
"Makanan ini kamu dapat dari mana?"Tanya Narendra saat Hani, kembali masuk kedalam ruangan kerjanya sembari membawa nampan berisi makan siang untuk pria itu.
"Dari kantin." Jawab Hani.
"Oh jadi kamu kasih aku makanan bekas karyawan aku, gitu! Haaniya, aku tahu kamu itu nggak cinta sama aku, kamu juga nggak suka dengan pernikahan kita, tapi bisa nggak kamu itu sedikit tulus melakukan perang kamu sebagai itu." Pria itu tidak sadar, dia meminta ketulusan dari Hani, sebagai istri! sementara dia sendiri tidak dapat melakukan hal itu, sebagai suaminya." Maaf jika di awal kata-kata ku sedikit menyakiti kamu waktu itu! Tapi apa harus dengan cara ini kamu membalas aku."Sungguh kali ini Narenda sudah benar-benar keterlaluan dengan segala tuduhannya. ingin rasanya Hani menghantam kepalanya mengunakan nampan itu, tapi wanita itu masih bisa menahannya.
Wanita itupun hanya mendengus tak ingin termakan tuduhan pria itu. "Makanan itu aku sendiri yang buat pengecualian untuk nasi-nya, Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanyakan langsung kepada penjaga kantin." Sahut Hani. karena apa yang di katakan Hani memang benar adanya, dia sampai izin kepada penjaga kantin untuk masuk ke pantry mereka, mengobrak-abrik bahan makan dalam penyimpanan mereka di pantry sehingga dapat membuat hidangan itu. Tapi yang terjadi dia justru di tuduh seperti itu oleh Narendra, entah kapan Hani akan terlihat baik di hadapan suaminya itu. Dalam hatinya Hani berharap semua ini cepat berakhir, sehingga dia dapat pergi jauh dari mereka. " Silakan makan jika kamu ingin dan jika kamu tidak ingin memakannya, kamu bisa membuangnya." Ucap Hani lagi, Setelah itu ia meninggalkan ruangan kerja Narendra tak ingin mendengar tuduhan menyakitkan lainnya dari pria itu.
Setelah Hani keluar! pria itu mulai menarik nampan berisi makan siangnya, kemudian menikmatinya dengan kedua sudut bibir yang tertarik keatas! Karena sejujurnya, Narendra tidak pernah sekalipun membuang masakan Hani, ia berkat demikian karena masih terhalang gensi saja.
Sementara itu di luar sana, Hani langsung kembali ke meja kerjanya! Ia mulai sibuk dengan pekerjaannya sementara dan disisinya ada Nahla yang terus saja Melirik tak suka kepadanya. Namun wanita itu tidak dapat melakukan apapun. Hani sendiri juga tidak begitu peduli dengan keberadaannya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Waktu menunjukkan pukul lima sore, waktunya untuk karyawan di perusahaan itu pulang, terkecuali untuk mereka yang sedang lembur. Hani pun segera merapikan meja kerjanya, kemudian mengambil tas-nya, bersiap untuk pulang." Ehh mau kemana kamu?" Tanya Nahla.
"Mau pulang lah! Ini kan udah jam pulang, lagian pekerjaan aku juga udah selesai." Jawab Hani, sembari mengerutkan keningnya. Apa kekasih suaminya itu tidak tahu waktu pulang kerja! Atau memang sengaja ingin mencari-cari masalah dengannya. Jika benar begitu, Hani dengan senang hati akan meladeninya.
"Kamu lihat tuh, yang lain belum pulang, masih pada sibuk! Ada yang lembur juga." Ucapnya sambil menunjuk semua karyawan di lantai itu yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka, "kok kamu udah mau pulang sih! Harusnya sebagai istri bos kamu tuh menunjukkan contoh yang baik buat karyawan lain. Kamu juga baru sehari kerja, entah apa bagusnya kamu sampai di rekrut sama pak Rendra." Benarkan, wanita itu hanya ingin mencari masalah dengan Hani dan sengaja membuat Hani terlihat jelek di depan staf yang lain.
"Justru aku sedang menunjukkan contoh yang baik kepada mereka dengan pulang tepat waktu, lagian pekerjaan aku juga udah selesai! Kenapa aku harus ikut-ikutan lembur." Haaniya tetap terlihat tenang saat membalas ucapan Nahla.
" Bos aja belum pulang! Kenapa kamu sebagai sekertaris harus buru-buru pulang duluan." Ada saja alasan wanita itu.
"Masuk." Terdengar suara intrupsi Narendra dari dalam sana.
Namun Hani tidak langsung masuk, ia justru membuka pintu ruang kerja pria yang berstatus sebagai suaminya itu, lebar-lebar bersandar pada kusen pintu sembari melipat tangannya di dada. " Zam, pulang yuk! Udah waktunya pulang nih! Tapi kalau kamu masih ada kerjaan aku balik duluan ya." Ucap Hani sembari menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangannya kepada Narendra, Walaupun dalam hatinya ia begitu cemas jika Narendra akan mempermalukan dirinya, dengan menolak ajakannya atau meminta dia kembali bekerja.
Sayangnya semua yang di pikirkan Haniya, tidak benar terjadi! Karena begitu dia mengajak pria itu untuk pulang, Narendra langsung mematikan layar laptop dan merapikan tumpukan pekerjaannya, setelah itu mengambil jas yang ia sematkan pada sandaran kursi kebesarannya. Kemudian berjalan menghampiri Hani." Kamu memanggil aku apa! Barusan." Tanya Narendra, seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Hani. Dan merapatkan tubuh mereka.
Entah sadar atau tidak, Haaniya pun dengan sengaja melingkarkan kedua tangannya pada pundak Narendra." Azzam." Bisik wanita itu di telinga Narendra, sembari tersenyum menyeringai kepada Nahla, yang tengah menatap kemesraan mereka.
"Kenapa?" Walaupun pandangannya saat ini tengah fokus pada wajah cantik Haaniya, namun entah kenapa feeling-nya! Kedua wanita itu sedang mengibarkan bendera perang dibelakangnya, Tentu saja Narendra tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya, pria itu bahkan dengan sengaja mencium pipi Hani dan membuat tubuh wanitanya menegang seketika, karena terkejut dengan keberanian Narendra.
" Entahlah, aku rasa nama Narendra terdengar sedikit menjijikkan, karena sering di sebut oleh seseorang." Jawab Hani, membuat Narendra mengerutkan keningnya! bukannya marah ia justru menyeringai senang, karena feeling-nya tidak salah. " Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan! Aku bukan tak suka dengan namamu, hanya saja aku ingin memanggilmu seperti itu. Apa kamu keberatan?" Narendra, mengeleng kepalanya.
"Tentu saja tidak! kamu boleh memanggil ku senyaman kamu."Akunya." Ya sudah kita pulang sekarang! Katanya mau pulang kan." Ajak Narendra di angguki oleh Hani, keduanya pun segera meninggalkan lantai itu, setelah Narendra meminta Nahla untuk mengembalikan nampan serta piring bekas makannya ke kantin.
Dan saat Haaniya melewati Nahla, wanita sengaja mengedipkan matanya kepada nahla dengan sedikit mengejeknya.
"Sial harusnya aku nggak ikuti maunya Tante Luna! Awas saja kamu, aku harus menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Narendra secepatnya." Umpat Nahla saat melihat punggung Hani dan Narendra yang perlahan menjauh sebelum menghilang di balik pintu lift.
Saking kesalnya dia kepada Hani, sore itu begitu pulang kerja, ia langsung menghubungi Lisa dan Amna untuk mengajak kedua orang wanita itu bertemu di cafe langganan mereka.