My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KELAHIRAN ELENA



Seorang pria tampan dengan tubuh tegap dan rahang yang kokoh sedang berdiri didepan sebuah pintu ruangan rahasia.


Ruangan itu terletak di sebuah pulang terpencil di tengah laut, pulau itu juga dijaga dengan ketat.


"Papa" panggil putranya.


"Apakah sudah selesai?"


"Pa, anggi terlalu kecil untuk dijadikan kunci pintu ini"


"Kenapa Bram? kau takut putrimu dalam bahaya? kau kewalahan mejaga nya?"


Yahh dia adalah Antonhy Agarandra dengan Bramasta Agarandra, mereka sedang berada di pulau tempat dimana mereka menyimpan harta mereka.


Antonhy meminta Bram untuk menjadikan putri pertama nya sebagai kunci untuk membuka pintu ruang rahasia ini.


"Bukan begitu"


"Jangan menganggap putrimu masih kecil Bram, Anggi memilki seorang adik dan kini umurnya sudah cukup" ucap Antonhy tegas.


Saat ini Bramasta memiliki dua orang anak yang pertama seorang putri yang masih berusia 7 tahun dan seorang putra berusia 5 tahun.


Bramasta yang takut lengah akan menjaga putrinya pun menentang keputusan Anthony yang ingin menjadikan Anggi kunci harta mereka.


Pulau harta mereka sudah diketahui banyak musuh bisnis keduanya sehingga harus memperketat keamanan demi harta mereka.


"Bukan begitu pa, hanya sa...."


Drtttt Drtttt Drtttt


"Ada apa?"


"Tuan, nyonya jatuh pingsan dan sekarang kami membawa nya kerumah sakit" ucap salah satu pelayan rumah Bram.


"Baik aku akan kembali" ucap Bram memutuskan panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Arga saat melihat wajah cemas putranya.


"Ani pingsan dan dibawa kerumah sakit, kita harus kembali secepatnya pa"


"Ya sudah ayo, siapkan helikopter nya" ucap Arga kepada anak buah nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dirumah sakit, Ani baru tersadar dari pingsan nya dan melihat kepala pelayan nya yang sedang menunggui nya dengan cemas.


"Nyonya sudah bangun? bagaimana nyonya apa ada yang sakit?" cecar wanita paruh baya itu dengan cemas.


"Aku baik baik saja bik, apa anak anak ikut?"


"Tidak nyonya tadi anak anak sedang bermain dikamar sehingga tidak tahu kalau nyonya kami bawa ke rumah sakit"


"Ahhh syukurlah" ucap Ani yang tidak ingin anak anak nya khawatir.


Brakkkk


"Sayang? apakah kamu baik baik saja? ada yang sakit? katakan kepadaku" cecar Bram menangkup wajah istrinya.


"Aku baik baik saja sayang" ucap Ani tersenyum manis.


"Ada apa bik?" tanya Arga pada kepala pelayan nya.


"Dokter belum mengatakan apa pun tuan besar"


Tok Tok Tok


"Permisi tuan dan nyonya Agarandra, saya membawa kabar bahagia untuk kalian" ucap dokter wanita yang memeriksa Ani.


"Apa dokter?"


"Selamat tuan Bram, istri anda sedang mengandung dan usia kandungnya sudah tiga minggu"


Senyum mengembang pun langsung terlihat dari keempatnya, suasana menjadi begitu bahagia.


"Kamu hamil sayang? kita akan punya anak lagu, terimakasih sayang" ucap Bram terharu dan langsung memeluk istrinya.


"Terimakasih karena sudah memberikan malaikat kecil lagi untuk keluarga kita nak" ucap Arga mengecup kening menantunya.


"Sama sama papa, lihatlah sayang kedatangan mu disambut dengan penuh suka cita oleh semua orang"


"Dia anugerah kita sayang, dia yang paling istimewa" ucap Bram mengecup perut istrinya yang masih rata.


9 BULAN KEMUDIAN.


Kelahiran Elena pun disambut dengan hangat oleh seluruh keluarga, Bram yang waktu tinggal di luar negeri pun hanya bisa merayakan semua nya tanpa saudara dekatnya.


"Putri cantik papa" gumam Bram menimang putri kecilnya.


"Lihatlah wajah adik mirip dengan papa" celetuk putra kecil Bram yang berusia 5 tahun.


"Wahh benarkah? terus mama mirip siapa dong"


"Mirip aku dong" celetuk putri pertama Bram.


Semua orang terkekeh mendengar celotehan kedua anak Bram dan Ani yang sangat cerewet itu.


"Cantik sekali cucu kakek" ucap Arga mengelus kening cucu kecil nya.


Bram meletakkan putrinya di samping istrinya dan berlalu keluar kamar agar istrinya bisa beristirahat.


"Apa papa yakin?"


"Yakin, kelahiran Elena di sini dan tidak ada yang tahu menahu tentang putri bungsu mu boy"


"Tapi bagaimana caranya? Ani pasti melarang kita untuk menjadikan El sebagai kunci pa"


"Jangan beritahu istrimu"


"Pa, El lahir belum sampai sebulan bagaimana bisa kita membawa El kepulau tanpa sepengetahuan istriku" ucap Bram bingung.


"Saat malam hari" ucap Arga memberi usul.


"Ahhhh ini semua membuat ku pusing, lalu bagaimana cara kita menjaga El diwaktu yang akan datang?"


"Bukan kita tapi dirinya sendiri Bram" ucap Arga mengalihkan pandangan nya keluar jendela.


"Dia sendiri? a..apa yang papa maksud? papa mau membiarkan El hidup tanpa penjagaan? tidak pa!"


"Dengar Bram kita harus menyusun segala cara untuk membuat putrimu jauh lebih kuat dari kedua saudaranya"


"Papa tidak mengerti, El itu masih bayi pa bahkan umurnya saja belum ada" ucap Bram yang tidak mengerti dengan jalan fikiran papanya.


"Kita harus menjauh dari nya"


"Hah? menjauh?"


"Ceraikan istrimu saat usia El menginjak 9 tahun"


"Apa!" terkejut Bram


"Tidak pa, papa ini bagaimana sih"


"Apa nya yang tidak? aku akan memalsukan kematian ku saat usia El 5 tahun, dan kau bercerai dengan istrimu saat usia El 9 tahun"


"Tidak pa"


Plakkkk


"Bukan cerai sungguhan bodoh, hanya kita berdua yang tahu di sini, nikahkan Ani dengan Deni agar dia bisa menjaga mereka"


"Lalu?"


"Menikah dengan sekretaris ku"


"Apa!"


Plakkkk


Untuk yang kesekian kalinya Bram mendapat pukulan di kepalanya karena terus berteriak ditelinga papanya.


"Kau ini, jangan berteriak" ketus Arga


"Istriku pasti sakit hati pa"


"Lah ya memang itu tujuan nya kan? semuanya hanya sandiwara Bram, kita lihat istrimu bisa menjaga El atau tidak"


"Jika tidak?"


"Kita datang disaat waktu yang tepat" tutup Arga dengan seringai di wajahnya.


Malam harinya seperti yang sudah direncanakan saat Ani sudah tertidur lelap, Bram pun membawa putri kecilnya keluar kamar.


Dengan perlahan Bram membawa putrinya agar tidak menangis dan membangunkan istrinya yang sedang tertidur.


"Jaga kamar ini jangan biarkan istriku keluar" ucap Bram pada pengawalnya.


Arga dan Bram langsung berlalu pergi ke landasan helikopter pribadi mereka untuk menuju pulau rahasia mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, akhirnya mereka pun sampai di pulau itu dengan selamat.


Bram menggendong putrinya yang berbalut selimut lembut tebal karena suhu malam yang sangat dingin.


Mereka masuk kedalam ruang rahasia itu dan melihat sebuah komputer raksasa, sekeliling ruangan itu dikelilingi dengan emas batangan dan berbagai harta lainnya.


"Pa, aku takut putriku..."


"Semuanya akan baik baik saja Bram, kita tidak akan lepas tanggung jawab ataupun tidak menjaga putrimu Bram"


"Pa, hal ini terlalu besar untuk El"


"Dia sudah menjadi wanita pilihan Bram"


Arga pun mulai mengutak atik komputer raksasa yang menjadi pusat keamanan ruangan rahasia ini.


Mereka tidak hanya berdua disana, ada dua orang pengawal yang menemani mereka.


Arga memasukkan data indentitas Elena sebagai pemilik ruangan ini dan hanya Elena lah yang bisa membuka nya.


Arga juga memberikan sebuah kalung berlian kepada Bram agar diberikan pada Elena saat masanya tiba.


Tanpa mereka sadari salah satu pengawal yang ada disana adalah pria yang mencintai Areta dan membantu Areta hidup setelah dicampakkan Arga.


Dari pria ini lah Areta tahu bagaimana perkembangan hidup Elena, tetapi semua nya menghilang setelah pria ini mati ditangan musuh Arga.


Diwaktu yang bersamaan pula Bram membawa putrinya kembali kenegara asal mereka.


.


.


.


Yang kemarin nebaknya salah jangan ngamuk 🤣