My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KEBENCIAN



Jessica pun mempersilahkan keluarga Elena masuk kedalam apartemen yang sangat berantakan itu.


keluarga Elena terkejut saat melihat botol Alkohol berserakan dimana mana, bahkan bau alkohol sangat pekat di ruangan ini.


Dita langsung menutup pintu apartemen Elena takut penghuni lain menjadikan peristiwa ini sebagai bahan tontonan.


suara langkah kaki terdengar dari arah dapur, keluarga Elena yang masih berdiri didekat pintu pun menoleh ke asal suara.


Elena keluar dengan jalan nya yang sempoyongan, tidak lupa sebotol Alkohol yang baru dibukanya ada ditangan nya.


"ck jangan kau buka jendela itu Jessi" gerutu Elena yang berusaha menyeimbangkan jalannya.


tangis Ani pun semakin pecah "Nak..." lirih Ani berusaha mendekati putrinya yang sangat berbeda.


gadis polos yang dulu tidak mengenal minuman keras dan semacam nya kini terlihat seperti gadis liar.


Elena yang mendengar suara yang begitu familiar ditelinga nya pun langsung menoleh.


"siapa yang memberi izin kalian untuk masuk kedalam apartemen ku?" tanya Elena dengan suara parau nya


"nak, kenapa kamu jadi seperti ini?" lirih Ani dalam pelukan suaminya, ayah tiri Elena


"hahahaha, kau bertanya kenapa aku seperti ini? seharusnya aku yang bertanya kenapa kau membiarkan aku hidup" ucap Elena dengan tawa keras.


"nak jangan seperti ini, mama sedih melihat mu seperti ini, dimana putri lembut mama yang dulu" ucap Ani menatap iba putrinya.


Pyarrrrrr


Elena membanting botol alkohol yang ada ditangannya hingga pecah, pecahan botol itu mengenai kaki jenjang Elena yang tidak memakai apa apa.


semua orang terjingkat kaget mendengarnya, ketiga sahabat Elena hanya bisa menunduk sembari menahan tangis mereka.


"berhenti memanggilku putrimu! jangan anggap aku sebagai puti mu lagi! aku hanyalah gadis pembawa sial yang sudah kau lahirkan tanpa sengaja"


"kehadiran ku juga sebuah kesalahan bagimu dan semua orang! aku membenci kalian semua!"


"kau yang meminta kehadiran ku untuk ada didunia ini, tetapi kenapa kau menganggap nya seolah olah aku yang ingin menjadi beban mu hah!!"


keluarga Elena pun sangat terkejut melihat gadis yang tidak pernah berbicara keras, kini sudah meninggikan nada bicaranya padahal kepada wanita yang melahirkan nya.


"kau dan kalian semua, hanya menuntut kesempurnaan kepada ku, ketika aku tidak mampu memenuhi nya maka kalian akan menganggap ku sampah!"


"kalian menuntut kesempurnaan dariku tanpa bertanya apakah aku mampu! tanpa tahu apakah aku baik baik saja menjalaninya!"


"tanpa tahu apakah aku mampu mengikuti jalan yang kalian pilih! aku juga punya pilihan tetapi kalian memendam itu semu!"


tangis Ani dan yang lain pun semakin pecah saat Elena berkata begitu lantang dan juga keras membuat ulu hati mereka berdenyut.


"aku sudah muak menjadi pihak yang kalian salahkan! aku.. aku benar, aku tidak salah, kalian yang salah.. kalian!!" bentak Elena dengan berlinang air mata.


"turunkan nada bicara mu Elena!" bentak Abeng, suami Anggi, kakak ipar Elena.


"DIAMM!! apa posisi mu disini hah? kau hanya sekedar ipar!" bentak Elena dengan mata tajam nya.


"kau harus ingat jika aku suami kakak kandung mu" ucap Abeng menahan emosi didadanya


"berhenti berkata jika kalian adalah keluarga ku! jika kalian keluarga ku kenapa kalian tidak menjamin kebahagiaan ku hah!?"


"disaat seorang gadis kecil ingin bersekolah seperti teman teman nya tetapi dia lebih memilih bekerja demi kalian!"


"apa aku tidak berhak menuntut hah!? tentu saja berhak jika kau menganggap aku sebagai puti mu!!" bentak Elena menunjuk Ani dengan jari telunjuknya.


Elena berjalan kearah meja untuk mengambil ponsel nya yang bergetar, Elena langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"bawakan sekarang juga atau aku akan membunuhmu" ucap Elena dan langsung mematikan panggilan itu.


"kalian lihatlah tempat yang aku tinggali, seperti ekspetasi kalian bukan? kotor menjijikkan dan juga bau?"


"bukankah aku hanya seorang gadis gendut yang pemalas dan juga jelek?" ucap Elena memandang remeh keluarga nya.


tingnong tingnong


pintu apartemen Elena langsung dibuka oleh Dita, terlihat Merry yang sudah berdiri di sana dengan raut cemas.


"aku mohon jangan Merry, dia sudah seperti orang gila di dalam" bisik Dita yang melihat sekantung alkohol ditangan Merry.


merry mengangguk dan meletakkan alkohol itu disamping pintu apartemen Elena, lalu menutup pintu apartemen Elena.


Merry terkejut melihat bentuk apartemen Elena yang berantakan, Merry langsung berjalan mendekati Elena sembari sedikit mengindari pecahan botol kaca.


"apa apan ini Elena?" tanya pria kemayu itu menatap Elena.


"ti..tidak ada El, sudah ha.."


Bughhhhhh


Elena langsung melayangkan bogem kearah wajaha Merry membuat pria kemayu itu tersungkur kelantai.


"kenapa kau membantah ku hah!!" bentak Elena menarik kerah baju Merry dan melayangkan satu bogem lagi kewajah Merry


Sudut bibir dan juga hidung Merry mengeluarkan darah segar, walaupun dirinya seorang pria tetapi tidak berani melawan sifat iblis Elena.


"kau tidak berguna sialan!" teriak Elena ingin menendang perut Merry tetapi ditahan oleh Rasya yang langsung memeluknya.


"aku mohon El, jangan seperti ini kau membuat ku takut El, ini aku El ini Rasya" ucap Rasya dengan berderai air mata.


Dita langsung membawa Merry keluar apartemen Elena, Dita memapah tubuh Merry yang sedikit lemas.


"aku tidak apa, aku mohon jaga Elena aku akan memanggil pihak kebersihan nanti" ucap Merry dan berlalu pergi.


Merry tidak akan pernah berani atau pun mampu melawan Elena, bagi Merry, Elena wanita kuat yang bisa membuat nya tumbang.


sedangkan di dalam Rasya sudah mendudukkan Elena disofa, Rasya mengobati kaki Elena yang terluka cukup parah dengan tangisan.


"bawa mereka pergi, jika kalian berani membawa mereka lagi aku tidak akan segan segan membunuh kalian bertiga" ancam Elena menatap tajam ketiga sahabat nya.


"kalian dengar tidak!!" bentak Elena menggebrak meja membuat semua orang terjingkat.


"ba..baik El aku akan membawa mereka pergi" ucap Dita dan langsung membalikkan tubuh nya.


Dita berjalan menghampiri keluarga Elena yang masih terus menangis melihat Elena yang sedang diobati oleh Rasya.


"ayo semua nya, Dita antar sampai bawah" ucap Dita dengan wajah memohon karena tidak ingin ada penolakan dari mereka semua.


Dita menggiring keluarga Elena keluar dari apartemen Elena, terlihat raut kekecewaan dari wajah mereka.


sesampainya di lantai dasar Dita memeluk Ani dengan ucapan penyejuk hati walaupun tidak memberi pengaruh apa apa.


"jagalah El nak, tante mohon padamu" ucap Ani melepas pelukan nya


"pasti tante, pulang lah" ucap Dita mengalami Ani dan keluarga Elena yang lain.


setelah memastikan keluarga Elena benar benar pergi, Dita langsung berlari masuk untuk menuju apartemen Elena.


sedangkan di lantai atas, pekerja bersih bersih sudah berada disana membersihkan apartemen Elena.


Rasya kembali dari dapur membawa segelas air hangat dan langsung disodorkan kepada Elena.


Elena menatap gelas itu "alkohol yang kau minum terlalu banyak, minumlah ini untuk menghilangkan kadar alkoholnya" ucap Rasya.


Elena langsung menerimanya, Elena menenggak habis minuman yang dibuatkan Rasya untuknya.


tidak butuh waktu lama, Elena merasa perutnya yang terasa diaduk aduk membuatnya merasa sangat mual.


Elena langsung berlari kedalam kamar nya dan langsung menuju kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.


"hoekkkk.. hoekkkk"


Elena terus memuntahkan isi perutnya yang dibantu oleh Jessica dan juga Rasya yang memegang bahu Elena dan memijat tengkuk gadis itu.


seketika tubuh Elena pun lemas, hampir saja jatuh jika tidak ditahan oleh Rasya yang memegang pinggang Elena.


Jessica dan Rasya memapah tubuh Elena keluar kamar mandi dan langsung direbahkan keatas ranjang Elena.


Dita yang baru kembali pun meneteskan air mata melihat sahabatnya begitu terlihat terluka.


Elena langsung tertidur karena tidak memiliki tenaga, karena yang dikonsumsi nya hanyalah alkohol dan minuman ringan.


"kita menginap disini, aku tidak bisa meninggalkan nya sendiri" ucap Rasya mengelus kepala Elena.


jauh dari apartemen Elena, ada seorang pria yang mengepalkan tangan nya saat melihat adegan demi adegan yang Elena lewati dari rekaman CCTV itu.


"tunggulah sayang, ini tidak akan lama"


.


.


.


nex part yak dan jangan lupa dukungan nya hihi