
Laras dan Fras terus saja mencari Elena, sudah tiga minggu lamanya gadis itu tidak juga ditemukan.
Bahkan pihak kepolisian hampir menyerah tetapi Fras terus mendesak mereka bahkan sampai mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
"El kamu dimana nak, bunda sangat merindukan mu" lirih Laras yang sedang berada di apartemen Elena.
Laras memang meminta Fras untuk mengunjungi apartemen Elena karena wanita itu sangat merindukan putri angkatnya.
"Pulang lah El, beri kabar bunda walau hanya satu pesan" lirih Laras menatap foto Elena yang ada ditangan nya.
Laras dan Fras tidak hanya berdua di apartemen itu, disana juga ada ketiga sahabat Elena dan jangan lupakan Clara.
Dita berjalan kearah balkon, tempat dimana dirinya sering duduk berdua dengan Elena sembari meminum soda bersama.
Air mata Dita jatuh membasahi pipinya, gadis kecil itu begitu berarti dihidup Dita, semenjak kedatangan Elena hidup Dita semakin sempurna.
"Kembalilah El, semua orang mencarimu" lirih Dita menatap kosong jalanan kota yang terlihat ramai.
Karena mengetahui Dita begitu terpuruk, Clara mendekat dan langsung memeluk tubuh Dita yang langsung terguncang.
Rasa kehilangan itu semakin besar karena Elena juga tidak ditemukan, barang terlihat sedikit pun.
"Bagaimana keadaan El sekarang Clar? apa dia baik baik saja?" isak Dita dalam pelukan Clara.
Clara juga menitikan air mata, pasalnya setiap bertemu pria kecil kesayangan Elena maka bocah itu akan bertanya dimana ibu keduanya.
Clara sangat merindukan masa masa dimana dirinya sedang bercanda tawa bersama Elena, kehangatan wanita itu seketika hilang bersama kehilangan dirinya juga.
"Kita harus berdoa yang terbaik untuk dirinya, aku yakin El baik baik saja" ucap Clara yang harus terlihat lebih kuat.
Brukkkk
Semua orang terkejut saat mendapati Laras yang sudah pingsan, Fras langsung berlari menghampiri istrinya.
"BUNDAA!!" teriak Dita dan langsung menghampiri Laras.
Fras mengangkat tubuh Laras dan memindahkan nya kedalam kamar Elena agar lebih nyaman.
Kesehatan Laras semakin memburuk setelah kabar kehilangan Elena, wanita paruh baya itu tidak lagi memperhatikan dirinya.
"Bunda bangun bunda" lirih Dita menggenggam tangan Laras, sedangkan Fras menelpon dokter agar datang ke apartemen itu.
Di Mansion.
Elena sudah berada di dalam kamar nya sembari membaca buku novel yang ada ditangan nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tiba tiba ada seseorang yang membuka pintu kamar.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Aron menghampiri Elena
Elena hanya menggeleng dengan mata yang terus terfokus pada buku ditangan nya, Aron menghela nafas dan langsung merebut buku itu.
"Aishhh kembalikan" Elena mencoba merebut buku itu dari tangan Aron.
Aron melemparkan buku itu dan langsung menindih tubuh Elena membuat Elena terbelalak kaget.
"Tidur atau aku yang membuat mu tertidur" ancam Aron menatap tajam Elena
Elena menelan salivanya dengan susah "a..aku belum mengantuk" tolak Elena mencoba mendorong tubuh Aron.
Aron langsung menahan tangan Elena dan meletakkan nya diatas kepala Elena, Aron langsung menyambar bibir ranum yang ada di hadapan nya.
Elena terkejut bukan main dengan tindakan Aron, ingin meronta tapi kuncian tubuh Aron begitu kuat.
Aron terus memperdalam ciuman nya, hingga akhirnya Elena hampir kehabisan nafas baru Aron melepaskan ciuman nya.
"Ka..kau mesum sekali" gerutu Elena yang tidak Terima.
"Tidur atau ku bakar semua buku yang ada dalam perpustakaan itu" ancam Aron masih menindih tubuh Elena.
"I..itu buku mu, kau yang beli jika kau bakar aku tidak rugi" celetuk Elena yang juga keras kepala
"Benar juga, kalau begitu akan ku lanjutkan yang tadi jika kau tidak tidur" ancam Aron dengan kerlingan mata mesum nya.
"Ti..tidak, aku akan tidur pindahlah dulu kau begitu berat" ucap Elena yang sudah luluh dengan ancaman Aron.
Aron turun dari tubuh Elena dan berbaring di samping gadis itu, Aron langsung menarik Elena kedalam pelukan nya
"Tidurlah" ucap Aron yang mengelus punggung Elena seperti seorang ayah yang ingin menidurkan putri kecilnya.
Elena pun menyembunyikan wajahnya kedalam dada bidang milik Aron, harum tubuh Aron seperti obat tidur untuk Elena.
Tidak butuh waktu lama Elena sudah tertidur dengan nyenyak, Aron tersenyum melihat wajah polos itu.
Aron dengan perlahan melepas pelukan nya dan langsung turun dari ranjang menuju pintu kamar mereka.
Diluar kamar sudah menunggu Halid bersama Zio yang sudah berdiri sekitar sepuluh menit yang lalu.
Diruang bawah tanah mansion Aron, Hugo bersama beberapa pengawal lainnya sedang mengelilingi seorang pria paruh baya yang diikat diatas kursi kayu.
"Kalian semua tuli hah? lepaskan aku brengsek!" maki pria itu terus yang terus meronta
"Dengan alasan apa aku melepaskan mu?" ucap Aron yang muncul dari kegelapan
"A..Aron" ucap pria itu dengan mata yang hampir keluar
"Hay Yuan, apa kabar mu?" sapa Aron dengan seringai iblis nya
"Le..lepaskan aku Aron" ucap pria bernama Yuan dengan keringat dingin yang mengucur deras.
"Ck melepaskan mu? setelah kau mengusik wilayah ku?" ucap Aron menatap tajam Yuan
"A..aku tidak tahu, me..mereka anak buah ku mengedar tanpa seizin ku" kolah Yuan masih berusaha membela diri.
Yuan berhasil mengusik wilayah Aron dengan cara mengedar obat terlarang di beberapa bar milik Aron diluar kota ini.
"Benarkah? lalu kenapa terus berlanjut dan menghasilkan banyak uang?" tanya Aron tertawa sinis
Yuan tidak bisa berkutik lagi, salah nya yang berani mengusik Mafia terkejam didunia bawah tanah ini.
Aron menengadahkan tangan nya dan menerima sebuah belati kecil dari Hugo, mata Yuan langsung terbelalak melihatnya
"Ja..jangan Ron, jangan sakiti aku" mohon Yuan dengan tubuh bergetar hebat karena takut
"Kita hanya bermain main saja" ucap Aron menggulung tangan kemeja putih yang dikenakan nya.
Selain berpakaian hitam, Aron juga suka memakai pakaian putih saat mengeksekusi musuhnya.
Noda darah dari musuhnya membuatnya merasa puas dengan cara menyaksikan rasa sakit yang mereka alami.
Sretttttt
Aron mengukir wajah musuhnya dengan belati kecil dengan genggaman yang diukir dengan bentuk naga itu.
"Ahhhhhh hentikann" teriak Yuan merasakan sakit yang sangat luar biasa di bagian wajahnya.
Tidak sampai disitu, Aron mencungkil paksa bola mata Yuan hingga menggelinding ke lantai.
Aron mencabik cabik tubuh Yuan dengan belati miliknya, semua orang melihatnya dengan bangga kecuali Halid yang sudah terlihat pucat.
Setelah merasa puas Aron pun berhenti, Aron mengembalikan belati itu kepada Hugo agar dibersihkan dan di simpan kedalam rumahnya kembali
"Selesaikan" titah Aron berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
Jangan tanya Halid ya, pria itu sudah kembali kerumah utama dengan keadaan mual hebat.
Aron masuk kemansion dari pintu dapur, karena paviliun menuju ruang bawah tanah berhadapan dengan pintu belakang.
Langkah Aron seketika terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan nya, Aron benar benar takut saat ini.
"Sayang kamu belum ti..."
Brukkkk
Elena langsung pingsan dan jatuh ke lantai saat Aron belum selesai dengan ucapannya.
Aron menghembuskan nafas lega dan langsung menggendong Elena untuk dibawa kekamar Elena.
Aron menelpon bik Minah agar datang kekamar nya untuk mengganti pakaian Elena yang terkena noda darah dari pakaian nya.
"Bersihkan dirinya bik jangan sampai tercium bau anyir darah dan kenakan pakaian yang sama, saya mandi dulu" ucap Aron dan berlaku kekamar mandi.
Pagi harinya, Elena mulai membuka matanya dan melihat wajah tampan yang sedang tertidur sembari memeluk nya.
"Tadi malam dia terlihat mengerikan, apa hanya mimpi?" tanya Elena menatap pakaian yang mereka kenakan sama seperti yang dilihatnya sebelum tidur
"Pakaian nya sama, ahh seperti nya aku mimpi" gumam Elena melepaskan pelukan Aron dan berlalu kekamar mandi.
Aron yang sebenarnya sudah lebih dulu bangun pun menghela nafas, Aron berpura pura tidur untuk melihat apa rekasi Elena pagi ini.
Dan kini Aron bisa bernafas lega karena Elena berfikir apa yang terjadi tadi malam pasti hanyalah sebuah mimpi.
.
.
.
Mimpi ya gays ya mimpi wkwk
jangan lupa bahagia hihi.