
Keesokan harinya, semua anggota keluarga! Telah berkumpul untuk sarapan, mereka masih di hotel tempat di gelarnya pesta pernikahan anak-anak mereka semalam. Meja yang di siapkan untuk seluruh anggota keluarga yang masih menginap di hotel itu, sudah terisi, bahkan Hani pun sudah duduk disana dan tinggal satu kursi saja yang masih kosong. Kursi itu di khususkan untuk Narendra.
Entah sedang apa pria itu bersama kekasihnya, Hani juga tidak tahu dan tidak ingin tahu akan hal itu, Hanya saja posisinya yang kini telah menjadi istri Narendra, membuat semua orang memusatkan pandangan mereka kepada dirinya juga kursi yang seharusnya di duduki oleh suaminya.
" Hani dimana suami kamu?" Tanya Luna, Mama mertuanya, mewakili rasa penasaran semua orang.
" Bang ren_ Bang Rendra masih tidur ma! Hani nggak enak buat banguninnya." Jawab Hani, mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada mereka dengan sedikit berbohong! sehingga ia sedikit gugup saat berbicara. Namun siapa sangka, setelah ia mencoba melindungi mereka berdua, Narendra justru, tiba-tiba muncul disana bersama Nahla, membuat usahanya menjadi sia-sia.
" Kamu tidak perlu berpura-pura Haaniya! Harusnya kamu tetap mengatakan yang sebenarnya. Karena semalam aku menghabiskan malam bersama Nahla." Ucap Narendra dengan sombongnya, tanpa memikirkan perasaan orang tuanya, terlebih Hani, Gadis itu tak tahu salahnya di mana hingga, mereka dengan tega melakukan hal ini. " Maaf om aku tidak bermaksud menyakiti putri om, tapi akupun tidak dapat membohongi perasaanku. Yang aku cintai itu Nahla, Bukan Haaniya! Lagian selama ini aku nggak pernah menutupi hubungan kami, kalian saja yang terlalu Keukeh, Untuk menikahkan kami! jadi jangan salahkan kita dong." Ucapnya lagi, Narendra bahkan sengaja mencium pipi Nahla, didepan semua orang, ia bahkan tidak takut sedikitpun saat melihat tangan Dion terkepal." Oh iya, karena kita tidak saling mencintai! aku ingin pernikahan ini hanya berjalan enam bulan saja setelah itu aku akan menceraikan Hani dan menikahi Nahla." Seakan tak puas dengan kata-kata sebelumnya, Narendra kembali mengeluarkan kata-kata yang lebih menyakitkan, sembari memberi kode kepada Kevin untuk menyerahkan map yang dia siapkan untuk ditangani oleh Hani.
Membuat Hani tersenyum getir, seraya bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ia punya salah apa sih sama mereka, Hingga ia di paksa serta di dorong masuk kedalam situasi ini. Narendra juga, Hani tahu pria itu sangat membencinya sejak kecil tapi dia tidak tahu jika rasa itu sebesar ini." Aku terima, enam bulan kan." Sahut Hani, walaupun wanita itu sudah sangat kecewa dengan situasinya saat ini. tapi ia tetap harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Harga dirinya, yang sudah terlanjur di injak-injak.
" Cukup Hantikan semua ini." Teriak Dion sembari mengebrak meja di depannya. " Jangan tanda tangan Haaniya, karena Daddy, yang akan mengurus pembatalan pernikahan, Hari ini juga! tidak perlu menunggu sampai enam bulan dan Daddy tidak akan membiarkan dia menyakitimu." Ucap Dion lagi, tapi kali ini, ucapannya tidak di dengar oleh Hani, Karena Hatinya teramat tawar untuk segala bentuk kepedulian yang mereka tunjukkan, dia terlanjur sakit untuk di katakan baik-baik saja. tapi Hani itu kuat, Walaupun saat ini ia tengah berdarah-darah dengan rasa sakitnya. Tapi ia tidak menunjukkan kepada semua orang, gadis itu tetap tersenyum di atas lukanya. ia tidak ingin di permalukan lebih dari ini.
" Kenapa dad! Kenapa Daddy harus nunggu sampai Hani di perlakukan seperti ini, baru mau bertindak. Apa Hani harus mati dulu baru dinilai berharga, iya?" Tanya Haaniya, sembari memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
" Haaniya_"
" Oh, Hani salah lagi ya mom? maaf." Sambung gadis itu sebelum, Melly sempat untuk berbicara.
" Sayang, kita pergi dari sini yuk! aku bosan nih lihat drama yang di ciptakan istri kamu itu, lagian dia juga udah tanda tangan kan." Ucap Nahla, membuat semua orang melihat sikapnya dan sikapnya itu yang membuat Luna dan Mertuanya menentang hubungan mereka, andai saja dia pung setengah Sikap Hani, Pasti hubungan itu sudah di restui sejak lama.
" Ayo sayang." Sahut Narendra. setelah berpesan kepada Kevin untuk mengurus kontrak itu.
" Cih, kamu itu menjijikkan sekali, bersikap seakan kamu yang paling terluka padahal kamu sendiri yang membuat diri mu terluka." Ejek Nahla ketika ia hendak melewati Hani, sementara Hani hanya memasang wajah datarnya dan tidak membalas ucapan wanita itu.
" Kamu bilang kamu dan Nahla saling mencintai bukan?" Tanya Luna. Narendra pun dengan cepat mengangguk kepalanya." Tapi mama nggak yakin dengan hal itu." lanjutnya lagi membuat Narendra mengerutkan keningnya.
" Apa maksud mama!"
" Kalau kalian saling mencintai dan tidak bisa di pisahkan! kenapa kalian sudah lebih dulu mendorong Hani menjauh?" tanya Luna lagi, Namun tidak ada pembelaan apapun dari keduanya. Dan saat Melly dan Dian Hendak berbicara, Luna menaikkan tangannya meminta mereka untuk Diam dan menyerahkan semua itu kepada. " Kalian tidak punya jawaban kan? tentu saja kalian tidak bisa menjawab karena kalian sebenarnya tidak saling mencintai."
"Stop Ma! mama tahu apa tentang perasaan kita berdua?" Sahut Narendra.
" Semuanya! karena orang yang saling mencintai tidak akan takut kehilangan atau takut kepada wanita lain. Nahla, kalau kamu mencintai Narendra, apa kamu ingin membuktikannya." Tanya Luna. Wanita muda itu dengan cepat mengatakan iya. membuat Luna tersenyum smirik. Seraya berkata." Jauhi Narendra selama enam bulan, ke depan, jangan ganggu dia! kalau kamu merasa Hani bukanlah ancaman dalam hubungan kalian dan Narendra tidak akan berpaling kepadanya."
" Siapa takut! tetapi setelah itu Tante harus berjanji untuk merestui hubungan kita." Luna dengan yakin mengangguk kepalanya.
" Tapi kalau sampai kamu ketahuan menghubungi atau mendekati Narendra di belakang Tante, jangan berharap restu itu ada untukmu." Nahla kembali mengangguk dengan yakin.
" Ma!" Panggil Narendra.
" Kenapa! kamu takut akan berpaling kepada Hani."
" Cih, itu tidak akan pernah terjadi." Sahut Narendra.
" Jangan terlalu percaya diri Nak! karena kamu tidak akan pernah tahu apa saja yang akan terjadi dalam waktu enam bulan ke depan. Cukup jalanin peran mu sebagai suami yang baik, curahkan perhatian dan waktumu, walaupun hanya sekedar pura-pura, Jika pada akhirnya, Nahla masih di sana. kamu boleh menceraikan Hani." Ucap Wanita itu sembari menunjuk tepat di dada Narendra, tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan wanita itu, sehingga ia memberikan solusi seperti itu.
Luna kemudian berjalan kearah Hani masih mematung di tempatnya, gadis itu tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui rencana mertuanya. "Maaf sayang! maafkan kami yang telah memaksamu dalam situasi sulit ini." Luna memeluk sambil mengusap punggung Hani. "Apa yang dia lakukan hari ini sungguh sangat keterlaluan. Kamu harus membalasnya sayang, Buat dia jatuh cinta sama kamu, setelah itu tinggalkan dia." Bisik Luna, Gadis itu tahu, Luna ingin membangun ikatan dia antara mereka dan Hani tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia akan mengikuti permainan mertuanya. Karena Hani juga punya rencana sendiri. Nanti setelah enam bulan Hani akan benar-benar meninggalkan mereka termasuk keluarganya.