My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
ARON JHON SMITH



Siang hari yang cerah, Elena baru saja selesai makan siang bersama Helga dan juga Amey karena Aron dan tiga pria itu sudah bekerja.


"Setelah ini kita melakukan apa? aku bosan sekali jika harus membaca novel terus, Aron tidak memberikan ponsel ku" keluh Elena menatap dua wanita di depannya.


Keakraban mereka pun semakin terlihat karena Elena tidak menganggap dua wanita itu layaknya bawahan melainkan sahabat.


Aron sendiri sudah mulai tenang karena Elena bisa membiaskan diri dirumah mewah miliknya.


Yaaa walaupun setiap Aron mengatakan dia mencintai Elena tapi jawaban Elena selalu sebaliknya.


Aron tidak marah karena pria itu tahu gadis ini mempunyai trauma hati dimasa lalu yang tidak mudah untuk disembuhkan.


"Terserah anda non" jawab Amey yang juga tidak tahu harus melakukan apa


"Bagaimana jika kita mendatangi tempat kerja Aron? aku penasaran dia bekerja sebagai apa" ucap Elena sedikit meremehkan.


Elena langsung bangkit dan berlalu kekamar untuk mengganti pakaian nya, sedangkan dua wanita tadi hanya menggelengkan kepala saja


"Nona benar benar tidak tahu siapa tuan Helga" celetuk Amey menggaruk tengkuknya


"Kita lihat saja nanti, kau kabari tuan kalau kita akan ke perusahaan" ucap Helga dan berlalu untuk menyiapkan mobil untuk mereka.


Sedangkan Amey langsung mengirimi Halid pesan dan mengatakan bahwa nona muda mereka ingin kesana.


Elena turun ke lantai dasar dengan berpakaian yang sudah tapi, Elena memakai gaun selutut yang berwarna lilac yang dipadu dengan flatshoes berwarna putih.


Terlihat sangat menggemaskan memang, apa lagi kulit putih nya terlihat begitu cerah dengan gaun yang dipakai.


"Mari nona" ucap Amey membukakan pintu untuk Elena dan langsung menutupnya setelah Elena masuk.


Elena terus memandang keluar jendela dengan mata berbinar, dia memang merindukan suasana luar seperti ini.


Kebebasan yang dulu dimilikinya sekarang sangat sulit terulang lagi karena cowo posesif yang mengaku sebagai calon suaminya itu.


Setelah menempuh perjalanan beberapa mereka pun sampai di depan gedung pencakar langit yang begitu tinggi.


Ada pamplet besar yang bertuliskan "SMITH GROUP" disana, Elena tercengang melihat bangunan besar ini.


Bisa di bilang Elena pernah melalui tempat ini saat Elena menyelamatkan Aron yang hampir tertabrak mobil.


Tetapi Elena baru memperhatikan bahwa gedung ini sangat besar dan juga mewah, karena selama ini Elena tidak pernah peduli dengan hal hal lain.


"Mari nona" ucap Helga menggiring Elena masuk kedalam perusahaan itu.


Semua mata memandang Elena dengan raut bingung, bagaimana tidak bingung, wajah wanita ini terlihat asing dan juga cantik.


Helga, Amey dan juga Elena menaiki lift, Elena sedikit terkejut saat melihat Helga memencet lantai paling atas sebagai tujuan mereka.


"Pria gila itu bekerja sebagai apa Mey?" tanya Elena menatap Amey.


"Anda akan tahu nanti nona" jawab Helga karena melihat Amey yang sedang menahan tawanya.


Bagaimana tidak tertawa, mulut wanita kecil satu ini begitu lepas dalam mengucapkan sesuatu.


Tingggggg


Pintu lift pun terbuka, ketiga wanita itupun keluar dari lift dan menginjakkan kaki dilantai paling atas gedung ini.


"Aishh, aku butuh toilet Helga" ucap Elena menahan sesuatu yang hendak keluar


"Mari nona" ucap Helga dan menggiring Elena menuju toilet yang ada disana.


Elena masuk sendiri kedalam toilet itu sedangkan Helga dan juga Amey memilih untuk menunggu diluar saja.


Perusahaan Aron cukup aman untuk Elena berkeliaran sendiri tanpa ditemani oleh siapa pun.


"Pak Smith semakin tampan ya, aku berharap hari ini aku bisa menggoda nya dan diundang sebagai penghangat ranjang nya"


"Kau tahu? tubuh kekar tuan Smith begitu digilai kaum hawa" celetuk seorang staf kantor wanita dengan pakaian yang kekurangan bahan.


Didalam toilet itu Elena tidak sendiri melainkan ada dua orang staf wanita yang sedang menambah make up mereka.


Elena juga mendengar pembicaraan dua wanita itu yang terlihat seperti cacing kepanasan, menggelikan sekali.


"Kau benar, aku tidak masalah jika esok harinya aku dilupakan oleh tuan Smith, paling tidak malamnya aku menemani nya" ucap wanita yang satu lagi sembari memoles lipstik merah menyala.


Elena bergidik ngerih mendengar ucapan dua wanita itu "Bisa ku pastikan pemilik perusahaan ini seorang Casanova yang brutal" batin Elena berjalan keluar toilet.


"Anda kenapa nona?" tanya Amey saat melihat Elena seperti habis melihat hantu


"Hehe tidak ada" jawab Elena dan berjalan lebih dulu meninggalkan Amey dan Helga.


Kini ketiganya sampai di depan pintu yang bertuliskan "ROOM CEO SMITH" yang tertera di depan pintu bercat coklat tua itu.


"Apa dia ada didalam?" tanya Elena menoleh kebelakang


Helga dan Amey pun mengangguk, Helga langsung mengetuk pintu itu setelah mendapat sahutan Helga membukanya untuk Elena


"Silahkan masuk nona" ucap Helga mempersilahkan Elena masuk


Elena tahu watak pemilik perusahaan ini yang dikenal Arogan, Playboy dan juga kejam kepada siapa pun tanpa pandang bulu.


"Aku akan menjitaknya jika dia membuat kekacauan diperusahaan raksasa ini" gerutu Elena melangkah masuk.


Helga dan Amey berusaha keras agar tawa mereka tidak pecah karena kepolosan Elena yang tahu cerita tentang Aron tapi tidak tahu wujudnya.


"Permisi tuan" ucap Elena melihat kursi ceo sedang membelakangi nya.


"Sayang" ucap pria yang duduk dikursi itu sembari memutar kursinya menghadap Elena


"Ka..kau, ngapain disini? ini ruangan ceo, ayo pergi jangan buat pemiliknya marah nanti kita bisa dibunuh" ucap Elena menghampiri Aron.


"Sayang aku ada.."


"Sutttt, jangan berisik kau tahu? ceo disini sangat kejam dan juga mesum, ayo pergi dari sini" ucap Elena menarik tangan Aron.


Elena menyeret Aron keluar dari ruangan itu, sedangkan Aron menepuk jidatnya karena wanita nya ini begitu bodoh.


Semua orang menatap Elena yang menarik Aron keluar dari perusahaan itu, semua orang bingung siapa gadis kecil yang berani seperti itu.


Yang berani menyentuh Aron secara sembarangan apa lagi menarik sang empunya perusahaan keluar.


"Smith!" panggil seorang wanita dengan pakaian yang serba mini menghampiri Elena dan Aron yang sedang berdiri di lobby perusahaan.


"Siapa? dimana tuan Smith?" tanya Elena celingukan


"Ck, yang kau tarik tangan nya itu tuan Smith" ketus wanita itu


"Ohhhhhhh"


"Hah? apa? tu..tuan Smith? ba..bagaimana?" ucap Elena terbata karena keterkejutan nya.


"Gemas sekali" gumam Aron megusap pipi Elena.


"Aron!" panggil wanita tadi yang ternyata Melisa.


"A..ahh aku akan tunggu di mobil saja" ucap Elena melepaskan tangan Aron dan berlalu ke mobil milik Aron yang sudah ditandai nya.


"Aron" panggil Melisa dengan nada manja.


Aron tidak memperdulikan wanita itu dan memilih untuk mengejar wanita kesayangan nya yang sudah masuk mobil.


Aron langsung tancap gas meninggalkan pekarangan perusahaan karena ingin mengajak Elena jalan jalan.


Sepanjang perjalanan Elena hanya diam dan menatap keluar jendela, dia masih tidak menyangka dengan pernyataan yang diterimanya.


"Sayang" panggil Aron menggenggam tangan Elena


"Ahhh ya ampun aku bisa gila, kenapa kau tidak memberitahu ku kalau kau itu Aron Jhon Smith?" tanya Elena menatap Aron.


Aron memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, Aron langsung melepas sabuk pengamannya dan mendekati Elena.


"Kau tidak bertanya sayang" jawab Aron


"Aishhh benar juga, tetapi seharusnya kau mengatakan itu semua lebih dulu" ketus Elena yang ntah mengapa merasa kesal.


Aron terkekeh melihatnya "sekarang kan sudah tahu" ucap Aron mengecup kening Elena.


"Aishhh tapi kan terlambat, ahhh ya ampun kenapa harus seperti ini" gerutu Elena mengacak rambutnya.


Cupppp


Aron mengecup bibir Elena sekilas membuat gadis itu mematung karena terkejut


"Yakkkk kau mesum sekali, sudah berapa wanita yang kau kecup hah? sudah berapa wanita yang merasakan bibirmu ini hah?"


Aron terkekeh melihat Elena yang semakin cerewet saat bersamanya, Elena mendorong kasar bahu Aron agar menjauh darinya


"Setelah mengenalmu aku tidak berkencan dengan siapa pun lagi sayang" jawab Aron mengusap tangan Elena.


"Sama saja, ah sudah lah aku ingin makan karena aku lapar" ucap Elena menepis tangan Aron karena kesal.


Aron tersenyum kecil melihatnya dan melanjutkan laju mobilnya, dengan begini Elena menunjukkan bahwa dirinya sudah memiliki rasa pada pria ini.


Seperti nya Elena tidak sadar bahwa dirinya kini sedang cemburu ketika mengingat wanita yang dijumpai saat ditoilet tadi menginginkan seranjang dengan pria gila dan mesum disampinya.


.


.


.


Hay hay gimana? suka? lanjut? wkwk author bercanda, harus tetap lanjut dong ya hehe.


Jangan lupa sehat selalu buat para readers hihi.