HAANIYA.

HAANIYA.
Mau sarapan apa?



"Selamat pagi honey." Ucap Narendra sembari mengecup bibir Hani, wanita itu masih bergelut manja dalam selimutnya sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Narendra.


Mendengar sapaan sang suami di pagi hari, membuat Hani mengerjap matanya beberapa kali, sebelum kedua mata itu terbuka dengan sempurna di ikuti senyum manis yang terlukis pada wajah cantiknya.


" Pagi Azzam." Sahut wanita itu dengan suara khas bangun tidurnya.


Hani menarik tangannya yang masih melingkar pada pinggang Narendra, lalu beranjak untuk duduk. " Ngghh." Wanita itu melen-guh sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya.


" Jam berapa ini." Tanya Hani.


"Hampir setengah enam." Jawab Narendra sambil menunjukkan jam yang tertera pada layar ponsel-nya.


Hani pun mengangguk kepalanya, Setelah itu keduanya beranjak turun dari ranjang untuk melakukan ritual pagi mereka sebelum melakukan aktivitas mereka hari ini.


"Honey kamu ingin sarapan apa?" Tanya Narendra, begitu mereka selesai melakukan ritual pagi mereka.


" Aku ingin sarapan bubur ayam. " Jawab Hani. " Tapi kamu yang memasaknya." Lanjut wanita itu lagi, membuat Narendra membulatkan kedua matanya.


" Honey, jangan becanda!" Ucap Narendra.


Pria itu bukannya tidak bisa memaksa. Dia bisa tapi yang simpel dan praktis seperti mie instan, spaghetti, sandwich dan kawan-kawannya. Yang pasti simpel dan tidak ribet.


Walaupun bubur ayam termasuk simpel untuk emak-emak tapi tidak untuk seorang Narendra.


" Aku tidak bercanda Azzam, aku ingin sarapan bubur ayam dan kamu yang membuatnya untukku." Tegas Hani, wanita itu menatap penuh harap pada Narendra.


Narendra mende-sah pendek, kemudian mengangguk kepalanya demi istri dan calon anaknya, dia akan mencobanya. " Aku akan mencobanya, kamu tunggu disini." Ucap Narendra.


Hani pun duduk di ruang tengah sembari menonton TV dengan sebuah Apel di tangannya. Sementara Pria itu berjalan ke kamar mereka untuk mengambil ponselnya dan membawanya ke dapur.


Sebelum ia memulai untuk membuat bubur Ayam, Narendra menonton cara membuatnya di salah satu aplikasi yang ada di ponselnya terlebih dulu. Pria itu kemudian mengikuti tutorial yang ada pada aplikasi itu.


Setelah cukup lama, bergulat dengan peralatan dapur, akhirnya saran untuk istri dan calon anaknya siap.


Narendra menata makanan itu di atas meja makan, kemudian memanggil Hani yang tengah duduk di ruang tengah itu untuk sarapan bersama.


" Apa ini enak?" Tanya Hani, sembari mengaduk-aduk bubur yang di buat Narendra.


Hani mendaratkan bokongnya pada kursi yang telah di tarik Narendra untuk ia duduki." Entahlah, aku tak yakin. Ini pertama kali aku membuatnya." Jawab Narendra jujur.


Pria itu tidak ingin ber-ekspetasi lebih untuk hasil masakannya, walaupun makan itu terlihat mengiurkan." Kamu tak mencicipinya?" Tanya Hani lagi.


Narendra pun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Terdengar helaan nafas berat dari wanita itu, sebelum ia memberanikan diri untuk mencicipi masakan suaminya itu.


" Enak!" Jawabnya kemudian menyendok bubur itu lagi dan lagi dengan begitu lahapnya.


" Apa se-enak itu?" Narendra masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


" Hhhmmm, cobalah." Sahutnya.


Hani pun mengambil sesendok bubur, kemudian ia menyodorkannya kepada Narendra, pria itu terlihat ragu untuk membuka mulutnya.


" Ini enak Azzam, kamu meragukan aku, bukankah makan yang aku masak untukmu selalu enak." Ucap wanita itu untuk menyakinkan Narendra dan pria itupun membuka mulutnya.


" Eemmhh." Narendra langsung membekap mulutnya sendiri, saat rasa dari bubur itu menyapa lid-ahnya.


" Enakkan." Tanya Hani, wanita itu kembali menikmati bubur itu sempai Habis tak bersisa, sementara Narendra beranjak dari tempat duduknya menuju wastafel untuk mengeluarkan bubur itu dari mulutnya.


Sungguh kalau dia boleh jujur, itu adalah rasa makanan teraneh yang pernah ia buat dan ia tidak akan membuatnya lagi demi keselamatan istri dan calon anaknya.


"Honey, kamu tidak_" Narendra tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat melihat bubur itu telah habis tak bersisa.


" Apa?" Tanya Hani dan pria itu hanya bisa menggeleng kepalanya saja. " Ya sudah, aku mau telepon Lita dulu, sebelum aku lupa. "


Ia pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Narendra yang masih terpaku di tempatnya.


...\=\=\=\=\=\=\=...


" Selamat pagi." Ucap Hani, begitu Lita yang berada di seberang sana menjawab panggilannya.


"Pagi Hani sayang! Kamu lagi apa? sudah sarapan! gimana kabar Keponakan aku." Sahut Lita sembari bertanya.


" Kalau nanya itu satu-satu Lita." Tegur Hani.


" Sorry." Ucap wanita itu diikuti kekehan kecil yang keluar dari bibirnya.


" Aku baru selesai sarapan dan calon Keponakan-keponakan kamu ini baik-baik saja." Jawab Hani, mengusap perutnya.


" Syukurlah, terus kenapa kamu telpon ada kerjaan kah?" Hani menggeleng kepalanya, walaupun lita tidak dapat melihat hal itu.


" Tidak aku hanya ingin memintamu untuk mengantikan aku menghadiri pesta pernikahan Lisa dan kak Arga, kamu bisa kan?"


"Jangan bertanya kalau kamu sendiri sudah tahu jawabannya, lagian kamu kan tahu sendiri, kalau aku itu tidak dapat menolak semua permintaanmu." Jawab Lita.


" Terima kasih Lita sayang, kamu memang yang terbaik! nanti aku akan mengirim undangannya kepadamu." Sahut Hani.


Keduanya pun meneruskan obrolan mereka sampai hampir sejam. Andai saja Lita tidak memiliki pekerjaan yang harus ia kerjakan pagi itu, mungkin saja mereka akan mengobrol sampai lupa waktu.