
Hari ini Elena masih belum juga masuk kuliah karena masih dalam masa cuty yang tak berkesudahan.
Tepat hari ini adalah hari wekend, Elena sedang berada di taman bersama Helga dan juga Amey.
"Wekend nih"
"Emang mau kemana?"
"Gatau deh bosen tapi" jawab Elena sembari menopang dagunya.
"He Tri...." ucapan Zio langsung terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari ketiga wanita itu.
"Hehe ga ada bercanda doang" ucap Zio dan cepat cepat berlalu pergi.
"Helga Amey!" panggil Hugo dari pintu samping
"Kami permisi dulu non" ucap Helga dan berlalu bersama Amey.
Elena membuka ponselnya dan melihat pesan dari sahabat nya yang sedang menghadiri acara keluarga masing masing.
"Aku heran dengan keluarga mereka kenapa hampir setiap wekend membuat acara" gumam Elena.
"Non kami berdua ada tugas dari tuan, jaga diri nona muda ya kami hanya pergi selama satu hari dan besok kembali"
Elena terkekeh dengan laporan yang diucapkan Amey, Elena tahu kedua wanita ini selalu mengkhawatirkan nya.
"Cepat selesaikan tugas kalian dan segeralah kembi, hati hati ya aku akan menunggu kalian" ucap Elena memeluk keduanya.
Interaksi kedekatan Elena dengan kedua wanita kepercayaan Aron pun diam diam diperhatikan Harlina yang melihat nya dari balkon lantai dua.
"Elena bisa sedekat itu dengan algojo wanita Aron, Melisa saja selalu dimusuhin oleh mereka" gumam Harlina terus memperhatikan interaksi ketiga nya yang terlihat sangat akrab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang kerja Aron, Aron dan Jonathan sedang membicarakan tentang perusahaan dan beberapa masalah belakangan ini.
"Hari ini wekend bukan? apakah El tidak mengajak keluar boy?" tanya Jonathan.
"Hitung aja sampai tiga"
"Hah? kenapa sampai tiga?"
"Ya coba aja kalau papi penasaran" ucap Aron yang tetap fokus pada laptop dipangkuan nya.
"Satu, dua ti...."
Ceklekkkk
"Sayangggg" panggil Elena yang tiba tiba masuk kedalam ruang kerja Aron
"Istriku lebih cepat dari dirimu pak tua"
Jonathan menatap kesal kearah putranya, ucapan Aron memang tidak pernah meleset seperti feeling istrinya.
"Hay pi"
"Hay sayang, ada apa kamu kemari?"
"Wekend pi" jawab Elena singkat padat dan jelas.
"Benarkan?" ucap Aron memainkan alisnya
Jonathan memutar bola matanya malas, benar kata Elena bahwa mereka itu satu ditubuh yang berbeda.
"Mau kemana sayang?"
"Mall yuk" ajak Elena
"Dituruti" jawab Aron dan langsung bangkit dari duduk nya.
"Papi ikut?"
"Tentu saja sayang, bersiaplah papi akan bersiap juga" ucap Jonathan dan berlalu lebih dulu.
Aron dan Elena juga berlalu kekamar mereka untuk bersiap karena hari ini cuaca begitu mendukung untuk berpergian.
Melisa yang tanpa sengaja mendengar rencana Aron dan Elena pun langsung berlari menghampiri Harlina di kamar nya.
"Oma"
"Ahh ya ampun ada apa Melisa? kamu buat oma terkejut saja"
"Oma kita harus ikut Aron oma"
"Emang nya kemana mereka? bukankah Aron dan Jonathan sedang sibuk?" ucap Harlina bingung
"Cewe matre itu mengajak Aron ke mall oma, dia pasti akan meminta barang barang mahal nantinya"
Harlina langsung terbelalak dan bangkit dari duduknya, pengaruh Melisa sangat mudah masuk ke kepala Harlina.
"Ayo kita ikut" ajak Harlina dan langsung bersiap begitupun Melisa.
Aron dan Elena sudah selesai bersiap, Elena menggunakan dress diatas lutut yang berwarna peace yang dipadu dengan flatshoes berwarna cream.
Rambut panjang Elena dikuncir kuda menampilkan leher jenjang nya dan ada sebuah jepit kecil berbentuk bunga disamping kanan nya.
Sedangkan Aron menggunakan stelan santai berwarna hitam putih, kemeja hitam dengan celana pendek selutut berwarna putih.
Dengan gembira Elena berjalan menuju pintu utama dengan menggandeng tangan Aron.
"Loh oma?"
"Kenapa? oma ingin ikut dengan kalian" ucap Harlina yang sudah berdiri di teras rumah bersama Melisa yang selalu menggunakan pakaian seksi.
"Tap..."
"Ya sudah ayo oma" ajak Elena menyela ucapan Aron yang ingin menolak.
"Oma sama Melisa naik mobil lain aja sama Zio" ucap Aron menggiring Elena masuk kedalam mobil yang dikemudikan Halid.
"Loh kan seharusnya kita yang semobil sama Aron oma" rengek Melisa
"Sudah ayo yang penting kita bisa mengawasi mereka" ucap Harlina menarik tangan Melisa.
Kedua mobil itu pun sudah melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah mewah yang mereka tinggalin.
Didalam mobil Aron, Elena terus mengoceh membuat ketiga pria itu sedikit kewalahan dengan seribu pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Sayang, kemana Hugo, Helga dan Amey?"
"Mereka ada tugas diluar kota sayang"
"Halid apakah kamu tidak ikut?"
"Tugas saya diperusahaan nona muda"
"Papi apakah papi ingin menikah lagi?"
"Ten.. Ehh pertanyaan nya kok gitu?"
Mereka pun terkekeh mendengar ucapan Jonathan dan celotehan Elena yang tiada henti.
"Sayang, aku heran deh sama keluarga Jessi dan Dita mereka itu setiap wekend selalu mengadakan acara, seperti selebritis saja"
"Mereka hanya punya waktu senggang saat wekend mungkin untuk berkumpul"
"Tapi mereka tidak pernah di rumah sayang, selalu keluar kota atau bahkan keluar negeri, aneh sekali" ucap Elena heran.
"Aku lebih aneh denga dirimu nona, apa yang ada di kepala mu itu hingga tidak ada jeda untuk bicara" batin Halid didalam hati.
Keseruan dimobil Aron tidak sama dengan mobil yang ditumpangi oleh Harlina dan Melisa.
Zio sangat muak mendengar Melisa yang terus membumbuhi Harlina untuk membenci Elena.
"Lihat saja dia pasti akan membeli barang barang mahal oma, jika perlu mall nya akan diminta"
"Kamu benar, oma tidak akan membiarkan itu terjadi" ucap Harlina mengepalkan tangan nya.
"Melisa ini sebenarnya manusia apa bukan sih, jelas jelas dia yang matre" batin Zio yang sudah mulai jengah mendengarnya.
Beberapa saat kemudian mobil mereka pun sampai didepan Mall besar yang sangat terkenal di kota ini.
Elena dan Aron turun dengan bergandengan tangan, pasutri itu menjadi pusat perhatian siapa saja yang melihatnya.
"Selamat datang nona, nyonya dan tuan Smith" sapa pemilik Mall itu.
"Terimakasih paman" jawab Elena ramah dengan senyum ramah pula.
Pemilik Mall itu hanya bisa tersenyum, keluarga Smith terkenal dengan sikap angkuh dan dingin nya lalu apa ini? kenapa menantu Smith sangat tamah dan menggemaskan pikir pemilik Mall itu.
Elena berjalan dengan dihimpit Jonathan dan Aron, kedua pria itu sedikit waspada karena ini tempat umum dan ramai.
Ada Halid dan juga Zio yang menjaga disisi kedua nya, sedangkan Harlina dan Melisa berjalan dibelakang mereka.
Elena terus berjalan hingga dua jam lamanya membuat Melisa dan Harlina begitu geram.
"Kenapa dia melewati toko toko barang branded?" batin Harlina bertanya tanya.
Elena terus berjalan dan tidak berhenti ditoko apa pun, anehnya keempat pria itu tetap mengikuti tanpa menggerutu sedikit pun.
"Sebenarnya apa yang kalian cari? ini sudah dua jam dan kalian terus berjalan?" tanya Melisa yang sudah merasakan betis nya akan patah.
"Pulang saja jika tidak ingin ikut" ucap Jonathan dan tetap mengikuti langkah Elena.
Setelah beberapa saat mereka pun berhenti didepan toko makanan dan cemilan yang begitu lengkap.
"Disini?"
"Iya disini" jawab Elena mengangguk.
"Loh bukannya seharusnya kau membeli pakaian, tas dan sepatu atau bahkan berlian mahal?"
"Ck itu sudah sangat banyak karena Aron membelinya melebihi kebutuhan ku, suamiku begitu boros" jawab Elena sedikit kesal.
"Lalu kau ngapain kesini?"
"Tentu saja membeli cemilan, aku tadi melihat stok cemilan dirumah sudah habis"
"Hanya itu?" Elena mengangguk dengan wajah polos.
"Apakah boleh aku membeli ice cream nanti?"
"Tentu saja sayang, ayo masuk" ajak Aron dan menggandeng tangan Elena memasuki toko cemilan itu.
"Oma" panggil Elena membalikkan tubuhnya.
Harlina yang dari tadi terbengong dengan jawaban jawaban Elena pun terjingkat dengan panggilan Elena.
"I..iya?"
"Oma tidak masuk?"
"Kalian saja, oma akan pulang lebih dulu" ucap Harlina dan berlalu begitu saja membuat Melisa terkejut dan langsung mengejarnya.
Elena dengan girang masuk kedalam toko cemilan itu dan memilih makanan apa yang ingin dibelinya.
"Oma mu pasti terpengaruh oleh Melisa, dia tidak tahu saja otak istrimu hanya di penuhi dengan makanan" ucap Jonathan terkekeh membuat Aron juga tertawa.
.
.
.
🤗💪🏻