
Setelah drama panjang antara dirinya dan Hani serta keinginan wanita itu yang mau dia pergi untuk melakukan kunjungan ke hotel-hotel istrinya itu, Narendra pun memutuskan untuk pergi sesuai keinginan Hani.
"Honey, Kamu yakin?" Tanya Narendra, berharap istrinya itu berubah pikiran dan mencegahnya untuk pergi.
" Tentu saja! Pergilah Azzam, aku tidak akan berubah pikiran jika itu yang kamu harapkan." Sahut Hani, sembari tersenyum manis kepada Narendra.
"Baiklah, aku akan pergi dan akan langsung kembali begitu pekerjaan aku selesai." Ujar Narendra, pria itu mencium puncak kepala Hani, berulang-ulang.
"Hati-hati dan jangan macam-macan, ingat mata, hati, kalau perlu semuanya di jaga." Kata Hani, dia terdengar begitu posesif berbeda dengan dia yang biasanya.
" Iya Honey! Aku hanya akan melihat kamu saja dan semua yang ada padaku hanya untuk kamu." sahut Narendra.
" Diih, nggak percaya, sudah sana pergi."Hani mendorong pelan tubuh Narendra untuk keluar dari apartemen itu. Dan sebelum meninggalkan apartemennya Narendra kembali mencium bibir istrinya itu.
" Azzam."
" Oke sayang aku pergi." Narendra pun meninggalkan Hani sendiri di apartemen itu.
Setelah Narendra pergi Hani merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menonton TV.
Dia menunggu Hana, karena tadi Hani sudah menelpon Hana, wanita itu berjanji akan datang begitu kuliahnya selesai. Lama menunggu, Hani pun tertidur.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Ting Tong...
Suara bel apartemen itu, membuat tidur Hani terusik, wanita itu mengerjap matanya beberapa kali sebelum membuka kedua matanya itu dengan sempurna.
Ia beranjak bangun dari tidurnya dan berjalan kearah pintu untuk membuka pintu itu.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Hani begitu melihat wajah sang adik, Hana.
" Mbak aku sudah usaha cepat loh, ini aja aku langsung kesini begitu kuliah aku selesai." Jawabnya, lalu memeluk tubuh Hani, ia sangat merindukan kakaknya itu. " Aku kangen banget sama mbak." Ucapnya lagi, mencium kedua pipi Hani secara bergantian.
" Hana lepas." Teriak wanita Hamil itu, ia merasa sesak di peluk adiknya.
" Sorry."
" Mbak bukan gitu_"
" Udah-udah, sana masak jangan banyak alasan. " Perintahnya kemudian meninggalkan Hana yang masih terdiam di tempatnya.
Hana bahkan harus mengelus dadanya menghadapi sikap sang kakak yang seenaknya sendiri.
Dan itu berjalan selama tiga hari dia tinggal bersama Hani, Hana bahkan hampir menangis menghadapi sikap menyebalkan Hani.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Kapan kamu akan pulang?" Tanya Hani, wanita itu saat ini tengah menelpon suaminya yang sudah tiga hari keluar kota dan belum pasti kapan kembalinya.
" Honey ini aku sedang berusaha, secepat yang aku bisa." Jawab Narendra dari seberang sana.
" Alaah, bilang aja kamu lambat! Atau kamu memang sengaja lama-lama disitu karena nggak mau ngurusin aku dan calon anak-anak kita." Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana dan Narendra tahu, jika sudah seperti ini, pasti akan panjang urusannya.
" Kamu ya! Udah hamil-in aku, nggak mau tanggung jawab, sengaja kan biar kamu bisa lari dari tanggung jawab kamu iya kan ngaku deh." Desak wanita itu.
Sang adik yang berada tidak jauh darinya hanya bisa mengeleng kepala sambil mengusap dadanya, karena bukan hanya dia yang menikmati sikap menyebalkan Hani, tapi kakak iparnya juga.
" Maaf sayang, aku segera menyelesaikan semuanya dan aku usahakan pulang oke. "
" Terserah kamu." Sahut Hani, kemudian mengakhiri panggilan itu secara sepihak dan itu membuat Narendra yang berada jauh di sana semakin pusing.
" Hana." Teriak Hani, membuat sang adik memejamkan matanya.
" Iya mbak."
" Buatin mbak rujak, cepat nggak boleh lama." Wanita itu kembali memerintah adiknya itu.
" Mbak, Hana ini adik mbak loh!"
" Terus yang bilang kamu pembantu itu siapa? Atau kamu juga sama kaya kakak ipar kamu, mau lari dari tanggung jawab iya?" Mulai pikiran negatif itu muncul lagi di kepala Hani.
" Iya mbak, Hana buatkan." Wanita itu langsung pergi dari hadapan kakaknya. Karena tidak ingin memperpanjang masalah untuk dirinya sendiri.