My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
MENEMUI DIAM DIAM



Laras, Fras dan juga Roy, yang mendengar keadaan Elena yang tidak baik baik saja langsung datang ke apartemen Elena disore hari.


apartemen Elena sudah bersih dan wangi seperti semula, sang pemilik juga masih dalam keadaan tidur.


"jangan sakit ya nak, bunda khawatir" lirih Laras mengusap kepala Elena dengan sayang.


Laras sudah menangis tadi ketika ketiga sahabat Elena bercerita bagaimana runyam nya keadaan saat keluarga Elena datang.


bahkan Jessica menunjukkan rekaman CCTV yang terhubung ke laptop dan ponsel milik Elena.


hati Laras begitu sakit mendengar ucapan demi ucapan yang dilontarkan Elena untuk keluarga nya.


Laras begitu geram melihat keluarga Elena yang baru datang setelah setahun lamanya putri kecil ini pergi dari istana nya.


"mama jangan menangis, El akan marah jika bangun dan melihat mama menangis" ucap Fras yang dada nya juga sesak melihat putri angkat nya seperti ini.


wajah pucat itu membuat hatinya teriris, lengan dan kaki Elena juga dibalut perban karena serpihan kaca mengenai tubuhnya.


rasa sakit tidak dirasakan Elena karena efek alkohol dan juga emosi yang begitu meluap dalam dirinya.


"papa tidak ingin kamu seperti meta nak, tetapi hidupmu begitu kejam untuk kau lupakan dengan cepat" batin Fras mengelus tangan Elena.


Roy hanya melihat Elena dari ambang pintu, hati Roy juga sakit melihat wanita pujaannya terluka karena keluarga wanita itu sendiri.


Dua hari pun berlalu, keadaan Elena masih dalam kondisi yang tidak baik, Elena mengalami demam tinggi setelah hari itu.


tetapi Elena sangat melarang keras sahabat nya yang ingin terus menginap di apartemen nya, karena Elena butuh ketenangan sesaat.


Rasya pun sudah mensterilkan semua sudut apartemen Elena dari alkohol dan minuman soda, bahkan isi kulkas diganti jus dan juga susu.


Malam hari yang dingin, Elena sedang berdiri di teras balkon apartemen nya, matanya menatap lampu lampu jalanan kota.


tidak ada penyesalan sedikit pun diwajahnya kala mengingat dirinya yang membentak bahkan memaki ibu kandung nya.


rasa benci sudah menjalar pada dirinya, bahkan rasa iba pun sudah tidak ada saat melihat linangan air mata wanita yang melahirkan nya.


"cihh, kalian terlalu dramatis" gumam Elena terkekeh mengingat wajah bodoh keluarga nya.


Elena berbalik dan berlalu kearah sofa, jalannya sedikit pincang karena luka di kakinya yang tak kunjung sembuh.


"shitt!! kaki sialan ini kenapa tidak sembuh sembuh" gerutu Elena mengutuk kaki nya sendiri.


"Aziel, mimi rindu kamu nak" gumam Elena menatap foto Aziel yang ada di ponselnya.


Setitik air mata Elena jatuh dari sudut mata indah itu, Elena sangat merindukan bocah tampan yang dulunya selalu menghiasi harinya itu.


"mimi bertahan hanya untuk mu nak, jika nanti kau sudah besar dan bertanya kenapa mimi tidak berkumpul dengan mereka mimi harap kamu mengerti"


"mimi tahu kamu anak yang pintar sayang, teruslah tumbuh menjadi pria yang baik sayangilah mimi karena hanya kamu yang mimi punya nak"


Elena terus berdialog sembari menatap foto Aziel, hingga tanpa terasa dia tertidur disofa itu tanpa menutup pintu balkon apartemen nya.


Seorang pria yang berpakaian serba hitam, memakai masker hitam dan juga topi yang menutupi wajahnya.


hanya terlihat mata birunya yang indah, dia berjalan menyusuri lorong apartemen lantai tujuh menuju apartemen seseorang.


saat sampai didepan sebuah pintu, pria itu menekan sandi pintu apartemen yang ada didepan nya.


pintu apartemen pun terbuka, tanpa sepengetahuan siapa siapa pria itu masuk dan langsung mengunci kembali pintu apartemen itu.


pria itu menatap seorang gadis yang sedang tertidur diatas sofa tanpa selimut dan angin malam menusuk tubuhnya.


"ck kau tidak menyayangi dirimu" gumam pria itu melepaskan jaket, masker dan topi nya.


terlihat lah wajah tampan yang terpampang nyata disana, pria itu adalah Aron, Aron memang mengetahui sandi apartemen Elena karena gedung ini miliknya.


ketika mendengar kabar bahwa Elena demam Aron begitu panik, bahkan 24jam memantau CCTV apartemen Elena.


Elena menggeliat dan hampir saja terjatuh jika Aron tidak menangkap tubuhnya yang menggelinding kesamping.


"kau nakal sekali sayang" ucap Aron pelan dan langsung menggendong Elena menuju kamar Elena.


Aron membaringkan tubuh mungil itu keatas ranjang dengan sangat pelan, seakan akan itu barang yang sangat mahal.


Aron juga ikut berbaring di samping Elena dan memeluk tubuh gadis itu, wajah Elena tenggelam didada bidang Aron.


"hufff, melihatmu sakit seperti ini membuatku tidak tenang sayang, bersabar ya sebentar lagi aku akan menjemput mu"


"bertahanlah dengan keadaan seperti ini, kau tidak sendiri sayang tidak akan ada orang yang menyakitimu karena aku akan menjaga mu" gumam Aron


Aron mengecup kening Elena dan memandangi wajah cantik yang masih terlihat pucat itu.


Aron menghela nafas, rona merah diwajah Elena terlihat samar, wajah pucat itu membuatnya sangat sakit.


Aron membelai kepala Elena dengan lembut "maaf ya sayang membuatmu menunggu" gumam Aron dan ikut tertidur disamping Elena.


Matahari sudah mulai menampakan sinar nya, cahaya nya menerobos masuk dari sela sela gorden kamar seorang gadis.


mata gadis itu mengerjap karena sinar matahari yang mengenai pelupuk mata nya, dia menggeliat di bawah selimutnya.


"ehh.. kok aku disini? bukannya tadi malam aku disofa?" gumam Elena bingung dengan posisi tidur nya saat ini.


Elena bangkit dan terduduk diatas ranjang nya, Elena mengusap wajahnya dengan lembut.


"apa Jessica yang memindahkan ku ya? tapi kan sandi apartemen udah aku ganti mana mungkin dia bisa masuk"


Elena memang mengganti sandi apartemen nya dan belum memberitahu para sahabat nya sampai dia merasa lebih baik nanti.


"tapi aku merasa tidur ku nyenyak sekali" gumam Elena turun dari ranjang menggunakan alas kaki bulunya.


Elena keluar dari kamar dan tidak mendapati siapa pun, bahkan semua nya masih dalam keadaan sama seperti tadi malam.


"ponselku dinakas, apa aku memang tidur di kamar ya tapi aku lupa" batin Elena menatap sekeliling.


Elena langsung teringat sesuatu, Elena masuk lagi kedalam kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Elena membuka rekaman CCTV tadi malam, dan benar saja semuanya seperti yang Elena fikirkan bahwa dia memang berada di kamar


"wahhh seperti nya aku sudah mulai gila, apa kadar alkoholnya belum hilang ya" gumam Elena menggelengkan kepalanya.


jejak Aron seakan memang tidak ada di rekaman CCTV Elena, Aron sudah mengatur semuanya secara matang sehingga Elena tidak mengetahui keberadaan nya.


tubuh Elena membaik juga karena Aron yang memberikan obat yang tidak diminum Elena melalui ciuman.


terlihat konyol memang tapi CEO arogan itu sudah sangat bucin kepada gadis kecil kesayangan nya.


Aron juga pergi lima menit sebelum Elena bangun, Aron memang mengetahui apa saja yang dilakukan Elena.


apa yang Elena sukai dan tidak sukai, bahkan sampai hel kecil sekalipun Aron mengetahui nya.


Elena memutuskan untuk mandi tanpa memperdulikan kejanggalan yang dirasakan nya.


dia berfikir yang di CCTV itu memang benar dan menepis pertanyaan demi pertanyaan yang sedang berenang di kepalanya.


.


.


.


cieee yang nyaman dipeluk calon suami walaupn keadaan tidak sadar wkwk.


staytune dan jangan lupa dukungan nya hihi