HAANIYA.

HAANIYA.
Bonchap finally.



Benar saja apa yang diduga Narendra, saat pria itu membawa Hani ke rumah sakit untuk dirawat, ia justru mendapati kenyataan jika sakit Hani yang tak kunjung sembuh itu dikarenakan dia sedang mengandung.


"Setiap kehamilan itu gejala ngidam berbeda-beda dan salah satunya seperti ibu Hani rasakan saat ini dan dari pengalaman pasien-pasien Saya sebelum, hal ini bisa berjalan selama trimester pertama, ada juga sampai kedua dan ketiga, bahkan sampai melahirkan baru ibu hari segar kembali." Jelas sang dokter pada narendra waktu itu.


Dan jangan tanya seperti apa perasaan pria itu, tentu saja ia bahagia, karena akan menambah satu lagi anggota baru di keluarga kecilnya.


Ya, di kehamilan ketiga, Hani tidak hamil anak kembar seperti kehamilan dia sebelum-sebelumnya.


Tidak hanya narendra semua anggota keluarga mereka ikut berbahagia mendengar Hani kembali mengandung.


Semuanya mendoakan agar Hani mendapatkan anak perempuan sesuai keinginannya tapi Hani sendiri sudah tidak terlalu berharap, mau anak laki-laki atau perempuan sama saja.


Usai pemeriksaan dan dirawat selama dua hari di rumah sakit Hani meminta untuk pulang ke rumah karena dia sendiri sudah tidak kerasan tinggal di rumah sakit.


Tidak ingin Hani tertekan tentu saja Narendra menuruti. Dan selama hamil anaknya yang kelima itu, Hani tidak melakukan apapun, bukan karena dia ingin seperti itu tapi kondisinya yang mengharuskan dia tetap berbaring, untuk mengangkat kepalanya dari bantal saja Hani merasa semuanya berputar dan seakan terbalik belum lagi mual-nya yang datang tidak mengenal waktu, bau masakan dan segala macam *****-bengeknya merupakan hal yang paling sensitif, bersyukur ia masih bisa minum susu, jika tidak entah akan seperti anaknya nanti.


Sebab setiap kali ia ke dokter, dokter Selalu menyarankan untuk dia makan tapi keadaannya tidak mendukung sama sekali, parahnya lagi kondisi itu berjalan selama sembilan bulan.


"Kamu sudah siap, Honey?" Tanya Narendra, sembari mengusap perut istrinya, wanita itu terbaring di atas ranjang dengan infus yang terpasang di pergelangan tangannya. Wajahnya terlihat sedikit tirus, maklum saja ia sangat susah disuruh makan.


" Iya! Padahal aku ingin normal seperti sebelumnya." Jawab Hani sedikit lesu. Sebab proses persalinan kali ini ia harus operasi mengingat kondisinya juga calon anaknya, dokter pun menyarankan hal itu.


"Honey apa yang disarankan dokter itu terbaik untuk kamu dan aku juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian berdua." Narendra membungkuk untuk mencium kening Hani lalu berpindah pada perut istrinya itu.


Hani mengangguk kepalanya." Xavier dan Zavind nggak kamu jemput, Azzam?" Tanya Hani.


"Nggak mereka sudah dijemput Ella dan KAI, sebentar lagi mereka sampai." Sekali lagi Hani menangapinya dengan menganggukkan kepalanya.


Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit, karena sebentar lagi Hani akan menjalani operasi seperti yang telah dijadwalkan dokter pribadi Hani.


"Mereka akan kesini?" Tanya Hani.


"Tentu saja!? mereka tidak akan mau tinggal di rumah sendiri, kamu kan tahu gimana mereka berdua, honey." Hani mengangguk kepalanya mengerti, sebab putra ketiga dan keempatnya itu memang tidak bisa jauh darinya.


Setelah Hani masuk ruang operasi, mommy dan mertuanya pun datang, disusul yang lainnya beberapa menit kemudian, hingga ruangan operasi itu penuh dengan anggota keluarga Sanjaya dan Xavier.


Beberapa jam menunggu, akhirnya operasi Hani selesai, wanita itu Melahirkan bayi perempuan.


...\=\=\=\=\=\=...


"Mami, apa ini adik kita?" Tanya Arend sembari menatap mungil yang tengah terlelap dalam ranjangn kecil milikinya yang berada tepat disamping ranjang Hani.


Wanita itu sudah dipindahkan ke ruangannya usai menjadi pemulihan


"Tentu saja sayang! Kenapa kamu bertanya seperti itu?"Jawab Hani seraya bertanya.


Arend mengeleng kepalanya. " Kak, Tapi kenapa kulitnya keriput seperti ini, dia juga jelek nggak ada bagus-bagusnya sama seperti kita." Kini giliran Zavind yang bertanya, membuat Hani langsung menatap tajam kepada Arend dan putra bungsunya itu.


"Zavi itu karena dia masih sangat kecil, jika dia sudah sedikit besar dia akan sangat mengemaskan, karena kalian juga kecilnya seperti ini." Jelas Melly kepada cucunya.


"Benarkah?"


"Tentu saja." Sela Luna.


"Siapa namanya?" Al yang sejak tadi diam, Kini buka suara menanyakan nama adik perempuannya.


Luna dan Melly menatap narendra membutuhkan jawaban, pria itu justru menunjuk Hani seakan mengatakan jika Hani telah mempunyai nama untuknya.


" Gauri Berliana Sanjaya." Jawab Hani saat tatapan semua orang berpindah kepada. Nama itu sudah lama ia siapkan siapa sangka pemiliknya baru datang hari ini, sempat terpikir jika pada akhirnya ia tidak memiliki anak perempuan ia akan memberikan nama itu kepada cucu perempuannya kelak tapi siapa sangka pada akhirnya tuhan memberinya kepercayaan untuk memiliki seorang putri.


Gauri itu kesempurnaan sedangkan Berliana adalah nama lain dari sesuatu yang berharga, berliannya Haaniya, Dan lahirnya Gauri merupakan pelengkap kesempurnaan kisah Hani.


Bagi Hani sendiri kisah hidupnya sudah sempurna dengan adanya bidadari kecilnya, Gauri Berliana Sanjaya.


...The end. ...