HAANIYA.

HAANIYA.
Gini mah..!



" Apaan sih mereka? Buat orang tua penasaran aja." Tanya Luna, sembari menatap anak dan menantunya, menuntun jawaban dari kedua wanita itu.


Hani dan Ela pun langsung kompak menggeleng kepala, masing-masing! Bedanya Hani menggeleng tanpa kata sedang Ela tidak demikian.


" Jangan tanya kita dong mah, kita kan datangnya sama-sama, gimana sih mah." Sahut Ela terdengar ketus. " Si Abang dan kakak juga! Ngomong dulu ke, ada apa! Eh main pergi aja."


Entah mengapa mood Ela, hari ini begitu buruk, semenjak Luna sang mama mengajaknya ke pernikahan Kai, karena sang papa sedang sibuk dan tidak bisa menemani mamanya itu, sehingga dialah yang di desak harus menemani Luna, padahal sudah ada Hani dan Narendra.


Tapi Mamanya justru beralasan tidak ingin menjadi obat nyamuk, sungguh alasan yang tidak masuk akal, mana mungkin Hani dan Narendra melakukan itu kepadanya, yang notabene adalah ibu serta mertua mereka.


" Kan mama cuma nanya! Kamu kenapa sih? Marah-marah aja dari tadi, lagi datang bulan?" Tanya Luna sembari menelisik wajah putri sulungnya itu.


" Nggak! Siapa juga yang lagi datang bulan, aku tuh malas ke sini tapi mama malah maksa aku." Ucapannya beralasan.


" Pantas jodoh kamu jauh! Orang judes gitu siapa juga yang mau nikahin kamu." Sahut Luna. " Ayo sayang." Luna menarik tangan Hani, meninggalkan Ela, yang berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya, seperti anak kecil yang tidak di turuti maunya mengikuti langkah mereka. Belum lagi wajah cemberut serta bibir manyunnya, membuatnya terlihat semakin kekanak-kanakan.


Saat memasuki pintu gedung tempat berlangsungnya acara itu, terdengar bisikan simpang-siur dari mulut tamu undangan membuat Luna, Hani dan Ela semakin penasaran dengan apa yang terjadi.


Bahkan kursi yang di siapkan untuk mengucapkan janji suci pernikahan itu. Masih kosong hanya penghulu yang ada di sana.


" Mah, kita cek kedalam yuk." Ajak Hani, yang mulai merasa aneh.


Tanpa banyak berpikir Luna pun mengangguk setuju dan mereka langsung masuk kesebuah ruangan di mana ruang itu di sediakan untuk bersiap-siap.


Bersyukur dua hari lalu dia sempat menemani Narendra menemui Kai, disini jadi sedikit banyak dia tahu letak, ruangan untuk bersiap-siap itu.


Ceklek.


Hani membuat sebuah pintu kayu berwarna coklat di depannya. Dan wanita itu sedikit terkejut, saat seorang dokter tengah memeriksa keadaan kakeknya Kai, yang tergeletak tak berdaya di atas sofa di ruang itu. Sementara Kai terduduk di kursi rodanya dengan kepala menunduk.


" Kai, ada apa ini?" Tanya Luna, yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


" Ini ada apa sih Arga." Tanya Luna, mulai tak sabaran.


" Gini mah...." Arga pun mulai menceritakan apa yang terjadi hingga membuat kakeknya Kai tak sadarkan diri.


...\=\=\=\=\=\=\=...


" Capek banget." Gumam Narendra, begitu keduanya tiba di dalam kamar mereka, sembari melepas jas yang menempel di tubuhnya. " Kamu capek nggak sayang! Mau aku pijitin nggak?" Tanya Narendra kepada istrinya, yang kini sedang berselonjoran di sofa.


Tanpa di jawab pun Narendra tahu, kalau istrinya itu lelah. Bukan hanya mereka berdua yang lelah, tapi semua orang di rumah ini lelah. Setelah dari tempat pernikahan Kai, mereka harus membawa kakek Kai ke rumah sakit. Menunggu sampai keadaan kakek sedikit membaik, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.


" Kasihan banget ya Kai! Coba dia mau dengar ucapan kakek, pasti hal ini tidak akan terjadi, bukannya menjawab pertanyaan Narendra, Hani Malah berempati kepada kakeknya Kai dan sedikit menyayangkan kejadian hari ini.


" Jangan gitu sayang! Namanya musibah kita nggak tahu kan. Lagian bukan salah Kai juga semua ini bisa terjadi, karena sudah takdirnya." Sahut Narendra seakan membelah Sahabatnya itu.


" Iya tahu sahabatnya kan! Jadi belain aja terus." Ujar Hani, mulai sewot.


"Bukannya begitu sayang! Aku itu hanya ingin yang terbaik dan membantu sebisaku, dia juga selalu ada saat aku butuh bantuannya. " Narendra menghampiri Hani, kemudian menindih tubuh wanita itu, dengan meletakkan kepalanya di perut Hani. " Udah ya jangan bahas mereka lagi, mendingan kamu temani aku mandi atau mau aku pijitin." Tawar Narendra lagi untuk kedua kalinya, sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


" Ogah, terima kasih! Nanti yang sakit punggung, eh pijitannya Mala kemana-mana, sana mandi sendiri. Aku malas mandi hari ini." Sahut Hani, membuat Narendra mengerutkan keningnya.


" Sayang! Tumben?" Ucap Narendra tak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Kenapa? Nggak suka? Nggak mau tidur sama aku, karena aku nggak mandi, tuh pintu keluar. Waktu dan tempat di persilahkan." Ucap Hani sembari menunjuk kearah pintu kamar mereka.


" Ya udah hari ini aku juga nggak mandi."


" Iya nggak papa! Tidur di luar."


" Sayang." Wanita itu tidak menghiraukan panggilan Narendra, Dia dengan santainya melangkah kedalam walk in closed, untuk Menganti baju, setelah menyingkirkan Narendra dari tubuhnya.