
Sejak meminta di buatkan bubur waktu itu Hani terus saja meminta hal-hal yang membuat kesabaran Narendra di uji.
Hani bahkan pernah terbangun pukul tiga pagi hanya untuk menikmati jajanan di depan sekolah.
Narendra berjanji akan memberikannya besok pagi tapi yang terjadi Hani justru menangis tersedu-sedu, membuat pria itu mau tidak mau mengantarnya walaupun pria itu tahu tidak ada pedagang kaki lima yang berjualan disana.
Namun demi istrinya dia dan Hani menunggu di depan salah gedung sekolah dasar dari jam Empat pagi sampai jam setengah sembilan.
Setelah Mendapatkan apa yang dia inginkan Hani tidak mencicipinya sedikitpun wanita itu justru berkata dengan entengnya jika dia sudah tidak menginginkannya lagi dan dia ingin segera tidur karena mengantuk.
Dan hal aneh-aneh itu tidak terjadi hanya sekali, namun berulang-ulang di satu minggu terakhir ini.
Percayalah kehamilan Hani, begitu memusingkan Narendra, karena permintaan Hani yang selalu menguji kesabarannya dan wanita itu begitu sensitif.
Namun Narendra hanya bisa mengikuti keinginan Hani, tak apa dia pusing asalkan sang istri dan calon anaknya, baik-baik saja.
" Sayang, kamu belum ingin menemui orang tua kita." Tanya Narendra. Pria itu menghampiri Hani yang sedang duduk di balkon sembari menatap pemandangan kota itu dan atas balkon kamar mereka sambil menikmati cake yang di pesannya.
" Ada apa?" Tanya Hani tanpa menjawab pertanyaan Narendra.
Narendra kemudian berlutut di depan Hani, memegang kedua tangannya dan menatap dalam kedua mata indah itu. " Kak Arga dan Lisa sudah kembali dari Bali. Besok Mama ingin membuat makan malam keluarga untuk kita semua di rumah kakek. Kamu mau kan kalau kita kesana? Sekalian kita ucapin selamat buat Kak Arga." Ucap Narendra sembari mencium punggung tangan Hani berharap wanita itu mengiyakan permintaannya.
"Honey." Panggil Narendra lagi, karena Hani hanya diam dan tidak menjawabnya.
"Apa itu harus?"
"Tentu saja, karena kita keluarga honey."
"Tapi aku melas kemana-mana, kamu saja yang pergi! Oke." Kata Hani. Wanita itu sangat malas untuk kemana pun dan dia juga belum in ingin bertemu siapapun. Hani masih nyaman dengan kesendiriannya.
" Honey, aku nggak akan pergi kalau kamu nggak pergi sama aku." Sahut Narendra, berharap Hani luluh berubah pikiran.
Tapi dia salah karena Hani tetap bersikeras tidak mau pergi" Terserah kamu, aku mau tidur." Hani kemudian beranjak turun dari tempatnya.
Wanita itu melangkah masuk kedalam kamar, meninggalkan Narendra yang masih berada di posisi yang sama.
Hani membaringkan tubuhnya di ranjang Setelah meletakkan cake-nya di atas nakas samping tempat tidur dan meminum air putih.
Mengambil ponselnya untuk menelpon Lita, pasalnya sudah satu minggu ini sahabatnya itu tidak pernah menghubunginya.
Hari itu semua berjalan lancar tanpa ada masalah sedikitpun, bahkan mama dan kakeknya Lisa juga ada disana.
Daddy dan Mommy-nya juga. Intinya semua keluarga mereka hadir, mengingat Arga adalah bagian dari Reval juga Jayden jadi mereka turut berbahagia untuk pernikahan anak mereka.
" Hai, apa kabar? Kamu tidak rindu kepadaku dan calon keponakan kamu ini?" Tanya Hani saat wajah Lita terpampang pada layar ponselnya.
" Aku sangat merindukanmu dan calon Keponakan-keponakanku. Dan lihatlah kabar aku disini baik." Sahut Lita dari seberang sana.
" Kamu yakin ta! Wajah kamu terlihat lelah sekali? Kamu seperti memiliki masalah? Apa aku harus menarik kamu untuk kembali ke Jakarta_"
"Jangan Haaniya, jangan lakukan itu! Aku baik-baik saja oke." Ucap Lita dengan volume suara yang sedikit meninggi, membuat Hani mengerutkan keningnya curiga.
" Jangan melihat aku seperti itu, sebaiknya kamu sambungkan dengan Ela, aku juga sangat merindukan dia." Pinta Lita, sengaja mengalihkan pembicaraan Lita agar Hani tidak banyak bertanya kepada-nya.
Sebab Lita tahu, seorang Haaniya itu memiliki tingkat kepekaan sangat tinggi kepada dirinya, sedikit saja dia bergeser dari tempatnya, Hani akan langsung curiga.
" Baiklah, aku juga merindukan adik ipar ku itu." Hani langsung menambahkan Ela.
Ketiga wanita itu tertawa Sambil bercerita, walaupun bagitu! Hani tetap fokus melihat gerak-gerik Lita, yang entah mengapa dia rasa berbeda.
" Apa kamu akan menghadiri makan malam besok." Tanya Ela.
Hani pun mengeleng kepalanya sebagai jawaban. " Aku masih malas keluar dari kamar ini, entah mengapa cuma kamar ini saja yang membuat aku tidak pusing. " Selain karena tidak ingin bertemu dengan keluarganya juga Lisa. Alasan lainnya Hani tidak pergi, karena wanita itu akan langsung pusing dan mual saat dia melangkah keluar kamarnya.
Sungguh Aneh tapi itu yang dia rasakan saat ini." Aku juga tidak pergi, aku malas melihat wajah saudari angkat mu itu, di terlalu sombong! Apalagi setelah menikah dengan kak Arga. Ihhh." Ela begitu kesal mengingat keangkuhan seorang Lisa, sementara Lita hanya menyimak sambil melamun.
" Dia kakak ipar-mu, sayang." Ejek Hani di ikuti tawanya.
" Jangan tertawa nyonya muda Sanjaya, karena dia juga. Kakak ipar-mu. " Balas Ela tak mau kalah.
Keduanya sibuk melempar ejek kepada satu sama lain, tapi mata Hani tetap fokus kepada Lita yang masih melamun itu.
...\=\=\=\=\=\=...
Yang penasaran dengan Lita. nanti aku rilis tanggal 1 Jangan lupa follow agar kalian tidak ketinggalan notipnya.