My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
SULIT MEMAAFKAN



Elena turun ke lantai dasar dengan raut wajah yang ditekuk, pelayan wanita yang melihat nya pun diam diam terkekeh karena wajah itu begitu menggemaskan.


"Ada liat Aron mba?"


"Di halaman depan non"


"Terimakasih mba"


Elena pun berjalan menuju halaman depan dimana Aron berada, Elena menghentakkan kakinya karena perasaan yang sangat dongkol.


Aron yang sedang duduk bersama Robby pun mengalihkan pandangan nya kearah Elena.


"Ada apa sayang?"


"Kenapa mereka semua begitu lebay, semuanya membahas tentang hubungan kita bahkan tayangan ditv pun sama"


"Berita hangat El"


"Tapi aku tidak bisa menonton kartun kesukaan ku"


"Aelah biasanya juga liat yang Korea Korea"


"ZIOOO!" bentak Elena karena Zio tiba tiba datang dan menambah mood buruk nya.


"Lariiii!" Zio berlari masuk kedalam rumah menghindari amukan nona mudanya.


"Ayo kita lihat kartun kesukaan mu" ajak Aron menggiring Elena menuju ruang keluarga.


Robby pun ikut masuk, Robby datang kemari karena tadi memeriksa tangan Elena yang sudah semakin membaik.


Aron mendudukkan Elena disofa lalu menghidupkan TV yang menampilkan kartun kesukaan gadis itu.


"Wahhh benar, kamu hebat sayang terimakasih"


Cupppp


Elena mengecup sekilas pipi Aron lalu kembali menonton TV nya sembari menyenderkan kepalanya didada Aron.


"El tidak tahu jika Aron mempunyai stasiun TV, gadis ini begitu polos aku takut dia sangat gampang diculik orang" batin Robby menggelengkan kepalanya.


Siang hari pun tiba, Elena sedang berada di taman bersama Helga dan juga Amey.


"Trio macan" panggil Zio yang langsung berlari menuju halaman depan.


"Dia itu sangat menyebalkan"


"Tetapi dia kekasih Amey non"


"Benar juga, apa kau akan menikah dengan pria yang menyebalkan seperti Zio Mey? lebih baik bersama Halid"


"Nona muda kenapa mencuci otak kekasihku" ucap Zio yang tiba tiba datang


"Kenapa? kau itu sangat menyebalkan"


"Sikap menyebalkan ku ini yang membuat Amey jatuh cinta"


"Sikip minyibilkin ki ini ying mimbiit Imiy jitih cinti" cibir Elena


"Nona juga sama menyebalkan seperti ku"


"Jaga ucapan mu, Amey bisa mati berdiri jika menikah dengan mu nanti"


"Aku yang akan membunuhnya duluan sebelum aku mati nona" ucap Amey membuat Zio terbelalak.


"Kamu kok gitu sih sayang"


"Kimi kik giti sih siying" cibir Amey mengikuti cara bicara Elena.


Helga dan Elena tertawa terpingkal pingkal melihat perdebatan kedua sejoli itu.


"Zio, Hugo mencarimu" teriak Halid dari lantai dua.


Zio pun langsung pergi dengan wajah yang ditekuk membuat Elena semakin terbahak bahak melihatnya.


Bik Minah yang berjalan mendekati nona mudanya itupun hanya bisa geleng kepala, tawa Elena begitu kerasa hingga semua isi rumah mendengarnya.


"Nona, nyonya laras datang bersama tuan Fras"


"Ahh benarkah bik? baiklah aku akan menemui mereka"


"Non jangan lari lari" ucap Helga memberitahu tetapi tidak didengar Elena.


Elena berlari dengan antusias menuju ruang tamu, dari kejauhan Elena bisa mendengar suara beberapa orang seperti sangat ramai.


Seketika langkah Elena terhenti saat melihat siapa yang datang bersama Laras dan Fras.


Bukan hanya Laras dan Fras, disana juga ada Aron dan Jonathan yang menemani orang orang yang enggan Elena jumpai.


"Elena, anak mama" ucap Ani langsung berdiri dari duduknya.


Mereka adalah kedua orang tua Elena yang datang bersama Fras dan Laras untuk menemui gadis ini lagi.


"Sayang" panggil Aron menyentuh bahu Elena.


Elena langsung menoleh dan memandang wajah Aron, Aron mengangguk lalu mengajak Elena bergabung dengan yang lain.


Jonathan bisa melihat mata sendu Elena saat menatap wanita yang melahirkan nya tetapi masih ada terselip kebencian di sana.


Aron mendudukkan Elena disamping Jonathan lalu Aron duduk disisi Elena yang lain.


Elena langsung menundukkan kepalanya saat matanya berjumpa dengan mata indah yang dulu sangat dia gemari itu.


Elena terus berusaha menahan air matanya, dia tidak mau menangis didepan ibunya dan juga ayah tirinya.


"Nak" panggil Ani


Dada Elena begitu sesak, panggilan dari suara itu sudah sangat lama tak didengarnya.


Ani berdiri dan menghampiri putrinya, Ani berlutut didepan Elena dan menggenggam tangan putih itu.


"Sudah hampir tiga tahun El, maafkan mama nak"


Ani sangat ingin memeluk putri kecilnya ini tetapi takut Elena semakin menjauh darinya.


"Mama Minta maaf El, mama tahu hatimu masih sakit nak"


"Sangat sulit memaafkan apa yang membuatku sakit, dulu aku selalu berusaha menjadi yang terbaik didepan mu tetapi kau tidak pernah melihatku"


"Maafkan mama nak, mama tahu mama salah"


"Apa satu maaf cukup? paling tidak dulu aku melakukan satu kesalahan lalu meminta maaf juga tetapi kau selalu mengungkitnya"


Ani hanya bisa menunduk sembari meneteskan air mata, dia paham rasa sakit dihati putrinya tidak semudah itu untuk hilang.


"Kau tidak pernah memujiku disaat orang tua lain membanggakan anaknya di depan orang lain, sedangkan aku?"


"Kau berbicara seolah aku tidak mempunyai hati, kau selalu mengatakan bahwa seorang anak harus terus menjaga hati ibunya tetapi apa kau tidak mengatakan bahwa seorang ibu harus menghargai anaknya"


"Disaat anak lain mampu membagi keluh kesah nya kepada kedua orang tuanya tapi tidak dengan aku, aku lebih baik memendamnya dari pada mengatakan nya tetapi dinilai salah"


"Kau bahkan tidak pernah menyanjung perjuangan ku barang sedikitpun, seolah semuanya salah dan tidak pantas aku lakukan"


Elena tidak mampu menahan air matanya lagi, tetes demi tetes air mata pun luruh ke pipinya dengan bibir yang bergetar.


"Disaat semua orang tua bisa mengatasi rasa sakit putrinya dengan dukungan tetapi tidak dengan kalian"


"Kau semakin mematahkan semangat dan hatiku disaat aku ingin bangkit kala masalah hidup membuat ku jatuh"


"Kau mengatakan aku bisa apa? kau mengatakan bahwa aku hanya sebuah beban yang dikirim Tuhan untuk membuat hidupmu susah"


"Lalu kenapa aku dibesarkan? kenapa tidak dibunuh sedari bayi atau sedari kandungan dulu, kehadiran ku atas keinginan dirimu bukan?"


"Aku ga minta loh, kalian yang minta aku hadir dihidup kalian lalu kenapa sekarang aku yang disalahkan atas penderitaan hidup kalian?"


"Tidak nak, bukan seperti itu, maafkan mama nak"


"Hanya sebuah maaf? seharusnya tidak perlu mengemis seperti ini, kau mengatakan jasa mu dalam menjadi seorang ibu tidak akan terbayar barang sepeser pun"


"Aku tidak minta dibesarkan oleh mu, jika memang ingin sebuah imbalan maka ambil nyawaku!"


"Akan ku bayar dengan sebuah nyawa, impas bukan? kau melahirkan aku dengan nyawa sebagai taruhan lalu sekarang akan ku bayar dengan nyawa"


"Mama mohon maafkan mama nak, mama tahu mama salah El mama mau memperbaiki semuanya"


Dada Ani begitu sesak mendengar ucapan putrinya yang begitu pilu, seluruh rasa sakit yang dipendam wanita ini kini telah dikeluarkan.


"Dia ibumu nak" ucap Jonathan yang tidak tega melihat Ani


"Apa masih pantas ku sebut sebagai ibu disaat mimpi ku hancur dan semangat ku hilang karena nya?"


"El, kamu anak yang baik nak maafkan segala kesalahan nya nak" ucap Laras mendekati Elena.


"Bunda mengerti rasa sakit mu, sudah berakhir sayang semuanya sudah selesai kamu tidak sendiri lagi ada bunda, ayah, papi, Aron, sahabat kamu, orang orang yang menyayangi kamu nak"


"Mereka masih orang tua kamu El, ayah yakin kamu ga sejahat itu sayang" ucap Fras menambahkan


Elena mengigit bibir bawahnya yang terasa bergetar, Laras memeluk putri angkatnya dan seketika tangis Elena pecah.


"Masih sakit bunda, El belum bisa semuanya masih ada di kepala El, semuanya masih berputar disana"


"El belum bisa bunda, Sakit bunda sakit"


Brukkkkkkk


.


.


.


Nangis dulu wkwk.