My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
FLASHBACK 10 TAHUN YANG LALU



Seorang gadis kecil tengah menangis dalam kamarnya karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.


Gadis yang masih berumur 9 tahun itu hanya bisa menangis tanpa tahu harus melakukan apa agar orang tuanya berhenti bertengkar.


"Kau berani berselingkuh saat aku bekerja hah?" bentak seorang pria tampan bermata abu abu


"Kau mengatakan aku selingkuh? lalu apa yang kau lakukan bersama wanita itu dikamar hotel hah?" bentak wanita yang langsung melempar beberapa foto.


Mereka adalah orang tua Elena, Bramasta Agarandra dengan Anita Claudia, pertengkaran mereka sudah berlangsung satu jam lamanya.


Perdebatan yang diawali dengan kepulangan Bram yang mendapat kabar bahwa istrinya berselingkuh membutanya sangat murka.


Sedangkan Ani berselingkuh karena ingin membalaskan dendam sakit hatinya kepada Bram yang sudah berselingkuh lebih dulu.


"Kau tidak mengerti! kita berjauhan jadi siapa yang akan memuaskan nafsuku hah?" ucap Bram yang tidak Terima.


"Hanya nafsu mu semata yang kau pikirkan tanpa memikirkan perasaan ku? sedangkal itu rasa cinta mu kepada ku?"


"Sudah berusaha ku tahan dan menunggu hingga kau berubah, tapi apa? kau semakin menjadi jadi seperti ini!" bentak Ani.


"Kakak, Abang" lirih Elena kecil yang mengingat kedua saudara kandung nya.


"Lalu seperti ini balasan mu hah?" tanya Bram


"Lalu aku harus seperti apa? seperti orang bodoh dan berpura pura tidak tahu bahwa suamiku berselingkuh?" jawab Ani


"Aku juga bekerja disana, apa kau tidak mau hidup kita seperti dulu?" tanya Bram


"Untuk apa hidup bergelimang harta jika kau menghianati aku, untuk apa harta benda mewah tapi kau menduakan aku!" jawab Ani


"Jadi apa mau mu?" tanya Bram


"AKU MAU KITA PISAH!" jawab Ani lantang


Deghhhhh


Seperti tersambar petir, Elena yang sudah mengerti prahara sebuah hubungan pun terkejut mendengar jawaban mama nya.


"Oke jika itu mau mu, aku akan membawa Elena bersama ku" ucap Bram berlalu kekamar Elena.


Elena memang sedari kecil sudah lebih dekat dengan papa nya dari pada mamanya, tetapi siapa yang tahu siapa yang akan dipilih gadis kecil itu.


"Papa" lirih Elena memeluk Bram dengan linangan air mata


"El ikut papa yuk nak, kita akan jalan jalan" ucap Bram mengusap air mata putri kesayangan nya.


Elena yang sebagai putri bungsu di rumah pun selalu dimanja oleh kedua orang tuanya dan juga kedua saudara kandung nya.


Ani masuk kedalam kamar putrinya dan menatap sendu netra coklat indah yang sedang memerah itu.


"Ayo nak, biar papa kemas pakaian Na yah" ucap Bram hendak mengeluarkan koper putrinya


Elena menahan tangan Bram dan menggeleng "Na mau sama mama pah" ucap Elena berlari memeluk Ani.


Ani membalas pelukan putrinya sembari meneteskan air mata.


Bram tidak bisa memaksa putrinya, sedekat apa pun Elena sedari kecil dengan nya jika seperti ini keputusan Elena, Bram tidak akan memaksa.


Elena tahu jika papa nya akan menikahi wanita lain yang memiliki tiga orang putri, Elena tidak mau bersaing dirumah keluarga papa nya nanti.


Elena juga takut jika ibu tirinya akan jahat kepadanya, begitu banyak cerita buruk tentang ibu tiri yang Elena dengar.


Elena menatap kepergian papa nya dengan tangisan yang begitu deras dalam pelukan Ani.


Peristiwa perpisahan malam itu tidak akan pernah Elena lupa dan membekas sampai kapanpun.


Semenjak hari itu pula hidup Elena berubah, beberapa bulan setelah perpisahan orang tuanya Elena harus mendapat kabar bahwa papa nya telah menikah lagi.


Dengan murka Elena meremas kertas undangan yang didapat dari sahabat nya Dinda.


"Sabar Na" ucap Dinda memeluk Elena.


"Akan ku balas suatu hari nanti" gumam Elena mengepalkan tangan nya.


Elena mengajak Dinda untuk keluar kekota karena sedang weekend dan Elena juga ingin menenangkan hati.


"Nak" panggil suara yang begitu familiar ditelinga Elena.


"Maafkan papa nak" lirih Bram


Elena menoleh dan melihat Bram yang sedang bersama istri dan ketiga anak tiri nya


"Maaf untuk apa? papa lebih memilih menyayangi anak yang bukan darah daging papa dari pada aku" ketus Elena


"Mama mu yang meminta berpisah nak" jawab Bram


"Apa semudah itu hingga langsung menuruti? apa kalian tidak memikirkan aku yang masih membutuhkan kalian?"


"Kalian egois, kalian tidak memikirkan perasaan ku, kalian menjadikan aku korban dari keegoisan kalian" bentak Elena menghempaskan tangan nya dan berlalu pergi.


"Dinda, bicaralah dengan Na agar mengerti situasi" pinta Bram


"Om yang menyakitinya, aku juga sakit hati" ketus Dinda dan berlari mengejar Elena.


Elena berhenti di sebuah tempat yang jauh dari keramaian untuk menumpahkan segala rasa kekecewaan nya.


"Na" ucap Dinda dan langsung memeluk Elena


"Secapat itu dan semudah itu Din, dia memilih memberi kasih sayang kepada darah daging orang lain dari pada aku" lirih Elena dengan isakan tangis


"Sudahlah Na semua nya sudah terjadi, mungkin memang ini jalan menuju kebahagiaan mu yang sebenarnya" ucap Dinda


"Tuhan menjanjikan apa kepada ku sehingga aku menyanggupi diri untuk lahir kedunia ini?"


"Jika ini yang ku dapat lalu kenapa aku tidak mati saja!" ucap Elena berlinang air mata.


Dinda yang mengerti kondisi sahabat nya pun merasa begitu nyeri diulu hatinya, apa lagi melihat air mata itu meleleh dipipi chubby gadis itu.


"Kita pulang saja" ajak Dinda dan langsung dituruti oleh Elena.


Sesampainya didepan rumah Elena, Dinda langsung berpamitan untuk pulang saja karena hari juga sudah mulai sore.


Elena berjalan masuk kedalam rumahnya, Elena menatap mama nya bingung yang sedang duduk bersama seorang pria yang terlihat lebih muda dari mamanya.


"Om Deni?" ucap Elena menatap pria itu.


Pria itu adalah Deni Darma, Elena mengenalnya karena Deni adalah guru saat abang Elena menempuh pendidikan dibangku SMP.


"Hay El" sapa Deni ramah


"Om ngapain kesini?" tanya Elena bingung


"Emm nak, mama akan menikah dengan om Deni"


Deghhhhh


Seketika Elena mematung mendengar ucapan Ani, baru saja Elena harus menelan kekecewaan karena papa nya menikah dengan janda anak tiga.


Lalu kini Elena dikejutkan dengan kabar bahwa Ani akan menikah dengan guru abang nya yang berstatus duda anak satu.


"Tidak apa ka.."


"Bukan urusanku" ketus Elena dan berlalu ke kamar nya.


Ani hanya bisa menghela nafas, putrinya masih begitu syok karena perpisahan kedua orang tuanya.


Dan kini Elena harus dikejutkan dengan pernikahan kedua orang tuanya dengan orang lain, harus sekuat apa lagi?


Elena menangis diatas ranjang nya sembari memeluk boneka hello kitty berwarna putih yang ternyata pemberian kedua orang tuanya saat Elena berumur 2 tahun.


"Kalian semua jahat, kalian tidak memikirkan perasaan ku dan mementingkan diri kalian saja" lirih Elena menangis sendirian.


Mental gadis ini sudah cukup remuk karena realita yang begitu sakit karena perpisahan keluarganya.


Perpecahan sebuah rumah tangga akan berdampak kepada seorang anak yang benar benar masih membutuhkan figur kedua orang tuanya.


.


.


.


Segini dulu yak hihi.