
" Hani! Hani masih ingatkan tentang rencana perjodohan Hani dan Bang Rendra!"
DEG.
Jantung Hani langsung berdetak tak menentu, ia seakan merasakan firasat buruk dari ucapan mommy-nya itu. karena Melly terlihat begitu serius saat bertanya tentang perjodohannya dengan Narendra.
" Mom, itu hanya permintaan anak-anak! kenapa harus di bahas sekarang, lagian kehidupan kita berdua itu berbeda." Alih-alih menjawab pertanyaan mommy-nya Hani justru menjelaskan sesuatu yang tidak perlu di jelaskan.
" Mommy tanya! Hani masih ingat tentang rencana perjodohan Hani dan bang Rendra tidak?" tanya Melly lagi. Suaranya terdengar tegas dan menuntut Jawaban
" Ingat mom! tapi_"
" Cukup jawab seperti itu tidak perlu kata tapi." Potong Melly sebelum Hani sempat menjelaskan maksudnya. " Siang Tadi kakek Sanjaya datang untuk membicarakan perjodohan kalian, kakek tanya kapan Hani Siap untuk perjodohan itu di teruskan. Kalau mommy dan Daddy sih setuju saja! lebih cepat justru lebih baik. tapi keputusannya kembali kepada Hani! toh bang Rendra berasal dari keluarga baik-baik. keluarga kita pun sudah saling mengenal jadi mommy rasa tidak ada salahnya jika kalian menikah."
Gadis itu tidak di berikan kesempatan untuk memilih atau menolak, membuat ia hanya menatap tak percaya dengan sikap yang di tunjukkan mommy-nya.
" Mommy apa Hani masih anak mommy?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Hani. Saking tidak tahannya dengan rasa sakit yang menumpuk-numpuk di dadanya. Ia saja belum bisa melupakan Keenan, tapi kini sudah harus berusaha dengan pria lain apalagi pria itu, begitu membencinya.
" Apa maksud kamu Haaniya? kamu meragukan perasaan mommy kepada mu." Bentak Melly tidak percaya jika Hani akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
" Hani, tidak pernah ragu sedikitpun dengan perasaan mommy. mau mommy dan Daddy asing kan Hani sekalipun, Hani nggak akan ragu kepada kalian. Bahkan saat kalian memperlakukan Hani seperti tersangka di rumah ini Hani tetap menyayangi dan menghormati kalian, Mom."
" Haaniya_"
" Dion." Teriak Dian, tidak terima saat Dion membentak Hani.
" Mom, dad. Hani baru sehari lol di rumah ini, Hani juga belum merasakan kehangatan keluarga. tapi kalian sudah berencana untuk mengeluarkan Hani dari rumah ini. salah Hani apa sih? kalau kalian tidak ingin Hani pulang dan tinggal di rumah ini cukup katakan saja! tidak perlu repot-repot dengan mengatur penjodohan Hani! jika memang Hani tidak sepenting itu untuk kalian." Ucapnya dengan terbata-bata, sembari menahan rasa sakit di hatinya.
" Sayang apa yang kamu katakan, kamu itu sangat berharga buat kami! kamu itu belahan Jiwa kami." Ucap Dian, wanita itu tidak tahan melihat Hani seperti itu.
" Cukup bunda! jangan sok peduli lagi Sama Hani. Hani udah terbiasa dengan rasa sakit, berhenti bersikap seolah kalian menyayangi Aku tapi dengan sengaja terus menyakiti Aku." Teriaknya, Membuat Dian Sok! karena mereka tidak tahu jika putri mereka sedang berada di tahap tidak baik-baik saja.
PLAK.
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi Hani. membuat Gadis itu langsung tersadar dan menatap tak percaya, jika Hanya karena masalah ini Melly sampai menampar pipinya.
" Terlalu lama berada di luar, membuat kamu kehilangan sopan santun mu, Haaniya! apa yang salah dari permintaan kami, kami hanya ingin kamu menikah karena memang sudah waktunya untuk kamu menikah! tapi kenapa kamu harus bersikap begitu berlebihan."
" Karena Hani tidak mau menikah mommy, apalagi dengan Narendra itu. Hani nggak mau." Tegas Hani, sembari mengusap pipinya yang terasa panas bahkan telinganya sampai berdenging saking kerasnya tamparan Melly. " Kalau mommy tetap ingin memaksa. maka malam ini juga Hani akan keluar dari rumah ini juga." Ancamnya.
" Melly, jangan kelewatan kamu." Bentak Ken. Sementara Dian langsung memeluk tubuh Hani yang terduduk lemas di lantai.
Hani bisa Hidup tanpa Harta yang ia dapatkan dari orang tuanya serta semua fasilitas mewah itu karena apa yang dia punya lebih dari itu, bahkan berkali-kali lipat tapi sayangnya Hani tidak bisa mengubah kenyataan jika Melly-lah yang melahirkan dirinya.
" Hani Mau menikah dengan dia. Jika hal itu membuat mama bahagia." Ucapnya sembari menangis tersedu-sedu. Dian tidak tega mendengarnya menangis seperti itu tapi dia tahu seperti apa keras kepalanya Melly dan Hani. keduanya terlalu sulit untuk di Bujuk.
" Sayang, kamu tidak perlu melakukannya jika kamu tidak mau! kamu tidak perlu menyanggupinya, bunda yang akan membicarakan hal ini kepada Tante Luna dan kakek Sanjaya." Ucap Dian sembari memeluk tubuh Hani.
" Tidak bunda! bunda tidak perlu melakukannya. Jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, Hani pamit ke kamar bunda." Sahut Hani, Ia menghentikan tangisannya sembari menghapus jejak basah di pipinya. berusaha untuk tersenyum, sebelum beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sampainya di dalam kamar Hani langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa menghiraukan panggilan Ela dan Lita. Mengunci pintu kamar mandi itu, kemudian menyalakan shower.
Gadis itu duduk di lantai, memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana sembari membiarkan pancuran air shower membasahi tubuhnya dan menangis sepuasnya.
Sementara Di tempat lain, Lisa yang sengaja mendengar pembicaraan orang tua angkatnya dengan Hani, langsung buru-buru kembali ke kamarnya. Wanita itu merebahkan dirinya di atas ranjang kemudian menelepon Narendra.
Percobaan pertama, Narendra tidak menjawabnya! pria itu baru menjawab telepon Lisa di percobaan ketiga. " Halo." Jawab Narendra dari seberang sana.
" Kenapa suaramu terdengar seperti itu! kamu punya masalah?" Tanya Lisa Saat mendengar suara Narendra yang terdengar kurang bersahabat.
" Ini semua karena saudari mu itu! andai saja dia tidak kembali kakek tidak mungkin akan memaksaku untuk menikahinya." Jawab Narendra dengan begitu ketusnya.
" Jadi benar Kalian berdua akan menikah?" Tanya Lisa lagi.
" Kamu tahu dari mana kalau kita akan menikah?" Bukannya menjawab Narendra justru balik bertanya.
" Tadi waktu pulang aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mommy, Daddy, Bunda dan papi Ken dengannya." Jelas Lisa.
" Terus dia mau?"
" Tentu saja! kalau Tidak semua fasilitasnya akan di tarik sama mommy. Tahu sendirilah, orang yang sudah terbiasa menghambur-hamburkan uang tiba-tiba Harus hidup tanpa uang sepeser pun, mana mungkin dia sanggup." Ucap Lisa. Membuat Narendra di seberang sana begitu kesal, bahkan pria itu sampai mengumpat Hani dan mengata-ngatainya. " Terus bagaimana dengan Nahla, apa kamu sudah memberitahunya." Tanya Lisa.
" Belum! oh iya kamu jangan menceritakan hal ini kepada Nahla, aku tidak ingin membuatnya sedih dan kepikiran." Lanjutnya, mengingatkan Lisa.
" Sip lah. ya udah ya, aku mau mandi dulu! bye." keduanya pun sepakat mengakhiri panggilan itu.