
Dua minggu sudah Elena bekerja di perusahaan Aron, semuanya tampak baik walaupun kerap Elena diganggu karyawan wanita yang merasa iri dengan nya.
Sampai sekarang seisi perusahaan juga tidak tahu jika Elena adalah calon istri dari pria yang mereka perebutkan.
"Sayang" panggil Aron dengan nada manja.
Elena terus diam dan fokus pada pekerjaan nya, Elena telah melakukan itu selama dua jam lebih yang membuat Aron semakin uring uringan.
"Sayang" panggil Aron lagi.
Elena hanya melihat sekilas dan mengalihkan pandangan nya lagi karena memang terlampau sibuk, sedangkan CEO bucin ini malah mengganggu nya.
"Sayangg!" panggil Aron lagi yang sudah lelah didiamkan oleh Elena.
"Bersikaplah profesional tuan Aron Jhon Smith" ucap Elena tegas.
"Ini didalam ruangan kenapa harus profesional" keluh Aron
"Dimana pun kapan pun, kecuali dirumah" jawab Elena.
Brakkkkk
"ARONNN!"
"Ehhh ayam" terkejut Elena hingga hampir saja terjungkal.
"Siapa wanita ini Aron?" tanya Melisa yang datang tiba tiba
"Dia cal...."
"Saya sekretaris tuan Aron tante" jawab Elena
Mata Melisa terbelalak mendengar Elena yang memanggilnya dengan sebutan tante.
"Apa kamu bilang?" tanya Melisa memelototi Elena hingga matanya hampir keluar.
"Apa sih tante?" tanya Elena balik dengan wajah polos nya.
Elena bukan tidak tahu jika Melisa adalah wanita pilihan oma Aron yang akan di jodohkan dengan pria itu.
Hanya saja Elena sudah berprinsip, apa yang ia miliki tidak akan bisa direbut dengan cara apa pun oleh orang lain.
"Cih wanita murahan" gerutu Melisa melengos pergi meninggalkan meja Elena.
Melisa berjalan kearah Aron yang sedang fokus pada berkasnya, Melisa hendak memegang bahu Aron tetapi Aron dengan cepat menghindar.
"Pergi jika tidak ada keperluan lain" ucap Aron dingin tanpa melihat Melisa
"Begini perlakuan mu kepada calon istri mu Aron?" tanya Melisa dengan wajah memelas.
Elena tertawa terpingkal pingkal melihat wajah melisa yang seperti itu, apa lagi dengan make up tebal nya.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Melisa menatap tajam Elena.
"Tante jangan seperti itu, lihat kerutan diwajah tante bertambah" ucap Elena asal.
Sialnya Melisa langsung mengambil sebuah cermin dari dalam tasnya dan melihat wajahnya yang terlihat baik baik saja.
Elena semakin tertawa keras karena Melisa yang bertungkah seperti orang bodoh, Aron diam diam terkekeh mendengar tawa Elena.
"Dasar anak kecil sialan!" bentak Melisa hendak menghampiri Elena.
"Keluar Melisa! aku sedang sibuk bekerja!" bentak Aron membuat Melisa terjingkat kaget dan berlalu pergi.
Elena tersenyum menang kearah Melisa yang menatapnya tajam sebelum menghilang dibalik pintu.
Jam pulang bekerja pun tiba, Elena keluar lebih dulu menuju parkiran sedangkan Aron berjalan beberapa meter di belakang Elena.
Elena hendak berjalan menuju mobilnya tetapi mata Elena menangkap seorang anak kecil yang sedang berdiri ditengah jalan.
Elena juga melihat sebuah mobil yang melaju kencang kearah bocah kecil wanita yang memakai gaun putih itu.
Elena berlari secepat mungkin menuju bocah kecil itu yang memang sedang menangis.
"ELENA!!" teriak Aron saat melihat Elena yang hampir saja tertabrak sebuah mobil.
"Shhhhh awww" Elena terjatuh di pinggir jalan dengan posisi memeluk bocah kecil itu.
"Hiks Hiks" isak bocah kecil itu dalam pelukan Elena.
"Kamu tidak apa nak? mana yang sakit sayang?" cecar Elena menelisik tubuh gadis kecil itu.
"Sayang!" panggil Aron menghampiri Elena.
"Cucuku!" panggil seorang wanita tua yang berjalan cepat kearah Elena.
"Cucu nenek?" tanya Elena menatap wanita tua itu
"Benar non, terimakasih sudah menyelamatkan cucu nenek" ucap wanita tua itu memeluk cucu nya dengan raut khawatir.
"Maaf non nenek tadi sibuk, sekali lagi terimakasih ya" ucap nenek itu dan berlalu pergi.
"Kita ke rumah sakit sayang" ucap Aron saat melihat siku dan lutut Elena yang lecet dan mengeluarkan darah
"Sssshhh jangan ditekan" pekik Elena memukul tangan Aron
"Maaf sayang aku tidak sengaja, kita kerumah sakit" ucap Aron menggendong Elena.
Untung saja keadaan depan perusahaan sudah sepi karena semua karyawan sudah pulang dan satpam juga sudah dipos.
"Tidak, aku tidak apa" tolak Elena hendak turun dari gendongan Aron.
Aron mengeratkan gendongan nya dan berjalan cepat kearah mobil yang sudah disiapkan oleh Halid.
Aron masuk kedalam mobil dengan masih menggendong Elena, bahkan gadis itu duduk dipangkuan Aron.
"Aishh turunkan Aron!" pinta Elena menggerakkan tubuhnya tetapi tangan Aron menahan nya.
"Jangan membangunkan nya jika tidak ingin menidurkan nya kembali sayang" ucap Aron menatap Elena dengan tatapan gairah.
Elena langsung terdiam dan dengan susah payah menelan salivanya, bukan tidak mengerti apa arti perkataan Aron tadi.
Sesampainya dirumah sakit milik Robby, Aron keluar dengan masih menggendong Elena.
"Jangan terlalu lebay Aron" keluh Elena
"Tidak ada yang lebay jika untuk kesehatan mu" ucap Aron yang terus melangkah menuju ruangan Roby.
Sesampainya di ruangan Robby, Aron langsung meletakkan Elena di sebuah brankar yang ada diruangan itu.
"Dia terluka, cepat obati" titah Aron kepada Robby.
Robby menelisik tubuh Elena yang terlihat baik baik saja bahkan gadis itu tersenyum kuda kearah nya.
"Mana yang luka? dia terlihat baik baik saja" tanya Robby menatap Aron.
"Lutut dan siku nya, dia terjatuh" jawab Aron
"Ck dia ini terlalu lebay dok, sudah aku katakan aku bisa mengobatinya sendiri di rumah tetapi dia malah membawa ku kemari" gerutu Elena
Robby hanya terkekeh kecil dan langsung mengobati luka Elena dengan telaten, Elena sedikit meringis saat Robby membersihkan lukanya.
"Lakukan perlahan Robby" ucap Aron dengan nada tidak bersahabat
"Diamlaj, kau mengganggu konsentrasi nya saja!" bentak Elena menatap tajam Aron.
Gadis itu masih kesal dengan sikap posesif Aron yang terkadang terlebih batas, contohnya ya seperti ini.
"Sudah" ucap Robby membereskan alatnya.
"Terimakasih dok" ucap Elena tersenyum manis
"Sama sama ini memang tugas ku" ucap Robby membalas senyuman Elena.
"Ayo kita pulang sayang" aja Aron yang tidak ingin kedua orang ini terus bertatap mata.
Elena turun dengan dibantu oleh Aron, dengan perlahan pria itu membantu Elena berdiri karena lutut nya yang masih terasa perih.
Bahkan Aron menggendong Elena ala bridal style menuju mobil karena tau kalau gadis ini akan sulit berjalan.
Sesampainya dikediaman mereka, Jonathan terkejut saat melihat menantu kecilnya ada dalam gendongan Aron.
"El kenapa nak?" tanya Jonathan khawatir
Aron meletakkan Elena diatas sofa dan menceritakan semuanya tentang Elena yang menyelamatkan seorang anak kecil kepada Jonathan.
Jonathan menghela nafas, terkadang hati selembut bulu bisa membuat diri sendiri celaka fikir Jonathan.
"Jika tidak menyelamatkan nya, aku berdosa membiarkan anak itu mati tertabrak pih" ucap Elena sebelum Jonathan menceramahinya.
Jonathan tersenyum "Kau memang anak yang baik sayang, papi tahu niat mu baik" ucap Jonathan mengelus rambut Elena lembut.
"Hati putrimu sama seperti diri mu Bram, baru ku sadari bahwa kalian sangatlah mirip, seperti aku dan Aron"
"Dimana kamu Bram, tidakkah kau merindukan putrimu ini? aku tahu El membenci mu tetapi kau tetap papa terhebat yang dia miliki"
"Suatu hari nanti aku berharap kau datang menemui putri mu Bram, dia benar benar menyalahkan takdir atas kepahitan dimasa lalunya".
.
.
.
Morningggg hihi.