HAANIYA.

HAANIYA.
Dikejar Regan.



Toh mereka hanya bisa mengikuti dari jauh tanpa bisa menyentuhnya. Karena jika mereka ingin, mereka sudah melakukannya sejak tadi, saat dia di taman bukan hanya diam sambil mengikuti Seperti sekarang ini. Dan kalau pun tebakannya salah, Hani yakin mereka sedang menunggu perintah dari Regan.


Tapi siapa sangka tebakan itu tidak sepenuhnya salah, karena bandara itu mendadak ramai dengan pria-pria bertubuh kekar dengan penampilan yang sama. Jantung semakin berdetak kencang saat menyadari pria yang ia hindari selama dua tahun ini melangkah kearahnya. Di ikuti oleh anak-anak, buahnya. Tak ingin mati konyol atau menjadi korban pemerkaosaan pria itu Hani langsung beranjak dari duduknya dengan perlahan-lahan.


" Ivanna, sedikit saja kamu bergeser dari tempat itu. Peluru ku ini akan bersarang pada betis kamu." Ancam pria itu, ia bahkan sudah mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan mengarahkan kepada Hani.


Para penumpang yang sedang menunggu keberangkatan itu langsung, menyingkirkan tak ingin berurusan dengan Regan. Mereka lebih mementingkan nyawa mereka ketimbang gadis malang itu.


Tapi bukan Hani, namanya jika dia menjadi kelinci yang imut dengan menuruti kata-kata pria itu. Karena beberapa detik kemudian suara tembakan menggelegar di bandara. Hal itu membuat beberapa pesawat menunda jadwal keberangkatan mereka begitu pun dengan pesawat yang akan di naiki oleh Hani dan semua itu atas perintah Regan. Tidak akan ada pesawat yang boleh berangkat


Sementara wanita itu terus berlari sembari menghindari peluru yang ditembakkan Regan kepadanya. Dan tanpa dia berusaha menghindar pun peluru itu tidak akan pernah mengenalinya. Karena Regan sengaja membuat tembak itu meleset, untuk menakut-nakuti Hani. Gadis itu terus saja berlari tidak peduli teriak pria itu di belakang sana.


" Sial kenapa aku bisa salah perhitungan seperti ini." Umpatnya pada diri sendiri. Sebab dia yang terlalu bersemangat untuk berziarah ke makam keenan dan mengenang masa-masa indah mereka. Justru salah memperhitungkan waktu. Dia justru memesan tiket setelah menghitung jarak tempuh dari Indonesia ke negara ini yang mana membutuhkan waktu dua belas jam jika di tempuh dengan pesawat komersil. Sementara Regan memiliki jet pribadi, tentu saja dia bisa lebih cepat sampai dari perkiraan Hani." Honey, sekali lagi tolong aku! dan aku janji tidak akan bandel lagi." Gumamnya dalam hati, seakan hal itu bisa di dengar oleh Keenan.


" Kamu tahu, kamu itu cerdas, licik dan lincah. Jika kamu terdesak gunakan semuanya, kepintaran kamu, kelincahan dan sertakan kelicikan itu, Aku yakin kamu akan menang. Saat kamu melakukan itu." Ucapan Keenan langsung terlintas di benaknya membuat langkah kakinya, terhenti wanita itu hendak berbalik bersamaan dengan Regan yang melepaskan peluru berikutnya. Pria itu salah perhitungan dia pikir Hani akan terus berlari, hingga peluru itu akan kembali meleset lagi. Tapi sayangnya semua sudah terlambat, peluru itu bersarang tepat satu jengkal diatas lutut kanannya.


" Ahhmmmm." Hani mengerang menahan Sakit, Sementara langkah pria itu terhenti di ikuti oleh anak-anak buahnya.


Pria itu menatap Hani dengan tatapan bersalah. Sementara Hani menatapnya penuh kebencian. " Kalau kamu ingin membunuhku lakukan itu dengan cepat? Arga aku bisa menyudahi rasa sakit-ku." Wanita itu sedikit menunduk. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya.


Sementara Regan mulai mengikis jarak di antara mereka, untuk melihat keadaan Hani. " Andai kamu bisa mencintaiku, mungkin semuanya tidak akan seperti ini, kamu tidak perlu merasakan sakit itu." Ucap Regan, pria itu menarik tubuh Hani, membawanya masuk kedalam pelukannya.


Dia bahkan dengan berani menarik tengkuk Hani kemudian mencium bibirnya dengan begitu kasar, Namun Hani terus memberontak, dia bahkan tidak segan-segan mengigit bibir Regan hingga berdarah.


Sementara Haani hanya menunjuk ekspresi datar tanpa dosa. Bahkan pria itu juga sama seperti dirinya. " Jika kamu tidak punya malu dan suka pamer kemesraan di depan anak buah-mu, lakukan itu dengan Wanita lain jangan aku." Ucap Hani membuat Regan menaikkan satu alisnya, sembari menatap Hani penuh tanda tanya.


" Jadi, kalau tidak ada mereka! Kamu mau aku cium?" Tanya Regan. Sementara Hani tidak menjawabnya, wanita itu justru mengambil tissue dari dalam rangkanya, berserta suntikan kecil dimana obat bius sudah tersiap di dalam tabung suntik itu tanpa sepengetahuan Regan, Sementara Regan yang sudah tidak tahan ingin kembali merasakan manis dari bibir Hani meminta orang-orang suruhannya untuk pergi, toh Hani tidak akan bisa kabur karena dia tertembak. Tak lupa memerintahkan orang kepercayaannya untuk membuka kembali bandara.


Dan Hani dapat mendengarkan hal itu, tapi dia berpura-pura seakan tak mendengar apapun. Selesai berbicara dengan para bawahannya itu dan memastikan Mereka telah pergi, Regan menarik Hani membawanya di sebuah Korindo sepi, masih dia area bandara.


Pria itu itu mendorong Hani pada dinding yang ada di sana, kemudian mencium bibirnya seperti sebelumnya. Jika tadi Hani menolak, untuk yang kali ini dia justru menyambut ciuman itu dan tidak ragu-ragu membalas.


Membuat Regan terlena, saking terlenanya, tangannya mulai bergerak liar di punggung Hani, ia bahkan tak sungkan mere-mas bokong wanita itu. Saat tak ada penolakan sedikitpun. Hingga telinga Hani menangkap pengumuman keberangkatan pesawatnya. Wanita tanpa membuang waktu langsung menancapkan jarum suntik itu pada leher Regan pria itu terkejut dan langsung menekan luka Hani, membuat ia meringis kesakitan, tapi Hani mencoba menahan, kemudian dengan cepat dia menarik pistol Regan dari jasnya dan melepaskan dua peluru pada Paha dan betis Regan.


Dalam sekali tepuk, Hani dapat membalikkan keadaan. Ternyata benar yang di ucapkan kekasihnya kalau dia itu cerdas , licik dan Lincah. Dan dengan sedikit keberanian dia memenangkan ini. " Kamu tahu, kamu buat aku ingin muntah, sia-lan dan tadi apa kamu bilang! Cinta? Hahahha lucu sekali, Apakah mungkin untuk aku jatuh cinta kepadamu, Ketika yang aku tahu hanyalah kebencian, di sini." Ucapnya sembari menunjuk dadanya sendiri. Sebelum berlari sambil menyeret-nyeret kakinya meninggalkan pria yang hampir kehilangan kesadarannya itu.


" Sudah cukup main-mainnya Ivanna, kali ini aku akan biarkan kamu pergi! Tapi saatnya tiba, kamu akan memohon kepadaku."gumam Regan, tekadnya begitu kuat dengan tangan yang terkepal.


Di tempat lain, Hani duduk dengan tenang di tempat duduknya, pistol yang dia ambil dari Regan sudah dia buang ke tong sampah Sebelum melewati pemeriksaan.


Begitu pesawatnya lepas landas dan mengudara. Hani langsung melepaskan sabuk yang terpasang di tubuhnya Kemudian mengambil ranselnya, Sebelum berjalan ke toilet, saat di tanya pramugari dia hanya menjawab ingin menganti baju. Pramugari itupun mengangguk dan mempersilahkan.


Namun begitu tiba di kamar mandi, ia justru berusaha untuk mengeluarkan peluru dengan pisau kecil, yang telah ia siram alkohol.