HAANIYA.

HAANIYA.
Bantahan Lita.



Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, pesawat yang Hani tumpangi Hani akhirnya mendarat di bandara untuk melakukan transit yang kedua di Jakarta. Hani yang sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanannya ke Bali, Wanita itu segera mengambil ranselnya dari bagasi kabin pesawat, kemudian turun dari pesawat itu setelah mendengar pengumuman dari pramugari.


Wanita itu tidak lagi, melakukan proses sebagai mana mestinya orang yang akan melakukan trasit. Hani justru mencari pintu keluar dan langsung keluar dari bandara begitu saja sambil menyeret-nyeret kakinya. Belum lagi lukanya terasa begitu basah dengan darah yang kembali menetes lagi, disaat dia memaksa kakinya untuk berjalan seperti ini.


Wajahnya semakin pucat dengan keringat yang membasahi dahinya. Kalau boleh jujur dia ingin berhenti tapi dia tidak ingin keluarganya sampai tahu aku kondisinya saat ini apalagi Melly. Dia tidak ingin mommy khawatir walaupun dia sendiri ragu apakah Melly pernah mengkhawatirkan dirinya. Mengingat sikap sang mommy selama ini.


"Jangan harap setelah ini kamu akan mendapatkan izin dariku lagi setelah ini Haaniya." Bisik seseorang di telinganya dan sedetik kemudian tubuh Hani langsung melayang di udara karena orang itu menggendongnya ala bridal style. " Aku tahu kamu suka tantangan, tapi mencintai diri sendiri juga perlu. Kai tolong siapkan mobil sekarang kita harus ke rumah sakit." Lanjutnya memberi perintah kepada Sahabatnya itu. Siapa lagi kalau bukan Narendra.


Ketiganya baru kembali dari Bali. Siang tadi dan mereka sudah menunggu Hani selama delapan jam tanpa kepastian di bandara. Pria itu, juga Lita hanya mengandalkan insting saja karena nomor telepon Hani tidak dapat di hubungi. Dan benar saja setelah delapan jam menunggu akhirnya GPS yang di pasang Narendra pada kalung Hani tanpa sepengetahuan wanita itu, akhirnya mengirimkan sinyalnya, Sehingga mereka bisa menemukan Hani begitu dia turun dari pesawat.


Semua ini bisa terjadi karena Ela, yang lupa memberi kabar sang kakak. Dan saat Narendra menelpon orang suruhannya di bali, mereka mengatakan jika Hani dan Ela tidak keluar dari hotel sejak semalam. Setelah mendapatkan laporan dari orang suruhannya. Narendra langsung mengajak kai untuk ke Bali pria itu tidak teringat akan GPS yang di pasang pada kalung Haaniya.


Dan benar saja, setibanya mereka di sana! Mereka hanya menemukan Lita. Saat di tanya Lita bingung untuk menjawab apa, karena sudah beberapa kali mengirim pesan kepada Hani dan menelponnya. Tidak satupun yang Hani jawab, membuat Lita terpaksa mengatakan keberadaan Hani saat ini dengan sedikit kebohongan tentunya.


Lita sadar dia tidak ingin membuat masalah untuk Hani dengan mengatakan, kalau Hani sedang memperingati hari kematian kekasihnya di negara itu.


Mau Sekeras apapun desakan Narendra, Lita tetap pada pendiriannya. bahkan jika Narendra membunuhnya untuk berkata jujur ia akan tetap pada pendiriannya.


" Hai Azzam, kamu marah?" Tanya Haniya, wanita itu menyentuh rahang Narendra yang mengeras, menahan amarahnya, apalagi saat melihat kemeja yang dia pakai kini memiliki noda merah yang begitu pekat. " Aku tidak bermaksud, tadi ada sedikit insiden yang membuat aku ter_"


" Haaniya diam-lah, Jangan membuat aku semakin marah kepadamu." Sela Narendra dengan tegas sambil mendekap erat tubuh wanitanya. Hani tidak tahu saja, jika perasaan Narendra saat ini bagaikan permen nano-nano.


" Baiklah tapi aku, boleh meminta satu hal, jangan memberitahu mommy ya."


" Sekali lagi kamu bicara aku akan langsung menelpon mommy saat ini juga." Ancam Narendra tak main-main, membuat sang istri langsung terdiam. Karena takut Narendra akan benar-benar menghubungi Melly.


Setelah memastikan Hani mendapatkan perawatan Narendra langsung menghampiri Lita dan Naela, kedua wanita itu kini sudah Kami kumpulkan di depan ruang ICU. Setelah mengantar Hani, Narendra dan Lita ke rumah sakit, pria itu langsung menuju rumah sakit berbeda di mana Ela berkerja, Dan disinilah kedua wanita itu sekarang ini.


" Apa yang ingin kalian berdua katakan?" Tanya Narendra, menatap tajam kepada saudari kembarnya juga sahabat dari istrinya. " Aku sudah percaya kalau kalian berdua akan menjaganya, tapi dia justru terluka. Apa kalian punya jawaban untuk ini."


Lita yang mulai muak dengan sikap Narendra langsung menyahuti pria." Hhmmm, kamu bersikap seakan kamu begitu mencintainya. Padahal dunia tahu bagaimana sikap kamu padanya dulu." Ucap Lita begitu menusuk. Hani kini sudah di temukan dan wanita itu tidak ada disini jadi untuk apa dia menghormati pria di hadapannya ini.


"Berani sekali kamu, kamu sudah salah karena tidak becus menjaga istriku, hingga dia terluka, Sekarang kamu berani membantah ucapan aku, saat aku bertanya. Harusnya kamu menjawab pertanyaan aku." Hardik Narendra dengan nada yang naik satu oktaf.


" Udah deh, jangan buat aku mual dengan sikap kamu ini. Kamu pikir dengan berubah secepat ini, kamu bisa mendapatkan hati Haniya?"Sahut Lita sembari menelisik penampilan Narendra. " Sadar Bung. Hani bukan Nahla ataupun wanita-wanita yang kamu temui di luar sana." Lanjutnya menjentik-jentikan jarinya di depan wajah Narendra, dan berlalu begitu saja dari hadapan pria itu. Tanpa menghiraukan umpatan Narendra.


Lita melakukan semua itu bukan karena dia sombong atau ingin menunjukkan kehebatannya di hadapan suami sahabatnya itu. Tapi dia muak dengan semua sikap Narendra saat ini, bukan karena dia tidak suka Hani di perhatikan seperti itu. Dia suka dan senang banget malah jika ada yang benar-benar tulus ke Hani. Tapi Untuk Narendra Lita tetap saja ilfil, mengingat apa yang di lakukan Narendra di malam pertama mereka serta cara dia mempermalukan Haaniya. Sungguh tak bisa ia lupakan begitu saja.


Wanita itu berjalan ke kantin untuk memesan kopi, Setelah itu dia naik ke rooftop, Untuk menenangkan pikirannya disana sambil menunggu Hani selesai di obati.


Sementara itu, diruang ICU tim medis telah selesai mengobati luka Hani namun Wanita itu di sarankan untuk di rawat selama dua atau tiga hari ke depan. Narendra tentu saja tak keberadaan dengan hal itu karena dia ingin yang terbaik untuk kesembuhan Hani.


Setelah mengurus prosedur ini dan itu, akhirnya Hani di pindahkan keruangan rawatnya. Ruang VIP sengaja di pilih Narendra untuk Hani, selama wanita itu di rawat disini. " Ela, Lita-nya mana?" tanya Hani saat matanya tak bisa menemu keberadaan sahabatnya itu.


"Dia lagi ke kantin beli kopi, sebentar juga datang." Sahut Ela, Sementara Narendra masih dalam model dongkol mengingat Setiap ucap yang keluar dari mulu Lita, sahabat dari istrinya itu, Walaupun apa yang dia ucapkan Lita itu benar adanya.


Mendengar jawaban Ela, Hani pun mengangguk kepalanya paham." Kamu butuh sesuatu." Tanya Ela lagi, begitu Hani kembali terdiam.


" Nggak terima kasih Ela, aku mau tidur aja." Jawab Hani kemudian memejamkan matanya seperti biasanya, namun ia tidak benar-benar tertidur.