My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
PENGAKUAN CINTA



Malam yang dingin dan berangin, Elena sedang berdiri diatas balkon lantai empat sembari memandang purnama yang sedang bersinar.


Gaun tidur berbahan satu selutut yang berwarna putih itu sedikit berterbangan karena diterpa angin malam.


"Belum tidur non?" tanya bik Minah mendekati Elena


"Apa aku harus terus membenci sinarnya bik? tapi jika tidak itu tidak mungkin karena dia pergi disaat aku membutuhkan nya" ucap Elena menatap rembulan itu.


"Jangan membencinya non, dia selalu menemani malam nona walaupun tidak terlihat" ucap bik Minah yang ikut menatap rembulan.


Elena menghembuskan nafas kasar seakan mencoba melepaskan beban berat yang membuat dadanya sesak.


"Apakah harus ku katakan bik?" tanya Elena menatap bik Minah


Bik Minah tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya, Elena tersenyum dan langsung memeluk bik Minah.


"Aku akan menemuinya" ucap Elena dan berlalu pergi.


Elena turun ke lantai dasar menggunakan lift, sesekali kali Elena menarik nafas karena gugup.


"Dimana Aron?" tanya Elena pada salah satu pengawal yang sedang berjalan menuju dapur


"Ada di taman samping nona" jawab pengawal itu.


Elena pun langsung bergegas menghampiri orang yang sedang dicarinya, sesampainya disana Elena melihat Aron tidak sendiri.


Aron ditemani tiga pria kepercayaan nya, mereka tampak sedang bercengkrama ringan.


Perlahan Elena berjalan mendekati mereka, Halid yang pertama melihat Elena pun langsung berdiri dan membungkukkan badan nya.


"Selamat malam nona" ucap Halid dan diikuti dua orang lainnya.


Aron yang duduk membelakangi Elena pun memutar tubuhnya, Aron tersenyum ke arah Elena dan berjalan mendekati gadis itu.


"Kenapa belum tidur hem?" tanya Aron memakaikan jaket nya ketubuh Elena.


"Aku belum mengantuk" jawab Elena dan berjalan mengikuti Aron


"Kami permisi kembali lebih dulu tuan, nona" ucap Hugo dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


Elena dan Aron duduk di bangku taman yang ada disana, Elena terlihat gugup harus memulai dari mana.


"Ada yang ingin diceritakan?" tanya Aron menatap wajah cantik Elena yang tanpa polesan make up


"Heh? ti..tidak ada, a..aku akan kembali tidur" ucap Elena melepas jaket Aron dan langsung berdiri.


Saat Elena ingin melangkah Aron langsung menarik pinggang gadis itu hingga jatuh kepangkuan nya.


"A..apa yang kau lakukan?" tanya Elena gugup, jantung nya berdebar saat berada di dekat Aron


"Katakan sayang, aku sudah menunggu cukup lama" ucap Aron membuat mata Elena terbelalak.


"Baiklah, turunkan aku" ucap Elena dan turun dari pangkuan Aron


"Sebelum aku jujur tentang perasaan ku, kau harus mendengar cerita ku dulu" ucap Elena dan Aron pun setuju.


Elena menghembuskan nafas kasar, mata Elena beralih kearah rembulan yang sangat bersinar malam ini.


"Kau lihat itu Aron?" ucap Elena menunjuk rembulan itu dengan jari telunjuknya, Aron pun mengikuti arah pandangan mata Elena.


"Aku sangat membenci nya, aku tidak suka melihatnya karena setiap kali aku bersedih dia tidak ada untuk menerangi malam ku"


"Aku harus mulai dari mana? semuanya terlihat menyakitkan untuk diungkapkan apa lagi harus dirasakan kembali"


"Kau tahu jika Tuhan sedang mempermainkan ku? kau tahu hidupku dipermainkan oleh takdir seakan aku ini boneka?"


"Bisa aku marah? bisakah aku melawan takdir? jika bisa aku lebih memilih untuk tidak ada didunia ini"


Aron hanya diam sembari menatap wajah Elena, Aron ingin Elena mengungkapkan segala isi hatinya dan meluapkan emosinya.


"Semuanya sudah hancur Aron, kau tahu, dulu ada seorang gadis kecil yang bermimpi ingin menjadi seorang putri?"


"Ada seorang gadis kecil yang ingin hidup bahagia di istana nya bersama keluarga nya, tetapi itu semua hanya mimpi"


"Jika anak perempuan lain menganggap ayah nya sebagai cinta pertama nya, maka aku menganggap papa ku sebagai patah hati terbesar ku"


"Dia bukan hanya berhianat atas cinta pertama ku, tetapi dia juga berhianat atas hati mama ku"


"Semuanya semakin berantakan setelah kepergian nya, seorang pria datang dan ingin menjadi raja di istana ku, dia baik ku akui"


"Tetapi penjahat nya keluarga kandung ku sendiri, setelah kepergian papa untuk selamanya mereka mengatakan akan selalu menjaga ku"


"Mereka mengatakan akan selalu membahagiakan aku, tapi mana? apa yang ku dapat? luka bukan?" lirih Elena meneteskan air mata


"Segalanya semakin hancur ketika aku kenal dengan yang nama nya cinta, cinta tidak memberi aku kebahagiaan tetapi kesusahan"


"Para pria yang menebar cinta palsu di hidupku memainkan hati ku, mereka menjadikan aku layaknya boneka yang bisa dimainkan"


Aron ingin sekali memeluk Elena yang menangis semakin deras, tetapi ditahan karena Aron ingin Elena melepaskan segalanya.


"Aku ga minta untuk ada didunia ini Aron, tapi kenapa kehadiran aku seakan sebuah kesalahan bagi mereka?"


"Jika aku bisa memilih aku ga akan pernah mau lahir di keluarga seperti mereka yang tidak bisa bersikap adil"


"Cinta pertama ku menghianati ku, keluarga ku menganggap aku seperti sampah, pria dimasa lalu ku menganggap ku bahan mainan"


"Lantas dengan alasan apa kau mencintai ku disaat semua orang menganggap aku hanya sebutir debu?" tanya Elena menatap Aron.


"Aku tidak punya alasan ketika aku mencintai mu, satu yang ku tahu, bahwa kamu memang untukku" jawab Aron.


"Aku bukan wanita baik Aron" ucap Elena berdiri membelakangi Aron


"Aku bukan dari keluarga terhormat seperti mu, aku bukan wanita baik baik seperti apa yang kau harapkan"


"*Kau harus tahu Aron, jika pria lain mengatakan bahwa aku hanya lah seorang jal*ng maka mereka benar*"


"Masa depanku hancur Aron, segalanya jatuh ditangan pria yang salah, aku membenci diriku sendiri!" ucap Elena semakin berderai air mata


"Aku tidak pantas bersama mu Aron, aku hanya wanita kot..."


Deghhhhh


Aron langsung memeluk tubuh Elena membuat gadis itu mematung karena terkejut


"Aku tidak menuntut dirimu akan jadi seperti apa, dimata ku kau tetap sempurna bagaimana pun keadaan nya" ucap Aron mengecup kening Elena.


Tangis Elena pun pecah mendengar ucapan Aron, satu satunya pria yang menghargainya sebegitu berharga


"Aku mencintaimu" ucap Aron mengusap air mata Elena


"A..aku juga mencintaimu Aron" lirih Elena dan langsung membalas pelukan Aron


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon tetaplah seperti ini, aku akan terus membutuhkan mu" lirih Elena dalam pelukan Aron


"Tidak akan ada yang berubah dan tidak ada yang bisa merubah, kamu milikku dan akan selamanya begitu, love" ucap Aron mengcupi kening Elena.


"Terimakasih Tuhan, kau sudah tidak menghakimi ku kali ini, teruslah seperti ini jangan merubah hatinya" batin Elena memeluk tubuh Aron.


Di lantai dua ada 6 orang yang sedang tersenyum melihat sepasang kekasih itu berpelukan dengan hangat.


Yap mereka adalah bik Minah, Hugo, Halid, Zio, Helga dan juga Amey, mereka juga meneteskan air mata karena peristiwa ini.


Elena sudah berhasil mengungkapkan apa yang di pendam nya, Aron juga berhasil memperbesar rasa sabar nya hingga akhirnya mendapat balasan yang manis.


Semua penghuni rumah baik itu pengawal maupun pelayan juga menangis bahagia karena penantian Aron tidak sia sia.


.


.


.


Like dan comment nya jangan lupa readers untuk semangatin author hihi.