My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
DIA PUTRIKU



Pagi yang cerah, matahari bersinar seakan menunjukkan bahwa hari ini semua orang harus bahagia bersamanya.


Tetapi tidak di sebuah rumah mewah milik Laras, pagi pagi sekali rumah itu sudah diisi dengan perdebatan yang panjang.


"Dimana putriku?" tanya Ani.


Ani datang kembali berniat membawa Elena pulang bersamanya, tidak peduli gadis itu akan menolaknya nanti.


"Aku tidak tahu" jawab Laras


Hanya itu yang keluar dari mulut keduanya, Ani yang sudah tidak sabar dengan Laras, sedangkan Laras yang masih merahasiakan Elena karena Aron.


"Setelah dia keluar dari rumah sakit kau membawanya kemana?" tanya Ani


"Dia tidak pulang bersama ku, jangan ganggu dia Ani dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang" ucap Laras


"Kau pikir dia tidak bahagia dengan keluarga nya hah?" bentak Ani


"Kebahagiaan apa yang kau beri, kau menganggap gadis itu seperti anak tiri bukan anak kandung mu"


"Kau meletakkan Elena dimana? bukan dihati mu kan? biarkan dia hidup tanpa campur tangan dengan mu lagi" ucap Laras


"Aku ingin meminta maaf kepadanya " lirih Ani


"Meminta maaf? kalian semua menyakitinya, kalian semua tidak pernah mau mengerti perasaan nya"


"Dan sekarang kalian datang setelah gadis kucel dan tidak tahu merawat diri itu berubah menjadi bidadari kecil!" bentak Laras


"Laras, kami tahu kami salah sebab itu kami ingin menemui Elena dan meminta maaf" ucap Deni, papa tiri Elena


"Sebuah kata maaf belum tentu bisa memulihkan luka di hatinya" ucap Laras memandang Deni tajam


"Lebih baik kalian pergi, kami tid....."


"BUNDAAA"


Ucapan Fras terhenti saat suara manja yang memekakkan telinga datang dari pintu utama rumah mewah Fras dan Laras


"Bunda, Ayah, El da..."


Ucapan El terhenti saat mata nya memandang pasangan suami istri yang sedang duduk berhadapan dengan Laras.


Aron yang berdiri dibelakang Elena pun terkejut melihat orang tua gadis kesayangan nya datang kemari.


"E..El, sayang kamu kenapa tidak mengabari bunda nak?" tanya Laras mendekati Elena


Mata Elena dan Ani bertemu, keduanya sama sama membeku, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


Ani memancarkan kerinduan dari matanya karena sudah hampir dua tahun selalu terpisah jarak dengan putrinya.


Sedangkan Elena memancarkan kerinduan yang dipadu dengan kebencian, dia merindukan pelukan ibu kandung nya tetapi rasa benci nya masih berkobar didalam hati.


"Sayang, kita pulang saja dan berkunjung lain waktu" ucap Aron merangkul pinggang Elena dan mengajak gadis itu berbalik pergi


"Tidak, tunggu! jangan bawa putriku" ucap Ani mengejar langkah Elena dan Aron


Ani langsung menggenggam lengan Elena agar gadis itu menghentikan langkahnya


"Tunggu nak, mama rindu sama kamu" ucap Ani memelas


Elena memalingkan wajahnya, rasanya ingin sekali menangis sambil memeluk wanita yang melahirkan nya.


"El, mama tahu mama salah nak, maafkan mama karena perlakuan mama selama ini" lirih Ani masih menggenggam tangan putrinya


"Enam tahun mah, enam tahun kalian memperlakukan aku secara tidak adil, enam tahun kalian menganggap aku seperti babu" ketus elena


"Maafkan mama nak, saat itu mama masih terpuruk karena kematian papa mu" ucap Ani


"Enam tahun mama! kalian fikir aku ga terpuruk? setahun sebelum kematian papa, kalian berpisah buka?"


"Siapa korban atas keegoisan kalian berdua? Aku mah, aku!" bentak elena menepis kasar tangan Ani


"Kalian berpisah dan memilih hidup baru bersama orang lain tapi tidak memikirkan aku? aku ini apa? aku ini siapa?"


"Kalian hanya berfikir kenyamanan dan kebahagiaan kalian sendiri tanpa tahu kebahagiaan aku!"


"Maafkan mama nak" hanya itu yang bisa dikatakan Ani kepada putri bungsu nya


"Maaf? sebuah maaf bisa memutar waktu dan menyembuhkan luka lama ku mah? jawab!" bentak Elena yang sudah berlinang air mata


"Aku tidak melarang kalian untuk membinah rumah tangga baru bersama orang lain, tapi bisakah waktu itu kalian memikirkan perasaan ku?"


"Bisakah kalian waktu itu tidak menyalahkan aku atau pun orang lain atas penderitaaan yang kalian buat sendiri?"


"Bisakah waktu itu kalian lebih memikirkan aku dari pada kebahagiaan kalian? TERLAMBAT BUKAN!" teriak Elena meluapkan emosinya.


Laras menatap pilu Elena, hati Laras berdenyut melihat gadis itu menangis dengan sangat pilu dan menyakitkan.


"Kalian mengatakan setelah kehadiran aku semua nya berubah, semua nya menjadi kacau, lalu kenapa masih membesarkan aku?"


"Seharusnya kalian membunuh aku sedari bayi jika akhirnya kalian memperlakukan aku seperti ini" ucap Elena dengan nafas memburu.


"Tidak nak, kau tetap putri kesayangan mama, jangan seperti ini El" ucap Ani yang sudah sesenggukan


"Anggap saja aku sudah mati, bukankah kau yang dulu menolak kehadiran ku hah!" bentak Elena


Ani menggelengkan kepalanya "Tidak nak, maafkan mama, mama mohon El" ucap Ani memohon kepada Elena.


"Kita pulang sayang" bisik Aron menggenggam tangan Elena.


Elena mengantuk dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Ani yang masih menangis.


"Tidak, jangan bawa putriku, El jangan pergi lagi nak!" teriak Ani yang ditahan oleh Deni agar tidak mengejar Elena.


Seakan tuli, Elena mengabaikan teriakan Ani yang terdengar pilu, didalam lubuk hatinya Elena benar benar merasa bersalah.


Tetapi rasa benci Elena belum juga mereda, rasa sakit nya serasa semakin bertambah saat melihat keluarga nya.


"ELENA!!!" teriak Ani berlinang air mata memandang kepergian Elena bersama Aron


Laras merasa kasihan terhadap Ani, mau bagaimana pun dia yang sebagai wanita pasti tahu rasanya dijauhi anak kandung sendiri.


Tetapi Laras bisa apa? Elena mempunyai sifat yang begitu keras, apa yang tidak maka tidak dan ntah sampai kapan akan berubah.


"An jangan bersedih, beri El waktu untuk melupakan segalanya" ucap Laras memeluk Ani.


Hati Laras luluh melihat kepiluan dimata Ani saat memandang putrinya yang memancarkan aura kebencian kepadanya.


"Dia putriku Laras" lirih Ani dalam pelukan Laras.


"Siapa pria yang bersama El?" tanya Deni kepada Fras


"Aku tidak bisa mengatakan dia siapa, dia akan mengatakan sendiri kepada kalian nantinya" jawab Fras.


^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^


Didalam mobil, Elena terus menangis dalam pelukan Aron sedari tadi bahkan kini mereka sudah hampir sampai rumah.


"Aku merindukan nya tetapi aku juga membenci nya Aron, dia menyakiti ku" lirih Elena dalam pelukan calon suaminya


Aron hanya mengusap punggung Elena, memberikan dada nya untuk dijadikan sandaran gadis yang sedang terlihat lemah ini.


"Kata maaf pun belum bisa meredakan sakit hatiku, semuanya hancur dan mereka menyalahkan aku"


"Dimana letak kesalahan ku? apa aku salah lahir dikeluarga mereka? katakan Aron, apa aku salah? dimana kesalahan ku" ucap Elena semakin deras air matanya


"Suttt, kamu tidak salah sayang mereka yang salah, jangan menyalahkan dirimu lagi" ucap Aron mengecup kening Elena.


"Rasanya sangat bersalah aku datang terlalu lama ke kehidupan mu El, seandainya pertemuan kita terjadi lebih awal mungkin kau tidak akan seperti ini"


"Maafkan aku sayang" Batin aron mengecup kening Elena lagi dan mengusap air mata yang membasahi pipi kekasihnya.


.


.


.


Next Part readers.