HAANIYA.

HAANIYA.
Marah tanpa sebab.



"Ngapain disini?" Tanya Ela, ketika ia menghampiri Lita di rooftop.


" Pengen aja! Aku malas di bawah, apalagi sama kakak kamu itu." Jawab Lita.


" Aku juga kesal sih! Bukan hanya kamu aja, tapi gimana, Hani cariin kamu tuh! Dia udah di pindahkan ke ruang rawat." Sahut Lita, wanita itu ikut bersandar pada tembok pembatas, sembari menatap gedung-gedung tinggi yang jauh di sana. Suasana malam di tambah kelap-kelip lampu dari gedung-gedung itu, membuatnya terlihat begitu indah.


" Iya sebentar lagi aku turun kok."


" Ya udah aku temani kamu disini, nanti kita turun sama-sama." Ucap Ela.


" Kamu tahu aku disini dari siapa?" Tanya Lita, karena seingatnya tadi sebelum dia pergi di tidak mengatakan apa-apa kepada mereka.


Ela tersenyum dengan sedikit gelengan kepala. " Kurang apa aku mengenal kamu sama Hani. Kalian berdua itu suka tempat-tempat seperti ini di antara sekian banyak tempat-tempat terindah yang bisa memberikan ketenangan, tentu saja aku akan mudah mengetahui dimana kalian." Jawab Ela, membuat Lita mengangguk kepalanya.


Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka, hingga keduanya memutuskan untuk turun dan kembali keruang rawat Hani.


Saat membuka pintu ruang itu, tidak hanya ada Kai dan Rendra saja, karena Arga pun sudah ikut bergabung bersama mereka berdua. Sedangkan Hani sedang tertidur di atas ranjang dengan mata terpejam. Dan Lita yakin, ketiga pria itu pasti berpikir jika Hani sedang terlelap. Tapi nyatanya tidak. Karena seorang Hani tidak akan terlelap dengan mata yang tertutup sempurna seperti ia hanya berpura-pura saja.


" Ta, sini." Dan benar saja begitu dia masuk Hani langsung memanggilnya sambil mengulurkan tangan kepada Lita untuk wanita itu genggam.


Hal itu membuat Rendra, Arga dan Kai terkejut juga bingung, bagaimana tidak sejak tadi mereka berbicara dengan nada berbisik agar tidak menggangu tidur Hani, tapi lihatlah begitu wanita itu langsung mengulurkan tangannya serta memanggil Lita begitu pintu itu terbuka.


" Kamu udah makan," tanya Lita, wanita itu duduk di samping tempat tidur Hani, sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


" Aku ngantuk, temani aku sini, aku ingin tidur." Bukannya menjawab pertanyaan Lita, wanita itu justru memintanya untuk berbaring di sampingnya. " Aku belum lapar, nanti kalau sudah lapar pasti aku akan makan." Ucap Hani lagi, sedikit bergeser memberi tempat untuk Lita.


Lita pun akhirnya menurut, ia berbaring samping Hani. Walaupun Lita tidak yakin Hani akan tertidur Seperti yang dia katakan. Tapi dia cukup yakin, sahabatnya itu membutuhkan sesuatu untuk dia peluk.


Namun baru jua dia berbaring, Rendra sudah memintanya untuk turun." Dia istriku, biar aku saja yang menemaninya." Ucap Rendra pada Lita.


"Aku ingin Lita, bukan kamu." Tegas Hani, namun Rendra tidak menuruti ucapan Hani begitu saja.


Pria itu justru bertanya kepada Lita. " Mau turun sendiri atau mau di bantu?"


Mau tak mau Lita pun turun dari ranjang itu dan membiarkan Narendra yang menemani Hani, Lita memilih berbaring di ranjang yang sama dengan Lita. Karena sebab ruang itu memiliki ranjang lain, yang di siapkan khusus untuk keluarga yang ingin beristirahat, saat menjaga pasien.


Sementara itu Hani yang kesal kepada Narendra memilih untuk memunggungi suaminya itu. Hal itu membuat Narendra dapat melihat tanda yang di tinggalkan Regan pada tengkuk leher Hani, walaupun tanda kecil namun terlihat begitu jelas pada kulit Hani yang putih.


Narendra tentu saja terkejut akan hal itu, dia belum pernah melakukan apa-apa kepada istrinya, tapi siapa yang berani menodai kulit istrinya.


"Dia kenapa?" Tanya Arga, Kai mengeleng kepalanya sembari menaikkan kedua bahunya tidak tahu. Pria itu bahkan terkejut saat mendengar suara pintu yang tertutup dengan kuatnya itu.


"Kenapa?" Giliran Lita yang bertanya kepada Hani dan wanita itu kini sudah duduk tepat di samping sahabatnya itu.


" Nggak tahu, kesambet kali." Jawab Hani tidak peduli. " Sini temani aku, Entar kalau udah mood juga balik sendiri." Ucapnya lagi, kepada Lita, sahabatnya itu tentu saja menurut.


Begitu Lita telah berbaring pada tempat Sebelumnya, Hani langsung menatap kedua pria yang masih berada di ruangannya itu.


" Permisi? Maaf sepertinya kehadiran kalian sudah tidak di perlukan di ruangan ini, jadi sebaiknya kalian pulang. Karena keberadaan kalian membuat kita tidak nyaman, maaf bukan bermaksud begitu tapi kenyataannya memang seperti itu." Ucap Hani tanpa perasaan. Ia tidak begitu peduli jika kata-katanya itu mungkin saja akan membuat kedua pria itu tersinggung, toh bukan dia yang meminta mereka untuk ada disini.


" Diih nggak bersyukur banget udah di tolongin juga." Sungut Kairan, pria itu kemudian beranjak meninggalkan ruangan rawat Hani, di ikuti arga. Yang hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Lita tidak mempersoalkan ucapan Hani juga kepergian kedua pria itu karena dia sendiri juga tidak nyaman dengan ke hadiran mereka.


Setelah ruang itu Hening tanpa ada gangguan, Hani pun beranjak untuk duduk di bantu oleh Lita, lukanya masih terasa sangat sakit, hingga membuat pergerakannya terbatasi.


Malam ini itu, Lita dan Hani lewati dengan bercerita, karena Hani kesulitan untuk tidur jadinya Lita memilih untuk menemani sahabatnya itu.


...💕💕💕💕...


Setelah kejadian malam itu, Rendra tidak pernah kembali lagi ke rumah sakit, sampai Hani di bolehkan untuk pulang, hal itu membuat Ela bingung, Sebab malam itu dia benar-benar kelelahan dan langsung tertidur begitu kembali keruang Hani.


Saat dia bertanya, kepada Lita dan Hani, keduanya tidak mengatakan apa-apa. Karena Rendra pergi begitu saja dan tidak tahu alasan pria itu pergi.


Giliran dia bertanya kepada Kai dan Arga, keduanya justru meminta Lita untuk bertanya kepada Rendra nya langsung, menyebalkan bukan.


"Kamu yakin, mau langsung pulang ke rumah mertua kamu?" Tanya Lita ketika mereka berada di dalam mobil, tadi saat mereka hendak masuk kedalam taksi, supir pribadi keluarga Sanjaya langsung menghampiri mereka berdua dan berkata ia di tugaskan untuk menjemput Hani pulang ke rumah.


" Iya, udah lama juga kan aku perginya. Nggak enak mama mertua aku kalau aku masih belum pulang juga." Terserah kamu aja sih, mana baiknya.


Hani pun mengangguk, setelah itu ia meminta supir untuk mengantar Lita ke apartemennya terlebih dulu barulah mengantarnya untuk pulang.


Saat mobil yang mengantar Hani tiba di kediaman mertuanya, suasana rumah itu terlihat sepi, membuat Hani sedikit lega, setidaknya tidak ada yang langsung menanyainya, tapi begitu kakinya melangkah memasuki ruang keluarga, Luna yang tengah berada di sana langsung menghampirinya kemudian memeluknya. " Sayang kamu, sendiri aja? Rendra kemana nak kok nggak sama-sama?"Tanya Luna sembari menengok kebelakang.


" Aku disini Mak! Tadi sengaja minta Hani, soal aku harus terima telepon dulu." Sahut Narendra, entah pria itu muncul dari mana kini sudah berada di samping Hani.


" Ya udah kalian ke kamar istirahat, mama tahu kalian pasti capekkan perjalanan dari Bali ke sini."


" Iya ma! Kita ke kamar dulu." Sahut Rendra tanpa menatap sedikit pun kepada Hani. Bahkan pria itu berlalu begitu saja tanpa menunggu Hani. Luna yang sudah makan asam garam tentu saja menyadari hal namun dia membiarkan anak dan menantunya itu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.