HAANIYA.

HAANIYA.
Tiga jam sekali!



Setibanya di perusahaan sang suami, Hani langsung masuk begitu saja keruang Narendra untuk mengecek kebenaran suaminya itu, karena saat ini masih waktu istirahat makan siang, para staf yang berada di lantai yang sama dengan ruang sang CEO belum kembali ke tempat mereka masing-masing, begitu pun dengan Nahla.


" Maaf apa aku menganggu." Ucap Hani saat menyadari di ruang itu ada orang lain selain suaminya, walaupun Hani sudah sering melihat wajah mereka, tetap saja ia merasa tak sopan karena sudah main terobos begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


Sementara orang-orang yang berada di ruangan itu, kompak menengok ke arah Hani saat menyadari kedatangannya. " Kemari-lah, kamu tidak menganggu sedikitpun, justru merekalah yang menganggu karena berkunjung tanpa tahu waktu." Ucap Narendra, pria itu mengulurkan tangannya kepada Haaniya sembari menatap tidak suka kepada ketiga sahabatnya yang sudah menemaninya sejak sejam yang lalu.


Pria itu juga yang mengajak mereka untuk makan siang bersama di ruang kerjanya, bahkan bekas makan mereka masih berserakan di atas meja sofa yang kini di kelilingi mereka. Tapi mengapa saat Hani datang mereka justru di kambing hitam kan. " Sudah makan siang?" Tanya Narendra lagi, setelah menarik Hani untuk duduk di sampingnya, begitu wanita itu menyambut uluran tangannya.


" Aku tidak sempat makan siang, tadinya begitu dari rumah sakit aku ingin langsung mampir untuk makan siang tapi aku lupa untuk memberitahumu sesuatu, sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kantor segera." Narendra mengangguk paham, pria itu kemudian menatap kepada Kevin. Ya di ruang itu ada Kevin, Arga dan Kai.


" Vin belikan makan siang untuk istriku." Titah Narendra kepada sahabat sekaligus asistennya itu, tanpa peduli akan tatapan protes Kevin. " Kamu ingin makan apa sayang, katakan saja, Kevin akan membelikannya untukmu." Tanya Narendra Seraya merapikan anak rambut Hani yang sedikit berantakan namun hal itu tidak mengurangi kadar kecantikan istrinya.


" Kamu tidak perlu melakukan hal itu, lagian aku juga belum merasa lapar." Tolak Hani sebab ia merasa tidak enak dengan Kevin dan juga yang lainnya.


Belum lagi sikap Narendra yang sok-sokan mesra di depan sahabat-sahabatnya, membuat Hani semakin risih sendiri tapi wanita itu enggan untuk menolak suaminya untuk menjauh, sebab tidak ingin membuat suaminya itu malu di depan sahabat-sahabatnya, sehingga Hani hanya bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum dan bersikap sesantai mungkin.


" Nggak papa Hani, katakan saja! Toh itu sudah tugas Asisten." Sahut Kai, pria itu terlihat begitu menikmati wajah dongkol Kevin.


" Benar dek, Kevin juga tidak keberatan melakukannya." Agar pun ikut-ikutan.


Karena kasihan dengan Kevin yang di kerjain sahabat-sahabatnya, Hani pun meminta pria itu memesan makanan dari kantin saja. Pria itu pun mengangguk dan segera berdiri dari tempat duduknya, Sebelum meninggalkan ruangan itu.


Setelah Kevin keluar KAI dan Arga pun pamit kembali ke perusahaan mereka masing-masing, saat ini Agra membantu Jayden, mengelola perusahaan pria itu, sekaligus belajar sampai ia mengantikan posisi Narendra saat ini, karena Narendra sendiri memiliki dua perusahaan yang harus ia kelola, satu ia bangun sendiri dari nol, walaupun perusahaan itu tak sebesar perusahaan Sanjaya tapi Narendra cukup puas dengan usahanya sendiri, sedangkan yang satunya lagi, perusahaan hadiah dari Reval, bahkan perusahaan itu sudah menganti kepemilikan menjadi miliknya, perusahaan itu awalnya milik Saudara Bunda Vio, karena mereka tidak memiliki anak, perusahaan itu di wariskan kepada Reval dan Reval memberikan kepada Narendra, setelah sepakat posisi Narendra saat ini akan di berikan kepada Arga begitu Shakir anak Jayden siap untuk mengantikan posisi Arga nanti. Karena sekalipun hak Asuh Arga berada di tangan Jayden, Arga tetap anak Reval, darah keluarga Sanjaya mengalir di dirinya.


Setelah ketiga orang pria itu pergi, seorang office girl masuk untuk membersihkan kekacauan yang di ciptakan pria-pria itu, Sementara Narendra mengajak Hani untuk masuk kedalam ruangan pribadinya yang masih berada di ruangan kerja Narendra, tak lupa mereka juga berpesan kepada office girl itu, untuk mengatakan kepada Kevin dia harus mengantarkan makanan Hani kedalam sana begitu pria itu datang.


......💕💕💕💕......


"Anak kak Dino baik-baik saja, dia hanya mengalami luka gores di siku, lutut dan pelipisnya" Jawab Hani.


" Syukurlah, kalau begitu. Oh iya, tadi kamu bilang ingin memberitahu aku sesuatu sampai kamu tidak sempat untuk makanan siang, kamu ingin memberi tahu apa?" tanya Narendra ketika pria itu teringat alasan istrinya tiba-tiba kembali, ke kantor! Padahal Dino merupakan orang paling dekat dengannya karena menjadi pengawal pribadi istrinya itu dari masih sekolah dasar.


" Sore ini aku harus ke bali, untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu temanku yang di adakan di sana." Jawab Hani, sesuai yang diajarkan Dino tadi. Hal itu membuat Narendra yang sedang berbaring langsung duduk seketika. Pria itu menatap kedua mata istrinya mencari kebohongan disana, siapa tahu istrinya itu sedang mengerjainya. Sayangnya tatapan itu begitu serius dan tidak ada kebohongan sama sekali." Kenapa, kenapa kamu begitu takut? Aku hanya menghadiri pernikahan sahabatku! begitu acaranya selesai, aku akan langsung pulang, aku janji." Ucap Haaniya lagi, saat menyadari raut wajah Narendra yang berubah, ada ketakutan yang terpancar jelas dari kedua matanya.


" Bisakah kamu tidak pergi?" Tanya Narendra, Haaniya langsung mengeleng kepalanya sebagai jawaban." Jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin kamu pergi."


" Azzam, aku sudah janji." Pinta Hani penuh Harap. " Aku tidak akan meninggalkan kamu, aku hanya menghadiri acara itu, begitu acaranya selesai aku langsung kembali. Aku janji!"


Rasanya Narendra ingin sekali ikut dengan istrinya, tapi dalam dua hari ini ia mempunyai jadwal yang begitu sibuk, meeting yang tidak bisa di wakilkan, sebenarnya bisa sih jika sang papa yang menggantikannya tapi papanya itu lagi puber kedua, nggak bisa lepas dari mamanya barang semenit saja, kemana mamanya pergi, papanya akan menempel seperti lintah.


" Azzam, aku nggak sendiri! Ada Nahla dan Ela juga, Ela bahkan udah ambil izin untuk untuk dua hari." Bohong Hani, karena Ela sendiri pun tidak tahu rencana keberangkatan mereka dan Hani sudah berjanji akan menyeret wanita itu untuk ikut jika Narendra setuju." Zam." Panggil Hani lagi, ketika suaminya itu masih saja diam.


" Baiklah, tapi kamu harus mengabari aku tiga jam, sekali."


" What."


" Kalau nggak mau, ya udah nggak usah pergi." Tegas Narendra.


" Iya-iya."


" Kalau lewat semenit saja, orang-orangku akan menyeret kalian pulang." Ancam Narendra.


"Iya-iya, bawel banget sih." Sahut Hani sembari memasang wajah cemberutnya dengan bibir bawah yang sengaja ia majukan sedikit, membuat Narendra gemas dan langsung menciumnya tanpa permisi.