
Siang hari yang cerah, Elena pulang kuliah lebih awal dari sebelumnya karena memang hanya masuk satu kelas.
Kini gadis itu sedang berada di taman samping rumah mewah itu bersama Helga dan juga Amey.
"Ini makanan nya non" ucap bik Minah meletakkan cemilan untuk tiga wanita itu.
"Terimakasih bibik" ucap ketiga nya serempak.
Elena lanjut membaca bukunya sedangkan dua wanita lainnya sedang memainkan ponsel mereka.
"Enak banget makan gaji buta" celetuk Zio yang jalan melewati taman itu
"Terkadang aku ingin sekali membunuh Zio jika tidak memikirkan dirimu Mey" ucap Helga memandang Amey.
"Paling tidak mengurangi beban Bu Mia ga sih?"
"Aku masih dengar!" teriak Zio dari ambang pintu
"Cih, apa kau tidak lihat gayanya itu? dia seperti pria paling tampan didunia ini"
"Aku juga tidak tahu kenapa aku mencintai pria bodoh seperti nya" jawab Amey sekenanya.
Elena tertawa terbahak bahak dan disusul dengan yang lain, Zio pun memilih pergi dari pada menjadi bahan pembicaraan para gadis itu.
"Nak" panggil Ani mendekati putrinya dan duduk dihadapan Elena.
Helga dan Amey yang tahu situasi pun langsung memilih pergi agar memberi privasi kepada keduanya.
"Mama akan kembali ke kampung, berkunjung lah sesekali kesana karena banyak keponakan mu yang merindukan mu"
"Akan aku usahakan"
"Aron sudah meminta izin kepada mama untuk menikahimu, keputusan ada dirimu nak Aron pria yang baik"
"Hemm"
"Mama akan kembali sekarang juga"
Elena langsung mengangkat pandangan nya, ada terbesit rasa sedih saat Ani berpamitan pergi secara mendadak.
Ami berdiri dan hendak pergi meninggalkan putrinya, tetapi sebuah suara dengan panggilan yang sudah lama tidak di dengar Ani membuat wanita itu membeku
"Mama" panggil Elena
Elena berdiri dan mendekati Ani yang sudah membelakangi dirinya, Elena menggapai tangan Ani dan menggenggam nya.
"Maafkan El selama tiga tahun ini"
Deghhhh
Ani langsung berbalik dan memeluk putrinya, Ani sangat ingin memeluk putrinya dari awal pertemuan tetapi baru kesampaian sekarang.
Elena juga membalas pelukan Ani, keduanya meneteskan air mata haru dan bahagia.
"Maafkan mama nak maaf"
"Engga mah, El yang minta maaf karena pernah berbicara kasar sama mama"
"Kamu punya hak nak mama yang salah, maafin mama El"
"El maafin mama kok, El sayang mama"
"Mama juga sayang sama kamu El" ucap Ani tulus sembari mengecupi wajah putrinya.
Jonathan, Deni dan Aron yang melihat dari dalam rumah pun tersenyum hangat, akhirnya Elena mau memaafkan ibunya.
Elena dan Ani berjalan beriringan menuju ketiga pria itu, terlihat Elena yang terus bergelayut manja di lengan Ani.
"Gadis pintar" puji Jonathan mengusap sisa air mata Elena.
"Maafin El pah" ucap Elena memeluk Deni
"Tidak apa nak, papa mengerti perasaan mu" ucap Deni membalas pelukan Elena dan mengecup kening gadis itu.
"Mobil sudah siap tuan nyonya" ucap Hugo yang akan mengantarkan kedua orang tua Elena.
Mereka pun berjalan menuju teras rumah, Elena terus merangkul tangan ibunya seakan meluapkan rasa rindunya.
"Kamu baik baik disini jangan nakal ya nak, mama percayakan kamu sama Aron dan juga papi Jonathan"
"Iya mah, El akan menjadi anak yang baik disini" ucap Elena memeluk Ani dan Deni secara bergantian.
Mobil yang ditumpangi Ani dan Deni pun meninggalkan pekarangan rumah mewah milik Aron itu.
Elena menatap sendu kepergian mamanya, baru saja memaafkan tetapi harus terpisah oleh jarak lagi.
"Kamu sudah berhasil sayang, sekarang kamu tahu kan kalau kamu tida sendiri lagi?"
"Iya pih, El tahu dan terimakasih ya pih, terimakasih ya sayang" ucap Elena memeluk Jonathan dan Aron.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang cukup dingin, Jonathan dan Aron sedang membicarakan hal penting diruang kerja Jonathan.
Didalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, tentu saja Elena sudah tidur kalau tidak mana mungkin mereka bisa berbicara hal rahasia dirumah ini.
"Apa ada perkembangan dari pencarian mu?"
"Tidak ada pi, dia terlalu pintar menyembunyikan semuanya"
"Papi hanya khawatir terhadap El, yang mengincar El bukan hanya rival kita Aron tetapi musuh keluarga nya juga"
"Aku tahu papi, tapi apa papa El tidak mengirim penjaga untuk putrinya? setiap Elena dalam bahaya selalu saja tidak ada yang menolong selain aku"
"Papi juga berfikir begitu"
"Apa mau tua bangka itu sebenarnya, apa dia ingin membunuh El?"
"Kau gila Aron, dia sangat menyayangi Elena dan kau tahu itu" bentak Jonathan yang tidak suka dengan ucapan putranya.
"Lalu kenapa mempersulit segalanya papi? Elena putri kandungnya bukan tiri"
"Pasti ada sesuatu hal yang besar yang disembunyikan Jonathan"
"Harta" ucap Bik Minah yang tiba tiba masuk.
Jonathan dan Aron mengangkat alisnya sebelah pertanda tidak mengerti dengan ucapan bik Minah.
"Saya yakin tuan Bram juga memiliki harta rahasia seperti tuan"
Seketika Jonathan dan Aron saling pandang, benar kata bik Minah ini semua pasti berkaitan dengan harta milik Bram.
"Tapi kenapa tidak menjaga El jika harta itu adalah putrinya sendiri?"
"Ntah lah tuan muda, sepertinya tuan Bram juga sedikit lalai dalam menjaga nona El"
"Jadi maksud bibi tadi, El adalah kunci dari harta tersembunyi milik papa El?"
"Benar, kalau begitu saya permisi" pamit bik Minah dan berlalu pergi setelah mengantarkan dua cangkir kopi.
"Harta rahasia, apa sama seperti milik kita pi?"
"Bisa saja"
"Dia gila jika lalai menjaga El pi"
"Dia sedikit gegabah dalam mengambil keputusan Aron, logikanya acak acakan"
"Apa harta rahasia nya sehingga Elena yang menjadi kunci untuk hal itu"
"Ntahlah papi juga tidak tahu, papi akan kembali kekamar kau kembalilah juga jangan tinggalkan Elena sendiri" titah Jonathan dan berlalu pergi dengan membawa segelas kopinya.
"Harta rahasia, tapi El tidak memakai apa pun selama ini untuk menjadikan buktinya bahwa kunci rahasia itu adalah dirinya"
"Kenapa begitu banyak teka teki, kau kemana tuan Bram, apa kau tega melihat putrimu terus seperti ini" gerutu Aron dan kembali ke kamarnya.
Dikamar Jonathan, Jonathan sedang memandang foto dirinya bersama Bram kala masih muda dulu.
"Aku baru menyadarinya Bram, ternyata benar katamu bahwa kau akan mengerahkan kunci itu pada putri bungsu mu"
"Sekarang Harta mu bersama ku Bram, tidak kah ingin kau mengambilnya? hanya kuncinya jangan putrimu"
"Putrimu begitu berharga di rumah ini Bram, berharga bagiku dan juga putraku yang memang kau pilih sebagai istri putraku".
"Jangan sampai kau menikahkan Elena dengan pria lain Bram, jika itu terjadi maka aku sendiri yang akan membunuh mu walaupun aku tahu bahwa kau adalah papa kandung menantuku"
"Menantuku tetap El dan akan selamanya seperti itu, kau tidak akan bisa memisahkan Elena dan Aron , Bram"
Jonathan terus memandangi foto dirinya bersama Bram kala muda dulu, munafik jika Jonathan tidak rindu.
Bram seperti saudara kandung bagi Jonathan karena mereka tumbuh bersama, bahkan umur Bram sebulan lebih tua dari pada Jonathan.
.
.
.
💪🏻