yang muncul dari balik pintu utama
"Maksudnya?" tanya Elena tidak mengerti
"Tidak baik jika terus membohongi diri sendiri, beliau juga menunggu anda" jawab bik Minah
"Aku tidak mengerti ucapan bibik" ucap Elena berlalu masuk kedalam rumah.
Bik Minah tersenyum sembari menatap punggung Elena yang semakin menjauh.
Elena duduk disofa yang ada diruang keluarga, bik Minah datang membawa segelas minuman dingin dan cemilan.
"Terimakasih bik" ucap Elena meminum minuman nya
"Apa akan terus seperti ini?" celetuk bik Minah
Elena mengerutkan kening nya karena tidak mengerti alur pembahasan bik Minah.
"Nona sudah cukup dewasa untuk mengerti segalanya, tuan juga menunggu balasan dari nona" ucap bik Minah tersenyum.
Elena langsung menundukkan kepalanya sembari mengigit bibir bawah nya karena tidak bisa mengelak dari pertanyaan bik Minah
"Apa dia harus tahu?" tanya Elena.
Bik Minah tersenyum "Ada apa non?" tanya bik Minah mendekati Elena.
"Ntahlah bik, rasanya aku takut jika dia tahu apa yang ku rasakan dan itu semua merubah suasana" jawab Elena.
Elena mulai menyadari perasaan nya terhadap Aron saat pria itu pergi keluar kota, ikatan batin antar keduanya pun sudah Elena sadari.
Baik Aron maupun Elena tidak pernah membahas perihal mimpi Elena yang menyelamatkan nyawa Aron karena Elena sendiri tidak membahasnya.
"Bibik tahu? ketika seseorang tahu bahwa aku mencintainya dan takut kehilangan nya maka semua nya langsung berubah"
"Suasana yang tadinya hangat berubah jadi dingin, bibik tahu? aku sangat takut apa yang terjadi dulu terjadi lagi sekarang ini"
"Aku sadar, aku sudah mencintai Aron karena dia selalu memperlakukan ku layaknya seorang ratu, seperti sebuah berlian yang berharga"
"Aku gak mau semua nya berubah bik, bukan kemewahan ini yang aku takut kan akan menghilang tetapi kehangatan Aron terhadapku yang akan menghilang"
Bik Minah merasakan hatinya nyeri saat Elena bercerita hingga meneteskan air mata, luka gadis ini begitu dalam pikirnya.
"Tuan tidak akan seperti itu non, beliau sangat menyayangi nona" ucap bik Minah mengusap air mata Elena.
"Tidak ada yang tidak mungkin bik, bibik tahu bukan jika Aron sudah dijodohkan dengan wanita lain oleh oma nya"
"Aku takut jika aku mengungkapkan cinta ku kepadanya maka semuanya akan putus ditengah jalan"
"Oma wanita pertama yang dicintai Aron bik, oma juga yang berperan penting membesarkan Aron, sedangkan aku apa?"
"Aku cuma wanita yang tanpa sengaja dipertemukan oleh nya, jika aku bisa memutar waktu aku tidak mau berada disini"
"Aku tidak menyesal bisa bertemu dengan Aron karena dia pria pertama yang mampu memberi kehangatan yang selama ini aku cari" lirih Elena
"Tapi tidak selamanya akan seperti ini non" ucap bik Minah
"Aku tahu selamanya tidak akan seperti ini, akan ku ungkapkan jika ketakutan dihatiku sudah menghilang"
"Apapun bisa terjadi tanpa sepengetahuan ku, apa pun bisa terjadi diluar pemikiran ku"
"Keluarga ku saja tidak menginginkan aku, bagaimana mungkin seorang pria hebat sepertinya mencintai gadis bodoh seperti ku?" racau Elena menatap bik Minah
"Nona tidak bodoh, bibik tahu luka non bagaimana jangan menyalahkan diri sendiri non" ucap bik Minah langsung memeluk Elena.
"Kehadiran ku didunia ini bukan semata mata keinginan ku bik, tetapi mereka selalu menyalahkan aku, apa salah ku bik? apa dosa ku?"
"Harus sesakit ini bik? harus, aku diuji sedemikian berat? kenapa takdir mempermainkan hidup dan perasaan ku bik?"
"Aku cuma ingin bahagia bik, tapi kenapa begitu susah? kenapa begitu berat? aku cape ngangkat beban sedemikian berat bik"
"Aku ga sekuat itu bik, aku lemah, aku lelah, setiap kali aku mengeluh selalu saja orang mengatakan luka ku tidak seberapa"
"Mereka tahu apa bik? luka ku, aku yang rasain, kemampuan ku , aku juga yang tahu sampai sejauh mana"
"Aku cape bik cape" Elena meluapkan semua isi hatinya kepada bik Minah dengan berlinang air mata.
Bik Minah yang memiliki jiwa keibuan pun merasakan sakit mendengar cerita Elena yang terdengar begitu pilu.
"Mereka bilang mereka keluarga ku bik, tapi kenapa definisi keluarga yang benar benar keluarga ga aku temukan di mereka"
"Rumah aku udah berantakan bik, tempat aku pulang sudah hancur dan kini digantikan dengan Aron jika Aron mengulang hal yang sama seperti mereka aku harus pulang kemana?"
"Aron rumah ku bik, Aron sudah menjadi segalanya untuk ku, ku cuma takut kehilangan dia bik, rumah yang benar benar rumah"
"Kalau dia pergi aku harus pulang kemana? kalau suasana nya berubah hanya karena pengakuan cintaku, aku harus bagaimana?"
"Aku ga mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya bik, aku ga mau kehilangan Aron yang sudah ku jadikan tempat pulang"
Tubuh Elena semakin bergetar dalam pelukan bik Minah, tangis nya pun semakin terdengar pilu dan menyakitkan.
Ditempat yang berbeda, ada dua orang pria dengan wajah yang sangat mirip hanya berbeda usia saja sedang menyaksikan Elena yang sedang menangis dalam pelukan bik Minah.
Kedua pria itu adalah Aron dan Jonathan, Aron tahu Elena selalu menceritakan kepada bik Minah bagaimana perasaan dan juga hidupnya.
Jonathan menitikan air mata mendengar tangisan pilu dari Elena yang mampu menyayat hatinya.
Sedangkan Aron sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh walaupun mata nya sudah berkaca kaca.
"Jaga dia untuk ku nak, dia sudah seperti putriku, wanita pilihan mu adalah wanita yang tepat" ucap Jonathan mengusap air matanya.
"Jangan biarkan siapapun menyakiti hatinya lagi Aron, dia sudah cukup lelah menanggung luka selama ini"
"Jika kau menyakiti nya maka aku sendiri yang akan membunuhmu, itu janjiku" ancam Jonathan.
"Sebelum kau membunuhku maka aku akan membunuh diriku sendiri jika aku melakukan hal bodoh seperti itu pada nya"
"Tanpa papi minta aku pun akan menjaganya, papi tahu dia berharga bagiku" ucap Aron menatap papi nya.
"Ku pegang kata kata mu nak, jangan sakiti dia karena dia hanya seorang wanita rapuh yang pura pura kuat di depan orang lain"
"Jadikan dia sebagai kekuatan sekaligus kelemahan mu Aron, jangan memberikan luka di hatinya lagi tetapi hapus luka di masa lalu nya"
"Jika dia memiliki kekurangan apa kau akan tetap mempertahankan nya nak?" tanya Jonathan menggenggam bahu putra nya
"Dimata ku dia tetap wanita yang paling sempurna papi".
.
.
.
Next part hihi.