HAANIYA.

HAANIYA.
Kekesalan Lita.



" Hai anak-anak! maafkan mommy, harus menyambut kalian dengan adegan yang seperti itu." Ucap wanita paruh bayah yang sejak tadi di tunggu oleh ketiga gadis itu. " Sayang, kalian jangan menatap mommy seperti itu dong. mommy sudah berubah dan tidak menerima pelanggan lagi. mommy khusus untuk orang tadi." Jelas mommy Mayang saat ditatap penuh curiga oleh Hani dan Lita, sementara Naela terlihat begitu santai, seakan tahu sesuatu.


" Memangnya dia siapa mom! kok sampai sespesial itu?" Tanya Lita.


" Dia itu papi kamu sayang! baru dua tahun mommy ketemu lagi sama dia! kebetulan dia lagi cari wanita untuk memuaskan kebutuhannya. karena istrinya telah lumpuh juga struk dan tidak bisa lagi memberikan apa yang papi-mu butuh. Jadi mommy menawarkan diri untuk membantunya. Karena itu kami memutuskan untuk menikah siri! toh mommy juga masih cinta sama papi kamu itu." Jelas Mommy Mayang panjang kali lebar, sembari menunjuk kertas yang menjadi bukti mereka telah menikah siri.


"Mom, segampang itu! mommy lupa, dulu dia nggak ada rasa tanggung jawabnya, kenapa sekarang mommy dengan gampang nawarin diri ke orang itu sih." protes Lita yang tak habis pikir dengan jalan pikiran mommy-nya, dan apa tadi mommy-nya bilang, masih cinta. oh no! itu terlalu klise untuk di terima oleh akal sehat Lita.


" Lita, kamu tidak boleh ngomong kaya gitu! mau bagaimana pun dia, dia tetap ayah kamu." Bentak mommy Mayang kepada putrinya itu. sementara Hani cuma diam, karena ia juga sepemikiran dengan Lita. hanya saja ia takut penolakannya akan mengecewakan hati mommy Mayang. Apalagi Mommy Mayang terlihat begitu bahagia saat membahas pria yang di sebut sebagai ayahnya Lita.


"Maaf mommy, aku sudah nyaman tidak punya ayah dan aku tidak bisa terima pria itu. toh selama ini juga dia nggak pernah nyariin kita. Jadi aku harap mommy tidak memaksa aku untuk mengakuinya sebagai ayah. aku nggak akan mau." Tegas Lita, kemudian beranjak dari tempat duduknya, sebelum meninggalkan ruangan itu.


" Lita, Lita tunggu." Panggil mommy Mayang tapi, Lita pura-pura tidak mendengarnya.


" Mom, biarkan Lita sendiri dulu, ia perlu membutuhkan waktu untuk menerima semua ini." Sahut Hani, sengaja menahan tangannya mommy agar tidak mengejar Lita. karena wanita itu tahu saat ini Lita membutuhkan waktu, untuk sendiri.


Setelah Lita pergi, Hani kehilangan mood untuk membahas pekerjaan, ia hanya berpesan kepada mommy akan kembali lagi. setelah itu dia pun menyusul Lita, bersama Naela.


Hani mencari kesana-kemari, tapi tidak menemukan sahabatnya itu. ia pun memutuskan untuk menelpon Lita, syukurnya wanita itu masih mau menjawab panggilannya. "Kamu dimana?" Tanya Hani, kepada Lita, begitu gadis itu menjawab panggilannya.


" Aku di parkiran." Jawab Lita.


" Ya udah tunggu di sana." Titah Hani, sebelum mengakhiri panggilannya, begitu saja dan menyusul Lita ke parkiran.


" Dimana dia?" Tanya Ela, sembari mengikuti langkah Hani.


" Parkiran."


" Terus kita pulang nih! nggak jadi have fun malam ini." Hani menjawab dengan gelengan kepala, membuat Ela bingung. Entah apa yang di maksud, oleh gelengan kepalanya. Nggak jadi pulang atau nggak jadi Have fun." Maksudnya?"


" Kita akan pulang Nggak jadi Have fun. Kak Ela sayang! mana mungkin kita bisa have fun dengan suasana hati Lita yang seperti itu! lagian aku juga masih Lelah, Setelah perjalanan kita kemarin." Jawab Hani, sambil merangkul pundak Ela, keduanya pun berjalan beriringan menuju parkiran.


Setibanya di parkiran! ternyata benar Lita benaran ada disana, wanita itu sedang duduk di atas kap mobil Hani sembari menghisap sebatang rokok yang ia sematkan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya mendongak kepalanya ke atas.


Pemandangan seperti itu, bukanlah sesuatu yang baru untuk Hani, Karena sesekali Hani juga merokok! walaupun tidak seperti orang yang kecanduan. mereka hanya menghisap nikotin itu untuk menenangkan pikiran, jika merasa lebih baik mereka akan menyudahinya.


" Kamu sedih." Tanya Hani, sembari membuka bungkus rokok di samping Lita, mengeluarkan satu untuk Naela dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian ia duduk di samping kanan Lita, sementara Ela mengambil posisi duduk di samping kiri.


" Nggak, ngapain aku sedih untuk pria yang tidak tahu bertanggung jawab seperti itu,aku hanya kesel aja sama mommy. kok gampang banget beri maaf ke orang itu." Jawabnya.


" Tapi ini sudah menjadi keputusan mommy, harusnya sebagai anak kita mendukung! toh yang terpenting mereka menikah." Ucap Hani, gadis itu mencoba untuk berpikir positif.


" Lagian, kalau kamu lihat dari sisi baiknya! mommy jadi benar-benar berhenti menerima pelanggan dan lebih fokus ke ayah kamu_"


" Dia bukan ayah Aku Kak Ela." Lita dengan cepat memotong ucapan Naela. Karena tidak suka Naela menyebut orang itu sebagai ayahnya.


" Opss sorry, maksud aku Om itu! karena mommy semenjak bertemu lagi dengan orang itu. mommy jadi benar-benar berhenti." Jelas Ela " Kamu boleh kecewa dan marah sama om itu, tapi kamu nggak boleh lampiaskan ke mommy. karena aku yakin sebelum mengambil keputusan ini mommy sudah memikirkannya." Lanjutnya berharap Lita mengerti.


" Entahlah, aku nggak tahu. Kita pulang aja yuk." Ujar Lita, wanita itu, terlihat tidak ingin membahas keputusan mommy-nya.


"Hmmm." Gumam Hani. mereka pun turun dari kap mobil Hani. Kemudian membuang puntung rokok ke tempatnya.


Setelah itu mereka bertiga masuk kedalam mobil dan kali ini Hani-lah yang menyetir Sebab gadis itu mengerti suasana Hati Lita. " Pulang Ke rumah apa apartemen?" Tanya Lita.


" Rumah aja! lagian kita udah banyak masalah, jangan nambah masalah lagi, aku capek mikirnya."Jawab Hani, Membuat Ela terkekeh! karena wanita itu tahu, jika kepulangannya malam ini hanya akan menambah masalah untuknya. Sebab ia yakin, kakeknya tidak mungkin tanpa alasan datang kekediaman keluarga Xavier tadi.


" Tapi saran aku sih! ada baiknya kamu jangan pulang sekarang?" Ujar Lita, membuat Hani mengerutkan keningnya. Sembari menatap wanita itu dari kaca spion yang ada di atasnya.


" Kenapa?"


" Nggak papa. Cuma nyaranin aja." Jawab Ela. ia ingin mengingatkan Hani akan rencana perjodohan itu tapi khawatir akan memperburuk moodnya. Akhirnya Ela memutuskan untuk diam.


Setengah jam berkendara, akhirnya mobil Hani sampai di rumah! wanita itu sedikit terkejut, saat mendapati Melly, Dian, Dion dan Ken. menunggunya.


" Kalian sudah makan?" Tanya Dian, mencoba untuk mencairkan suasana.


" Kita sudah makan kok Bun." Jawab ketiganya kompak. Namun kenyataannya mereka belum makan, hanya saja mereka tidak berselera untuk makan. itulah mengapa mereka menjawab seperti itu.


" Kalau kalian sudah makan, kalian boleh ke kamar! kecuali Hani, karena ada yang harus kita bicarakan." Sambung Melly. Ela yang mengerti segera mengangguk kepalanya dan melangkah menuju kamar Hani, sembari menarik tangan Lita. meninggalkan Hani yang masih membekuk bingung di tempatnya.