HAANIYA.

HAANIYA.
Rencana Regan.



"Tuan, wanita yang tuan inginkan telah siap," ucap sang asisten, melaporkan hasil pekerjaannya.


"Bagus! lakukan seperti yang aku perintahkan padamu, Bob." sahut pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Tapi tuan_" pria


yang di panggil Bob itu, terlihat ragu untuk mengatakannya.


" Ada apa?" Sang tuan pun menghentikan pekerjaannya kemudian menatap wajah pria yang menjabat sebagai asistennya itu.


"Maaf tuan kita kesusahan untuk meletakkan kamera di kamarnya dan pihak Hotel pun tidak ingin bekerja sama untuk membagikan informasi CCTV mereka, dengan alasan, privasi pengunjung." Jelas Bab sembari menatap takut tuanya.


" Apakah kamu sudah menawarkan keuntungan yang bisa pihak hotel itu terima jika mau bekerja sama?" Tanya sama tuan, pria itu masih terlihat tenang sejauh ini.


"Sudah Tuan, bahkan saya sudah mengancam akan menghancurkan Hotel itu namun pemiliknya serta manajer hotel itu tetap bersikeras tidak ingin bekerja sama dengan kita." Jawab Bab dengan kepala menunduk, membuat tuannya sakit kepala karena rencana yang telah dia susun rapi terancam berantakan.


Brak.


" Sial, kenapa semua jadi begini." Umpatnya sembari mengebrak meja kerjanya.


" Tapi Tuan saya punya Rencana lain jika Tuan mau." Ucap Bob, pria itu mengangguk kepalanya mempersilakan Bab menjelaskan rencannya. "Begini Tuan, Tuan bisa mengundangnya untuk makan malam di mansion dan kita Akan menyiapkan sebuah kamar di sana untuk pria itu dengan wanita yang telah Tuan siapkan. Jika dia tidak mau kita bisa menggunakan obat untuk memudahkan rencana Tuan untuk mendapatkan video serta foto-foto pria itu bersama wanita lain." Jelas sang asisten dan rencana itu terdengar tidak buruk.


Karena seperti yang diucapkan asistennya pria itu hanya ingin mendapatkan video serta gambar-gambar rekan bisnisnya itu bersama wanita lain untuk dijadikan alasan membuat wanita yang dia inginkan tidak kembali lagi kepada pria yang masih berstatus suaminya dengan begitu langkahnya untuk memiliki sang wanita lebih mudah.


Uang segitu bukanlah sebuah masalah untuk pria itu namun jika rencana ini gagal kesempatan dia untuk memiliki wanita yang telah lama ia inginkan, akan semakin sulit terealisasikan.


" Baiklah lakukan seperti yang telah kau rencanakan dan pastikan malam ini semuanyah berjalan sesuai rencana Aku tidak ingin menunggu dan membuang-buang waktu lagi." Putusnya tidak ingin mendengar penolakan dan kegagalan lagi kali ini.


" Tapi Tuan Bukannya Anda belum mengetahui di mana wanita itu berada?"


"Ya kamu benar, tapi aku yakin cepat atau lambat wanita itu akan datang dengan sendirinya kepadaku." Jawabnya begitu yakin.


Bukan tanpa sebab dia se-yakin itu. Karena wanita yang dia inginkan memiliki kebencian dan kemarahan yang besar di kedua matanya saat tatapan mata mereka bertemu, juga ada tekad yang kuat disana.


Yang mana membuat dia yakin sang wanita akan tetap mencarinya hingga keinginannya untuk membunuhnya tercapai.


" Dan tuan akan menunjukkan kepada wanita itu seperti apa pria yang berstatus suaminya, sehingga dia tidak memiliki alasan untuk kembali." Sahut sang asisten.


"Bagus kalau kamu paham." Ucap sang tuan dengan seringai di wajahnya. Seringnya yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih tampan namun menakutkan. " Haaniya, Ivanna atau siapapun nama kamu, kamu harus menjadi milikku." Lanjutnya sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


" Pergilah, lakukan semuanya dengan baik." Ucap pria itu lagi sembari mengibaskan tangannya, mengusir lelaki itu keluar dari ruangannya.


Sementara sang tuan, yang tidak lain adalah Regan. Memejamkan matanya, membayangkan wajah cantik wanita itu dari versi terbaik sampai terkotor di kepalanya, dia bahkan tidak sabar untuk menikmati bayangan yang ada di kepalanya dimana wanita itu dengan senang hati membuka kedua kakinya untuk dirinya masuki. Sungguh pria yang tidak beradab.