
Baru dua jam matanya terpejam, kini wanita itu sudah membuka matanya kembali. Dengan menahan sakit di kepalanya, ia duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menjuntai kebawah.
Wanita itu bukan tanpa sengaja datang ke tempat ini, dia datang karena hari ini adalah hari kepergian pria itu, dia datang dan berani membahayakan nyawanya sendiri karena makam pria itu juga ada disini.
Sebab ada yang bilang, cara satu-satunya untuk mengurangi sedikit rasa rindu kepada orang yang tidak bisa kita lihat lagi dengan mengunjungi tempat peristirahatan terakhir mereka. Entahlah benar atau tidak hal itu, Hani tetap ingin datang, Walaupun hal itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa untuk perasaannya saat ini.
Begitu sakit kepalanya sedikit reda, Hani langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke kamar mandi, untuk membasuh wajahnya dan menyikat gigi. Setelah selesai Hani kembali ke kamarnya, mengambil ransel yang dia bawa untuk menganti outfitnya Sebelum cek out dari hotel.
Karena rencananya malam nanti, dia akan kembali ke Bali, Sebelum kedua sahabatnya mendapatkan masalah karena dirinya, lagian dia juga tidak bisa berlama-lama di tempat itu karena Regan bisa saja kembali dan menemukan dirinya disini.
Dan Hani tidak ingin hal itu sampai terjadi, dia mungkin bisa melarikan diri dari pria itu tapi apa mungkin pria gila itu akan membiarkan dirinya lolos lagi, begitu saja. Syukur-syukur kalau di temukan dia langsung di tembak mati, ya nggak papa! Tapi kalau diperkaosa gimana, mengingat pria itu begitu terobsesi untuk membuatnya mengangkang cantik di hadapannya dan Hani tentu saja tidak akan pernah mau melakukan hal itu. Dihadapkan dengan sang suami dan pria yang dia cintai saja, Hani tidak pernah berpikir untuk menyenangkan mereka dengan membuka kedua pahanya apalagi regan. Lagian sampai detik ini, keintiman yang pernah dia lakukan dengan pasangannya, baru sampai di tahap peluk cium saja.
Setelah selesai cek out di hotel yang hanya di tempati dua jam itu, Hani langsung memesan taksi untuk mengantarnya ketujuan, di mulai dari toko bunga, makan dan tempat-tempat yang pernah dia dan Keenan datangi. Karena khusus untuk hari ini Hani ingin mengenang Keenan.
Pria biasa yang pernah tulus kepadanya! Walaupun dia tahu Hani memiliki segalanya terlepas dari kekayaan orang tuanya tapi Keenan tidak pernah memanfaatkan dirinya sama sekali. Pria itu justru selalu memintanya untuk mengerti ibunya, saat Hani bercerita tentang sikap Melly.
Banyak Hal baik yang di lakukan Keenan untuk Hani, menjadi pendengar yang baik saat di ingin bercerita, pemberi nasihat dikala dia sangat membutuhkan hal itu, Memberikan bahunya untuk Hani bersandar di kala dia lelah dan selalu menghapus air matanya di saat dia menangis dan satu yang tak bisa Hani lupa, tatapan matanya yang penuh cinta untuknya, tidak ada kebohongan disana, Yang ada hanya cinta dan Keenan tidak pernah sekalipun memalingkan pandangannya dari Hani saat keduanya bersama. Walaupun hal itu sering kali membuat Hani risih sendiri dan kesel. Tapi pada akhirnya ia merindukan saat-saat di tatap lagi oleh Keenan.
Taksi berhenti depan sebuah toko bunga. Sebelum turun Hani berpesan kepada supir taksi itu untuk menunggunya, sebab dia tidak akan lama. Begitu supir taksi itu mengangguk Hani langsung turun dari taksi itu dan melangkah masuk kedalam toko bunga itu.
" Selamat datang di toko kami." Sapa pelayan toko, sembari tersenyum ramah.
" Terima kasih, Aku ingin membeli buket untuk kekasihku." Sahut Hani.
" Bunda seperti apa yang anda inginkan?" Tanya sang pelayan toko.
" Aku ingin mawar putih saja."
" Baiklah tunggu sebentar anda akan mendapatkannya." Pelayan itu langsung masuk ke sebuah ruangan dan tak lama setelah itu, ia keluar dengan membawa sebuket mawar putih di tangannya. " Ini bunga yang anda inginkan, kekasih anda pasti akan menyukainya." Hani hanya tersenyum seraya mengangguk kepalanya.
Hani sebenarnya tidak tertarik untuk hal-hal seperti itu atau lebih tepatnya tidak percaya, tapi dia kasihan kepada wanita paruh baya itu dan ingin membantunya.
" Berapa yang harus aku bayar?" Tanya Hani.
" Wanita itu tersenyum seraya berkata, kamu cukup membayar lima dollar untuk satu tangkai bunga dan kamu akan mendapatkan ramalan gratis, cukup beritahu namamu saja." Jawab wanita paruh baya itu.
" Aku ingin membeli semua apa boleh." Tawar Hani.
Wanita paruh bayah itu tersenyum sembari menggeleng kepalanya. " Terima kasih karena sudah mengasihani aku, Hatimu begitu baik. Tapi aku hanya menjual bunga ini sesuai kebutuhan saja. Tidak untuk mencari simpati." Jelas wanita paruh baya itu, membuat Hani merasa sedikit bersalah.
" Maaf."
" Tak apa, kamu tidak perlu minta maaf, aku tahu kamu tidak bermaksud Seperti itu. Apa kamu ingin mencoba ramalanku." Ucap Wanita itu seraya mencoba untuk menawarkan dagangannya lagi.
"Tentu saja aku mau. Dan aku akan membeli dua tangkai bunga." Sahut Hani sembari mengambil dua tangkai bunga, satu bunga mawar merah dan satu lagi bunga lili. Setelah memberikan harga bunga itu tentunya. " Bunga lili ini untuk Thalita dan Mawar merah ini Untuk Naela Azzura." Lanjutnya Seraya menyebut nama sahabat-sahabatnya.
" Yang bunga lili itu, aku melihat wajah seorang anak, mungkin dia akan memiliki anak dalam waktu dekat, Sementara untuk mawar merah itu aku ada hati yang di selimuti kabut. Mereka saling mencintai tapi tidak pernah menyadarinya." Jelas wanita ini membuat Hani mengerutkan keningnya, tentu saja dia tidak percaya akan hal itu, karena Lita tidak dekat dengan pria mana pun jadi tidak mungkin dia akan memiliki anak dalam waktu dekat, menikah saja belum apalagi punya anak. Sementara Ela, saling mencintai dengan siapa. Dia saja tidak pernah dekat dengan pria sama seperti Lita bagian dia bisa saling mencintai.
Walaupun begitu, Hani tidak ingin membuat mengecewakan orang lain dengan mengatakan tidak percaya. " Terima kasih, aku pergi dulu." Ucap Hani setelah itu dia berbalik untuk pergi tetapi ucapan wanita itu menahan langkah kakinya.
" Jangan terlalu jauh dari ibumu, sebab hal itu hanya akan menguntungkan seseorang yang memiliki dendam kepadanya di masalah lalu. " Hani langsung berbalik menatap tak percaya kepada wanita paruh baya itu. " Pulanglah kamu akan tahu saat kamu berada disisinya."Antara percaya dan tidak. Mungkin ramalan untuk Naela dan Lita dia tidak percaya, tapi dari mana wanita itu tahu hubungannya dan Melly.
Treeett.
Suara klakson dari taksi yang di naiknya tadi menyadarkan Hani dari lamunannya, wanita itu kemudian berjalan kearah taksi. " Maaf ya pak." Ucapnya kepada sang supir taksi. Kemudian memintanya melanjutkan perjalanan mereka. Saat taksi itu bergerak menuju tujuan mereka selanjutnya.