
Pagi yang cerah, Elena sudah bersiap dengan menggunakan dress dibawah lutut yang berwarna coklat muda.
Elena akan berkuliah hari ini walaupun diawali dengan perdebatan bersama Aron dan Jonathan.
"Nak, kamu bisa kuliah secara online dirumah" ucap Jonathan yang sedang melakukan sarapan bersama dengan yang lain
"No papi, El mau kuliah di kampus biar ada temen nya" tolak Elena yang tetap gigih dengan keputusan nya.
Aron dan Jonathan pun hanya bisa menghela nafas, gadis ini cepat sekali melupakan sesuatu seperti kejadian tadi malam.
"Papi an.."
"Dahh papi, dahh sayang" Elena berlalu pergi sebelum Jonathan mengatakan akan mengantar nya
Aron hanya bisa geleng kepala melihat tingkah wanitanya yang sangat menggemaskan itu.
"Laporkan semua nya" ucap Jonathan kepada Hugo.
^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^
Elena sudah sampai di kampus dan sedang berjalan bersama Jessica, Dita dan Rasya.
"Kau tidak online satu malaman El, ada apa?" tanya Dita
"Aku lupa ponselku dimana, dan baru tadi pagi ku temukan di dalam tas" jawab Elena
Dita sedikit tidak mengerti dengan jawaban sahabatnya, sedangkan Elena sepertinya benar benar melupakan kejadian tadi malam.
Kini hanya tersisa Jessica dan Elena saja yang berjalan menuju kelas nya berada, walaupun sepanjang jalan mereka selalu jadi pusat perhatian.
"Aku berharap hari ini tidak banyak tugas" gumam Jessica
"Pantas ga lulus lulus" gerutu Elena
"Apa katamu? hey El, apa yang kau katakan tadi hah?" teriak Jessica mengejar Elena
"Aku cukup menjadi mahasiswi teladan di kampus ini El, kenapa kau mengatakan hal seperti itu" ketus Jessica yang tidak Terima
"Berhenti membentakku atau ku robek mulut mu itu" ancam Elena membuat Jessica bergidik ngeri.
Brukkkk
"Awwsss"
"Woy kalau jalan hati hati dong!" teriak Jessica saat seorang Berhoedi yang menabrak sahabat nya berlalu begitu saja.
"Kamu ga papa El?" tanya Jessica membantu Elena berdiri
"Tidak apa" jawab Elena menatap punggung orang itu yang sudah pergi menjauh
"Mata itu? seperti mata yang menatap ku tadi malam tapi apa iya? ah sepertinya halusinasi ku saja, pemilik mata hijau bukan hanya satu orang" batin Elena.
"Ada apa El?" tanya Jessica saat melihat sahabatnya bengong
"Heh? tidak ada, kita masuk" ucap Elena dan berjalan lebih dulu meninggalkan Jessica.
Sesampainya dikelas Elena langsung menuju meja nya, dari jauh Elena bisa melihat ada sesuatu diatas mejanya.
Ternyata ada sebuah kota berwarna putih diatas mejanya, Elena melihat sekeliling sembari memegang kotak itu
"Apa itu?" tanya Jessica yang baru datang
Elena hanya mengangkat bahu nya karena dia juga tidak tahu apa isi didalam kotak ini dan siapa yang memberi
"Siapa yang meletakkan kotak ini dimeja El?" tanya Jessica pada mahasiswi yang duduk didepan Elena
"Aku tidak tahu, saat datang itu sudah ada dan semua orang juga sama, seperti nya pemberinya datang pagi pagi sekali" jawab mahasiswi itu
"Buka saja dari pada penasaran" ucap Jessica memberi solusi.
Elena membuka kotak itu, betapa terkejutnya dia saat melihat isi dalamnya yang ternyata sebuah foto anak kecil yang sedang memegang boneka panda.
Anak kecil itu adalah Elena, Elena seketika mematung melihatnya, dia benar benar sudah membuang foto masa kecilnya lalu bagaimana bisa ada disini?
"Foto siapa El? senyumnya mirip dengan mu" tanya Jessica
"Dia keponakan ku, dia dari kecil bersama ku seperti Aziel jadi mirip" jawab Elena langsung memasukkan lima lembar foto itu kedalam tas nya.
"Hey upik abu" panggil Riska yang baru datang bersama teman temannya
"Kau tuli ya?" ketus Amel yang berdiri disamping meja Elena
"Aku punya nama" jawab Elena datar
"Persetan dengan nama, selesain tugas ku dalam waktu 10 menit" titah Riska memberikan sebuah buku pada Elena
"Cepat" desak Gita
Elena memandang datar buku Riska, Elena langsung berdiri dan menarik rambut Riska hingga terdongak keatas
"Awww lepas!" ucap Riska menahan nyeri di kepalanya
"Kau suka sekali mengganggu kenyamanan orang, kau pikir kau siapa menyuruhku sesukamu?" ucap Elena dengan raut wajah yang sudah berubah
"El jangan El" cegah Jessica yang mulai takut sahabat nya lepas kendali
Elena melepas cekalan tangan nya dari rambut Riska dengan keras hingga hampir saja Riska terjerembab ke lantai jika Gita tidak menahan nya.
Seluruh mahasiswa sekelas mereka tercengang melihat keberanian Elena sebagai mahasiswi baru.
"Dia wanita yang berani dan sedikit menakutkan"
"Dia terlihat seperti wonder women"
"Dia benar benar mengesankan"
Banyak pujian yang Elena dapatkan karena mampu melawan Riska yang sering mengganggu mahasiswi lain.
"Tunggu pembalasan ku" ancam Riska dan berlalu ke kursi nya
"Duduk El, jangan hiraukan mereka" ucap Jessica mencoba memperbesar kesabaran sahabatnya.
Elena berdecak kesal, jika tidak di lingkungan kampus bisa dipastikan dia akan mencakar wajah Riska dengan antek antek nya tadi.
Dari jendela, terlihat ada seorang yang memakai hoodie hitam dengan masker hitam yang sedang menatap Elena dengan mata hijau nya.
Dibalik masker itu, seseorang itu tersenyum melihat keberanian Elena menghadapi curut kecil seperti itu.
"Tunggu sebentar lagi sayang, setelah ini kita akan hidup bahagia bersama, selamanya" gumam pria itu dan berlalu pergi.
Jessica yang tanpa sengaja melihat keluar jendela pun mengerutkan kening nya
"Itukan orang yang menabrak El tadi, kenapa dia seperti memperhatikan El" batin Jessica bingung.
^π^π^π^π^π^π^π^π^
Di perusahaan Smith Groupe, Arin dan Jonathan sedang memandang laptop yang menayangkan rekaman CCTV kampus Elena.
..."Kami tidak bisa menangkap nya tuan, sepertinya dia bukan orang sembarangan" ucap Hugo. ...
Hugo yang mendapat kabar ada orang mencurigakan dari bawahan nya pun langsung bergerak.
Sialnya Hugo bersama pengawal lain gagal mendapatkan orang itu yang diyakini orang yang sama yang mengganggu nona mereka tadi malam.
"Apa El pernah mengatakan pada usia berapa papa nya meninggal?" tanya Jonathan
"Papi kenal sama papa El?" tanya Aron dengan tatapan menyelidik
"Tidak, kita harus mengumpulkan informasi Aron, papi yakin pria ini bersangkutan dengan masa lalu El" ucap Jonathan
"Aku tidak yakin kau sudah meninggal Bram, kita juga berpisah setelah Ani melahirkan putri pertama mu dan saat itu usia Aron masih satu tahun"
"Kau menghilang secara tiba tiba Bram, tapi kini putri bungsu mu yang ada bersama ku, keluarga kalian pecah belah Bram"
"Putri bungsu mu menanggung luka yang begitu dalam, aku tidak tahu peristiwa apa yang menimpa mu dan keluarga mu, kau dimana Bram"
Jonathan menatap keluar jendela, mengingat keakraban antara dirinya dan sahabat lamanya yang tiba tiba menghilang bak ditelan bumi.
Aron menatap curiga papinya tetapi enggan bertanya, Aron bisa merasakan perasaan hampa yang sedang papinya rasakan.
.
.
.
Oke sampe disini dulu ya readers, sehat terus buat kalian.