
Elena terduduk di tepi ranjang itu, Elena terus memencet tombol rahasia yang ada di gelang nya.
"Disini terlalu banyak camera untuk aku mengirimi mereka pesan" gumam Elena melihat sekeliling.
Elena bukan gadis bodoh terlihat polos saja, wanita itu tahu ada camera tersembunyi disetiap sudut ruangan ini.
Contohnya dipot bunga palsu yang ada diatas nakas, lampu gantung yang ada disamping balkon, lampu hias yang ada disamping sofa.
"Siapa pria itu sebenarnya, aku bisa gila jika terus seperti ini" batin Elena yang terus memencet tombol digelang nya.
Ceklekkk
Pintu kamar pun terbuka, pria yang menculik Elena pun masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Sepulang kuliah kamu belum makan, ini sudah pukul setengah 12 malam, makan lah aku akan menemanimu" ucap Pria itu meletakkan nampan diatas meja.
Elena hanya membuang muka tanpa mau menjawab ucapan pria itu, satu yang ada dikepala Elena saat ini adalah cara bagaimana untuk keluar dari tempat ini.
"Sayang" panggil pria itu menyentuh bahu Elena.
"Jangan sentuh aku" ketus Elena menepis kasar tangan pria itu.
"Aku hanya menyuruhmu makan sayang"
"Aku tidak mau! lepaskan saja aku karena itu kemauan ku!" bentak Elena menatap tajam pria itu.
"Tidak El, aku sangat mencintaimu" tolak pria itu secara halus.
"Kau tidak mencintai ku kau hanya terobsesi dengan ku, apa kau tidak memikirkan perasaan ku? jika kau menyayangi ku seharusnya kau mau melihat ku bahagia"
"Kamu akan bahagia sayang tapi dengan ku bukan dengan pria lain"
"Aku sudah mencintai pria lain dan tidak akan bisa bahagia dengan dirimu, seharusnya kau mengerti itu" ucap Elena dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Seharusnya kau yang mengerti perasaan ku El, aku sudah sangat lama menunggu mu aku mencintaimu setelah aku mengetahui dirimu"
"Kita saja tidak pernah bertemu bagaimana bisa kau mencintaiku lalu menculik ku untuk kau jadikan istrimu, apa kau tahu aku nyaman atau tidaknya berada disini?"
Elena mulai meneteskan air matanya berharap pria ini mengerti dan langsung melepaskan nya.
"Tidak El, aku tidak ingin membahas apa pun dan sekarang makan" ucap Pria itu mengambil nampan makanan.
"LEPASKAN AKU!" bentak Elena yang mulai kehabisan kesabaran.
"Makan El kesabaran ku tidak sebesar yang kau bayangkan" ucap pria itu yang terus mencoba sabar.
Pyarrrr
Elena menepis kasar nampan itu hingga terjatuh dan berserakan dilantai, bahkan piring dan gelas nya saja pecah.
Plakkkk
Pria itu melayangkan satu tamparan keras kepipi Elena hingga pipi putih mulus itu memerah dan sudut bibir nya mengeluarkan darah.
"Terserah pada mu, intinya setelah surat cerai mu dengan Aron keluar kita akan menikah"
Brakkkk
Pria itu menutup pintu dengan keras membuat Elena terjingkat kaget sembari memegangi pipi kanan nya yang terasa perih.
"Lepaskan aku! kau seharusnya mengerti perasaan ku jika mencintai ku, lepaskan aku!" teriak Elena sembari menangis sesenggukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di markas Aron, para pria itu sedang fokus memperhatikan rekaman CCTV saat Elena di pukul dari belakang dan dibawa dengan mobil hitam.
"Siapa pria itu" gumam Abeng
Mereka memang tidak dapat melihat wajah sang pelaku karena memakai penutup wajah.
"Postur tubuh nya begitu familiar" gumam Jonathan yang terus memperhatikan rekaman CCTV itu.
"Aku seperti pernah melihat pria ini" batin Aron terus menajamkan mata nya.
Drttt Drttt Drttt
Ponsel Aron bergetar, dengan cepat Aron meraihnya yang ternyata panggilan masuk dari nomor Amey.
"Katakan!" titah Aron setelah menerima panggilan dari Amey.
Aron mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan Amey dari Seberang sana, para pria yang lainnya terus memperhatikan rekaman CCTV.
"Sial!!"
Brakkkk
Pyarrrr
"Ada apa boy?" tanya Jonathan yang terkejut begitupun dengan yang lainnya.
"Sudah ku duga ini akan terjadi, mati kau hari ini sialan" gumam Aron langsung menyambar jaket kulit nya.
"Siapkan semua pasukan kita berangkat menjemput istriku, Helga dan Amey serta beberapa pengawal bayangan sudah memantau disana"
"Dan ingat satu lagi, bunuh siapa saja yang kalian jumpai dan jangan sampai istriku terluka" titah Aron kepada seluruh bawahnya.
"Kita belum membuat rencana boy"
"Tidak perlu rencana pa, akan ku bunuh dia malam ini juga aku tidak perduli apa pun yang terjadi"
"Siapa yang membawa El, katakan dulu kepada papa Aron" ucap Bram menahan tangan Aron.
"Lucas Zicon, putra pertama Albert Zicon yang telah mati setelah papa tembak"
Deghhhhh
Semua orang langsung terkejut dan terbelalak mendangar jawaban dari Aron, siapa sangka jika pria itu yang telah menculik wanita istimewa mereka.
Brakkkk
Mereka langsung memandang ke arah pintu, seorang pria tua dengan wajah yang sudah menggelap masuk kedalam markas Aron.
Suara ketukan sepatu pentofel membuat suasana dingin di markas ini semakin menjadi lebih tegang.
"Siapa yang berani mengusik cucu ku?" tanya seorang pria tua dengan sebuah cerutu di tangan nya.
Aron mengerutkan kening nya, siapa pria tua yang tiba tiba datang dan memberikan sensasi mencekam seperti ini.
"Pa..paman" gumam Jonathan yang sudah keringa****t**** dingin.
"Dimana cucu ku Bram?"
"I..itu El dicu..."
Plakkkkk
"Apa tugas mu sebagai seorang ayah sehingga putrimu bisa diculik oleh musuh mu hah?" bentak pria tua itu.
"Maaf tuan, anda siapa?" tanya Aron dengan berani nya.
Pria tua itu langsung memandang wajah tampan Aron, dia tersenyum tipis melihat Aron yang sedang memandang nya dengan lekat.
"Arga Agarandra, kakek dari istrimu nak" ucap pria tua itu.
Dia adalah papa kandung Bram yang selama ini tinggal di pemukiman kecil karena sudah menarik diri dari dunia bisnis bersih ataupun hitam.
Kembalinya Arga karena kabar kehilangan cucunya yang sudah sampai ditelinga nya padahal belum 24jam.
Elena adalah cucu Arga yang selalu di wanti keselamatan nya baik itu Anthony ataupun Bram putranya.
"Maaf kakek aku tidak mengenalimu"
"Tidak apa nak, aku kembali hanya untuk mengambil cucu ku kembali dari tangan serakah Areta" ucap Arga dengan rahang yang sudah mengeras.
"Cucu ku beruntung bisa menikah dengan pria yang sangat menyayangi nya seperti dirimu"
"Tidak kek, aku yang beruntung bisa memenangkan hati cucu mu sebelum pria kedua yang dijodohkan dengan Elena" jawab Aron melirik Bram.
Bram berdecak kesal karena mulut menantunya yang sangat bocor itu, sedangkan Arga langsung memandang Bram tajam.
"Mertuamu itu gila, untung saja cucuku hanya menurun kepintaran nya bukan kebodohan nya" ucap Arga
"Kepintaran apa nya? memang pintar tapi jahil nya membuat saya stres tuan besar" celetuk Zio yang langsung jadi pusat perhatian.
Arga terkekeh mendengar penuturan Zio, siapa yang tidak tahu dengan sikap jahil cucu kesayangan nya itu.
"Hehe tapi kita harus menyelamatkan nya bukan? saya sangat marah jika nona muda sampai terluka tuan besar"
"Aku bersyukur cucu ku dikelilingi orang baik seperti kalian" ucap Arga tersenyum tipis.
"Sudah, ayo kita berangkat Sekarang" ucap Aron dan disetujui oleh yang lain.
.
.
.
🤗🥱