HAANIYA.

HAANIYA.
Mencari tahu.



Sikap Narendra membuat Haaniya, geleng-geleng kepala, bukannya bertanya akan keadaannya pria itu justru meninggalkannya begitu saja tanpa alasan, Dan kini ia muncul di hadapannya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, oh mengejutkan sekali.


"Aku tidak tahu, jika seorang Narendra Azzam Sanjaya memiliki kepribadian ganda, sungguh sesuatu yang mengejutkan sekali! Tapi salah aku juga sih, nggak bertanya lebih dulu." Ucap Haaniya, begitu keduanya berada di dalam kamar mereka.


" Apa maksud kamu?" Tanya Narendra, pria itu berbalik untuk mendapatkan penjelasan dari ucapan Haaniya barusan.


" Huuuffhhh," Hani menarik nafas panjang, kemudian berkata. " Tidak ada, kalau kamu tidak mengerti itu urusanmu. Tapi satu yang harus kamu ingat! Jangan sering-sering ya membuat aku salah mengartikan sikapmu, karena itu hanya akan sulit membuat aku berubah pikiran." Setelah itu ia pun berbalik untuk pergi dari sana, namun Narendra dengan cepat, menahan pergelangan tangannya.


" Kamu mau ninggalin aku?" Tanya Narendra. Sementara Hani hanya menaikkan kedua bahunya, tak peduli. Dia Terlalu malas berurusan dengan pria di hadapannya itu. " Kamu pikir aku akan membiarkan kamu meninggalkan kamu begitu saja! Haaniya, hanya karena aku tidak ada dan tidak pernah bertanya. Bukan berarti aku tidak tahu apapun yang kamu lakukan di luar sana. cukup sekali aku teledor hingga aku kehilangan kamu dan aku bersumpah, nyawaku taruhannya, tidak akan ada yang kedua. Camkan itu." Tegas Narendra membuat Hani tersenyum mengejek.


" Azzam stop bersikap seolah kamu tahu segalanya tentang aku, karena itu terlihat menggelikan." Haaniya kemudiaan menyentak tangan Narendra, hingga genggaman tangan pria itu terlepas. " Dan satu lagi, kamu tidak bisa menahan aku, karena begitu perjanjian ini berakhir aku akan tetap pergi dari kamu."


" Kamu ingin kemana? Mengejar Pria yang berciuman dengan kamu di bandara dan memberi kamu luka itu atau kamu ingin menggali kubur pengkhianatan untuk tinggal bersamanya. Katakan Haaniya."


Hani terdiam, dalam benaknya wanita itu bertanya dari mana Narendra bisa tahu semua itu dan siapa yang dia maksud pengkhianat disini.


" Bingung karena aku tahu soal pria yang bernama Regan itu! Bingung karena aku tahu soal pengkhianat itu yang begitu kamu puja. " Narendra terus mendesak Hani dengan pertanyaan demi pertanyaan, membuat pikiran Hani semakin menentu.


" Siapa yang kamu sebut pengkhianat?" Tanya Hani, wanita itu tidak akan menerima begitu saja. Jika kata pengkhianat itu ditujukan kepada Keenan.


" Siapa lagi kalau bukan kekasih kamu itu. Haaniya, kamu harus tahu dia mendekati kamu karena aku yang memintanya, karena aku yang membayarnya dan karena dia ingin membalas kebaikan aku, sebab aku dan kai sudah menyelematkan nyawanya." Saat itu juga Narendra memutuskan untuk menceritakan semua tentang keenan, kepada Hani tanpa sedikitpun yang ia lewatkan, berharap dengan begitu Hani tidak akan berpikir lagi untuk meninggalkannya.


Apa yang dikatakan Narendra membuat Hani mendapatkan jawaban atas apa yang selama ini mengganjal dipikirannya, alasan dimana Keenan selalu mendesaknya untuk pulang dan berada di antara mereka, tak lain karena dia hanyalah orang suruhan suaminya itu untuk menjaganya.


Walaupun begitu Hani tidak langsung membenci Keenan, sebab dia tahu pria itu begitu tulus, tatapannya semua dan semua yang di lakukan tidak ada keraguan untuk Hani.


" Dari mana kamu tahu tentang Regan dan_"


" Tanda ciuman di tengkuk mu, membuat aku harus pergi dan mencari tahu semuanya sendiri. Karena seingat aku, aku belum melakukan sejauh itu. Dan entah kenapa aku tak yakin kamu akan menceritakan semuanya dengan jujur! Kamu saja berani membohongi aku." Ucap Narendra dengan sejujurnya.


Malam itu saat melihat tanda di tengkuk Hani, dia begitu marah dan pergi begitu saja. Tapi Arga dan Kai menyusulnya. Arga menginginkan dia tidak bertindak gegabah, karena hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri dan paling buruk akan merusak hubungan mereka yang hanya setipis benang ini. Lagian apa yang di lakukan Narendra di malam pertama dan hari pertama status mereka sebagai suami istri juga lebih kejam dan itu dia lakukan karena terbakar cemburu, andai dia bisa menahannya mungkin perjanjian enam bulan itu tidak pernah ada.


Untuk itulah Narendra memutuskan untuk mencari tahu semuanya di bantu oleh Kairan, karena pria itu juga sedang marah dengan sang kakek karena tidak mau merestui hubungannya dengan Samna, sebab Kai ingin segera menikahi kekasihnya itu. Hingga ia memutuskan untuk mogok kerja dan pergi dari rumah, walaupun sang kakek adalah keluarga satu-satunya yang dia punya. Karena kakeknya hanya memiliki satu anak perempuan.


Saat kai berusia lima tahun, ayah dan ibunya mengalami kecelakaan dan meninggal saat itu juga, Ayahnya adalah seorang anak yatim-piatu yang di besarkan di pantai asuhan, ia dulu bekerja sebagai supir pribadi ibunya. Karena kejujuran dan ketulusan ayah kai, kakeknya langsung memberikan restu kepada mereka tapi kenapa dengan Samna sang kakek tidak mau menyetujui rencana dia menikahi Samna itu.


Kai dan Rendra langsung berangkat malam itu juga, Mereka menuju negara yang di datangi Hani, setelah mengecek jadwal pesawat yang ia naik malam itu, berasal dari negara mana. Bermodalkan itu, Rendra dan kai bisa tahu semuanya, bahkan tentang Keenan. Keduanya juga sempat mengunjungi makam pria itu, Walaupun Narendra sangat membencinya tapi sebagai seorang yang baik, Mereka tetap mendoakan Keenan dan berharap pria itu mendapatkan tempat terbaik di sisinya. Selain itu mereka juga harus menunggu selama lima hari di sana untuk mengetahui semuanya, mengingat negara itu adalah area kekuasaan Regan.


Dan Hani yang Awalnya, cuma perlu waktu dua tiga hari untuk di rawat. Harus berakhir satu minggu di rumah sakit.


" Apa! Itu nggak mungkin, kamu nggak mungkin kesana." Hani tidak percaya begitu saja dengan yang di ucapkan Narendra.


" Hani aku minta maaf karena sempat berpikir kekanak-kanakan dengan pergi begitu saja. Tanpa bertanya lebih dulu. Tapi kamu harus tahu aku sungguh-sungguh ingin menjalani semuanya dengan kamu." Narendra menarik tubuh Hani kemudian memeluknya. " Mulai sekarang aku yang akan menggantikan Keenan untuk menjaga kamu dan aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuh kamu lagi, walaupun hanya ujung rambut saja." Ucapnya dengan perasaan menggebu-gebu sembari mengusap punggung Hani.


Sementara Hani tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang terjadi saat itu, semuanya terlalu cepat, rasanya mustahil untuk dia percaya.


" Aku tahu kamu pasti masih ragukan kepada aku! Nggak papa, aku juga nggak akan memaksa untuk kamu percaya, pelan-pelan saja. Lagian aku juga masih punya waktu untuk membuatmu berubah pikiran." Ucap Narendra, sembari mencium dahi Hani cukup lama.