HAANIYA.

HAANIYA.
Sejuta kenangan.



Helikopter yang membawa Narendra dan Hani akhirnya tiba di bandara.


" Sayang aku nggak kuat lagi tolong bantu aku." Pinta Narendra penuh Harap dengan wajah yang memerah dan kesadaran yang hampir hilang.


" Sebentar lagi Azzam, kamu masih harus menahannya sampai kita tiba di pesawat." Sahut Hani, wanita itu kemudian melepas headphone yang terpasang di kepalanya, begitu juga dengan sabun pengaman yang terpasang di tubuhnya ketika helikopter itu mendarat tak jauh dari pesawat pribadi yang entah milik siapa, namun pesawat itu yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan mereka.


Sang pilot membantu Hani membuka pintu helikopter itu, kemudian wanita itu turun dari sana dengan kaki yang terasa gemetaran, karena saat ini bukan Narendra saja yang bertahan melawan obat yang terus bereaksi di tubuhnya. Hani pun sedang berusaha sekuat yang dia bisa menahan rasa sakit di perutnya yang semakin menyiksanya.


Sakit yang amat sangat menyakitikan, hingga ia merasa seakan-akan bagian pinggang serta perutnya akan terlepas dari tempatnya.


Hani tahu sakitnya datang bulan itu seperti apa tapi sakit yang dia rasakan saat ini berkali-kali lipat rasanya hingga tak mampu ia jabarkan dengan kata-kata.


" Akkeehh." Wanita itu merintih pelan sembari berpegangan pada body helikopter itu, saat ia merasa kakinya lemas tak bisa untuk menopang tubuhnya.


" Nyonya anda baik-baik saja." Tanya sang pilot yang melihat Hani hanya berdiam di tempatnya sambil berpegangan pada body helikopter itu.


" Ya! Aku baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir." Jawab Hani berbohong, karena kenyataannya wanita itu tidak baik-baik saja.


Sementara Narendra yang mendengar pertanyaan sang pilot kepada istrinya, langsung melihat kearah Hani. pria itu baru sadar jika wajah istrinya itu terlihat pucat.


" Sayang_"


" Aku baik-baik saja! Tolong bertahanlah sedikit lagi, aku janji akan membantumu." Mendengar itu, Narendra kembali mencoba untuk kuat.


Pria itu dengan sedikit sempoyongan turun dari helikopter itu setelah melepaskan headphone dan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.


"Apa kalian membutuhkan bantuan?" Tanya sang pilot lagi.


Sang pilot itu pun mematikan mesin helikopter yang ia kemudikan, lalu turun dari helikopter itu untuk membantu Hani Setelah melepaskan segala atribut yang terpasang di tubuhnya.


" Maaf nyonya." Ucap pria itu, kemudian mengangkat tubuh Hani Ala bridal style. Wanita itupun tidak menolak, karena saat ini dia benar-benar membutuhkan bantuan.


Melihat hal itu, tentu saja Narendra protes dia tidak suka pria lain menyentuh tubuh istrinya. " Sayang kenapa dia mengendong kamu, kalau kamu butuh bantuan aku akan membantumu." Ucap pria itu, membuat Hani memutar bola matanya malas.


Bagaimana tidak, untuk berjalan saja sulit namun pria itu justru berkata akan membantunya yang benar saja.


" Azzam ini bukan waktu yang tepat untuk protes." Sahut wanita itu, kemudian meminta sang pilot terus berjalan dan mengabaikan Narendra yang berada di belakang mereka.


Pria itu dengan susah payah mengikuti langkah Hani dan pilot yang mengendong istrinya itu, karena beberapa kali dia hampir saja terjatuh.


Namun pada akhirnya mereka sampai juga di dalam pesawat.


Hani di bantu dua orang pramugari, untuk duduk Setelah sang pilot menurunkannya di depan pintu pesawat pribadi itu, sementara Narendra di bantu pramugara untuk masuk kedalam pesawat.


" Terima kasih." Ucap Narendra, walaupun kesal kepada pria yang telah lancang mengendong istrinya. Namun Narendra tetap harus mengucapkan terima kasih.


" Sama-sama tuan." Jawab sang pilot.


Setelah Narendra masuk kedalam pesawat pribadi itu. Salah satu pramugari yang membantu Hani tadi, langsung menutup pintu pesawat itu karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas dan meninggalkan negara dengan sejuta kenangan indah serta pahit untuk Hani.


Selang beberapa menit akhirnya pesawat itu benar-benar lepas landas. Sementara di luar sana Regan baru sampai di hotel tempat Narendra menginap untuk mencari mereka berdua.