
Beberapa menit berlalu, brankar Hani didorong keluar ruangan itu dan Narendra langsung berdiri dari tempatnya, membantu dua orang perawat mendorong ranjang rumah sakit itu, diikuti anggota keluarga lainnya.
Kondisi Hani yang masih belum sadar, mengharuskan mereka untuk mendorongnya menuju ruang USG, mengunakan brankar itu. Sebab para tim medis harus segera mengetahui keadaan janin di dalam kandungannya.
Setibanya di ruang USG, hanya Narendra yang di bolehkan untuk menemani Hani di dalam sana sedangkan yang yang lainnya di minta untuk menunggu di luar, walaupun Melly dan Luna begitu ngotot ingin ikut, tapi pada akhirnya mereka harus mengalah juga.
Tubuh Hani di pindahkan dari brankar sebelumnya, kemudian di baringkan di atas ranjang yang tersedia di ruangan itu, setelah itu perawat mulai mengangkat baju Hani dan menurunkan celananya. Saat itulah Narendra dapat melihat dengan jelas memar di perut Hani, juga perutnya yang terlihat Begitu menonjol saat dia berbaring terlentang Seperti ini.
" Sudah besar ini, kandungannya." Ucap Dokter yang kini duduk di samping ranjang Hani sembari menyemprotkan gel keatas kulit perut wanita itu, kemudian mengarahkan stik USG di atas kulit perut Hani.
" Denyut jantung mereka normal." Ucapnya sembari mengerakkan stik USG itu dengan mata yang melihat kearah monitor di depannya.
" Mereka?" Tanya Narendra.
" Ya calon anak anda kembar! Apa di keluarga anda tidak ada anak kembar, anda begitu terkejut mendengar hal ini." Ucap Dokter sembari tersenyum hangat kepada Narendra.
" Aku memiliki saudari kembar." Sahut Narendra memberi tahu.
Dokter pun mengangguk paham, karena gen kembar itu sudah pasti di turunkan dari Narendra.
"Usia kandungan istri anda tiga belas Minggu. Kandungan istri anda juga kuat, dan biasanya benturan terjadi di trimester pertama bisa terbilang rawan juga aman, tergantung kondisi rahim." Jelas sang dokter dan Narendra pun diam sembari menunggu penjelasan dokter itu.
" Biasanya pada masa awal kehamilan rahim sepenuhnya di lindungi oleh panggul, keguguran yang di sebabkan oleh pukul di perut pun, kemungkinannya sangat kecil karena tulang-tulang panggul berperan sebagai penghalang atau pelindung, sehingga pukul itu tidak langsung mengenai rahim." Lanjutnya, membuat Narendra sedikit bernafas lega.
" Tapi dok! Jika istri saya dan kandungannya baik-baik saja, kenapa di belum sadar juga." Tanya Narendra.
Suster yang menemani mereka sejak tadi pun menjawabnya. Suster itu berkata jika sebelumnya Hani sudah sadar, Hanya saja dia kembali tertidur setelah di berikan obat oleh dokter untuk mengurangi rasa sakitnya.
Selama itu untuk kebaikan istri dan calon anak-anaknya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Beberapa jam berlalu, Hani kini sudah di pindahkan ke ruangan rawatnya. Ruang VVIP yang di siapkan Narendra untuk kenyamanan sang istri selama dia dirawat satu Minggu kedepannya disini.
" Syukurlah kandungannya baik-baik saja! Mulai sekarang kamu harus ekstra dalam menjaganya. Demi anak kalian." Ucap Melly kepada menantunya itu.
" Pasti mom, Rendra akan selalu ada untuknya." Sahut Narendra.
Mereka kini sedang berada di ruangan rawat Hani.
Di dalam ruangan itu ada Ela, Lita, Melly, Luna, Dian, Reval dan Dion. Sisanya menunggu di luar termasuk Kairan.
" Syukurnya kamu cepat menemukan dia! Kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan kandungannya." Luna pun turut berpendapat dan mereka seakan menyalahkan Hani yang tidak menyadari kehamilannya! Padahal usia kandungannya hampir memasuki trimester kedua.
" Jangan menyalakannya, dia baru pertama kali di fase ini tentu saja dia tidak akan menyadarinya secepat itu, selama dia yakin dia cukup berhati-hati." Sela Dian, wanita itu tahu bahwa Hani tidak ingin Hamil dalam waktu dekat ini.
Tapi apa mau dikata, takdir berkata lain.
" Aku nggak nyalahin dia loh mbak! Tapi usia kandungannya sudah tiga belas Minggu dan dalam kurun waktu segitu dia nggak sadar kalau dia terlambat datang bulannya." Ucap Luna lagi.
Membuat Lita yang sejak tadi Diam pun, menatap para orang tua itu. "Wajar kalau dia tidak tahu, Tante! Karena dia pernah mengalami Siklus haidnya tidak teratur." Sela Lita membuat dirinya menjadi pusat perhatian para orang tua. itu.