
Pria itu berbalik, hendak meninggalkan tempat itu setelah memberi pelajaran kepada kedua anak buahnya! Namun ia mengurungkan langkahnya saat melihat Hani.
Wajah wanita itu terlihat begitu pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Pria itu bukan merasa iba kepada Hani, tapi dia sedang menelisik wajah Hani yang terlihat baik-baik saja tanpa luka sedikitpun di wajahnya, karena kedua anak buahnya belum sempat untuk menyiksanya.
"Siapa nama kamu?" Tanya pria itu sembari berjongkok di depan Hani.
" Na-nama saya A-Alice tuan." Jawab Hani sembari menahan rasa sakitnya. wanita itu bahkan berulang kali mengigit bibir bagian dalamnya untuk mengalihkan rasa sakitnya.
" Baiklah Alice, saya punya pekerjaan untukmu! Jika kamu berhasil, kamu akan saya lepaskan dan kamu bisa kembali bekerja lagi di mansion ini! Tapi jika kamu gagal, saya akan langsung mengirim kamu ke pangkuan sang pencipta." Ucap lelaki itu sambil mengangkat wajah Hani mengunakan jari telunjuknya.
" A-apa yang harus sa-saya lakukan tuan?" Tanya Hani dengan terbata-bata sembari memijit perutnya yang semakin terasa sakit. Dan hal itu di salah artikan oleh asisten Regan, pria itu berpikir Hani baru pertama kalinya di pukuli, sehingga dia begitu kesakitan seperti ini, yang mana membuat dia yakin bahwa Hani bukanlah orang yang perlu di takutkan. Sebab rata-rata wanita yang menjadi penyusup begitu kebal akan pukulan tidak akan langsung pucat dan merasa sakit sehebat ini.
Pria itu tidak tahu saja, jika sakit itu karena alasan lain, sayangnya Hani sendiri pun tidak tahu akan hal itu.
"Kamu hanya perlu membuat rekan bisnis tuan Regan tergila-gila sama kamu dan kamu harus bisa merayunya sampai dia mau menikmati tubuhmu ini. Pastikan semua itu berjalan dengan baik tanpa kecurigaannya." Jelas pria itu, Hani pun mengangguk kepalanya ragu.
" Bagus." Pria itu kemudian berdiri sembari menarik lengan Hani untuk ikut dengannya.
Jenny yang mendengarnya pun langsung menghampiri asisten Regan. " Ya tuan." Ucapnya dengan sedikit menunduk.
" Bersihkan tubuhnya, dia akan melayani tamu tuan Regan malam ini." Titah pria itu tanpa ingin menjelaskan lebih jauh apa saja yang harus jenny lakukan. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan mereka.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jenny sembari mengusap kepala Hani, begitu mereka hanya berdua saja. Melihat keadaan Hani, wanita paruh baya itu begitu merasa bersalah kepada, karena dia yang sudah menawarkan pekerjaan ini untuk Hani. "Wajah mu terlihat pucat Alice." Wanita paruh bayah itu semakin khawatir saja.
" Aku baik-baik saja Jenny! Hanya saja perut aku begitu sakit karena di pukul tadi." Jawabnya jujur.
" Maaf." Ucapnya penuh sesal." Sekarang masuklah kedalam kamarku, Nanti aku akan mengompres perutmu, Setelah itu kamu harus bersiap-siap." Ujarnya. Setelah itu ia membantu Hani berjalan kearah kamarnya begitu mendapat anggukan dari Hani.
Tepat pukul enam Hani sudah siap! Namun sakit di perutnya tak kunjung reda, hingga Hani meminta izin kepada Jenny untuk berbaring sejenak.
Jenny ingin menolak Hal itu, tapi melihat wajah Hani yang terus menahan sakit, dia pun merasa iba dan terpaksa mengiyakannya.
Begitu melihat Hani telah tertidur, Jenny keluar untuk memeriksa pekerjaan pelayan di luar sana! Karena semuanya sudah harus siap begitu Regan tiba nanti.
Setengah jam kemudian Mobil Limosin yang mengantar Regan dan Narendra terparkir depan pintu utama mansion itu. Para pelayan pun mulai berjejer dengan rapi menyambut kedatangan Regan dan Narendra.