
Begitu pintu Ballroom hotel itu terbuka Mata Hani langsung di sambut dengan pemandangan yang begitu megah dan indah. Orang tuanya dan orang tua Narendra benar-benar menyiapkan pesta pernikahan yang luar biasa megah dan indahnya untuk mereka. Padahal waktu yang mereka punya sangat mampet namun mereka dapat mewujudkan pernikahan yang luar biasa untuk anak-anak mereka. Dan ini baru janji suci pernikahan, tapi tamu yang hadir sudah begitu banyak belum acara resepsinya. Entah berapa banyak tamu yang di undang untuk menghadiri acara sakral itu tapi satu yang pasti tidak ada teman-teman Hani yang di undang, terkecuali mommy Mayang dan Lita, sisanya adalah tamu undangan orang tua mereka dan Narendra.
"Itu calon istri si Rendra? Aku pikir dia bakalan menikah sama Nahla."
"Aku juga kaget banget, pas lihat undangannya.
" Astaga bukan Nahla."
" Apa jangan-jangan mereka punya hubungan diam-diam di belakang Nahla."
" Kasihan ya Nahla, cuma bisa jagain jodoh orang."
" Dia cantik sekali."
" Cantik kalau merebut kekasih orang juga percuma."
Setiap kaki Hani melangkah melewati mereka, ia terus mendengarkan Tanu yang Hadir membicarakan dirinya, Narendra juga Lita, Dan banyak mereka yang terang-terangan menghina juga mengatai diri. Seakan mereka sengaja agar Hani dapat mendengarnya. Bahkan dari mereka ada yang menduga jika Narendra telah menghamilinya, sehingga pernikahan ini terkesan buru-buru.
Mereka tidak tahu saja, kalau semua itu bisa terjadi karena ulah orang tua Hani dan Narendra yang tidak ingin memberikan kesempatan untuk kedua orang itu berubah pikiran.
" Sudah, jangan dengarkan mereka! Mereka itu hanya sekumpulan orang-orang bodoh yang tidak tahu melakukan apapun tapi begitu pandai menilai serta menceritakan orang lain." Bisik Ela, karena wanita itu juga Mendengar.
Hani pun tidak punya untuk marah, karena tidak ingin mengacaukan apa yang telah di siapkan orang tuanya untuk pernikahan mereka. Ia pun di bantu oleh Ela dan Hana untuk duduk di samping Narendra. Setelah itu mereka kembali ke tempat duduk mereka yang telah di sediakan.
Setelah itu, MC pun mulai memandu jalannya acara itu dan begitu tiba pada Acara inti. Hani meremas kedua tangannya sembari memejamkan matanya. Takut jika pria Yang duduk di sampingnya itu akan mempermalukan dirinya dengan salah menyebut namanya. Tapi siapa sangka dalam sekali percobaan pria itu tidak melakukan kesalahan sedikit bahkan ia begitu fase dalam menyebutkan nama Hani, seakan pria itu telah siap untuk hari ini sejak jauh-jauh hari dan yang membuat Hani terkejut, mahar yang Narendra berikan pada, berupa uang tunai sesuai tanggal pernikahan mereka serta Rantai emas yang sepanjang tinggi Hani dan Satu set perhiasan.
Untuk Hani semua itu sangat berlebihan dan membingungkan. Padahal saat di tanya sama Luna waktu itu. Hani menjawab." Katakan kepada Narendra dia boleh memberikan memberikan mahar sesuai kemampuan tapi jangan sampai merendahkan harga dirinya." Apa mungkin Narendra tersinggung dengan ucapannya sehingga ia mencoba membuktikan hal itu dengan memberikan mahar seperti sebanyak itu, entahlah. Hani tidak ingin larut dalam pemikirannya, Karena ia harus melakukan prosesi pernikahan yang selanjutnya Dina ia harus mencium punggung tangan Narendra.
Hani tak menyahuti kesombongan yang di tunjukkan Narendra karena wanita itu malas meladeninya. Ia segera melepaskan tangan Narendra dan ingin mengangkat kepalanya tetapi dengan cepat pria itu meletakkan tangan kanannya pada ubun-ubun Hani, kemudian melafalkan doa dalam hati sebelum mengecup keningnya cukup lama, karena momen itu sedang di abadikan oleh fotografer yang di sewa untuk mengabadikan setiap momen pernikahan itu dari awal sampai benar-benar berakhir.
Acara pun terus berlanjut setelah pemuka agama membaca kan doa, di lanjutkan dengan pemasangan cincin dan penandatanganan berkas-berkas untuk pengesahan pernikahan mereka. Acara itupun terus berlanjut dan baru berhenti saat saat waktu menunjukkan pukul dua Siang. Hani diminta kembali terlebih dulu ke kamarnya untuk istirahat, karena pukul lima nanti ia sudah harus di make up untuk acara resepsi malam nanti.
Setibanya di kamar, ia langsung meminta Lita di bantu Ela melepaskan aksesoris di kepalanya serta kebaya pengantinnya menyisakan dalamnya saja. Hani pun langsung berbaring di atas ranjang tak lupa untuk menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Gadis itu juga berpesan kepada kedua sahabatnya untuk tidak ada yang mengganggunya selama iya beristirahat.
Tak butuh waktu lama Hani pun terlelap dalam tidurnya. Namun dalam tidurnya yang lelap ia kembali bermimpi yang sama. Wajahnya perlahan mulai memucat dengan keringat yang telah membasahi dahinya.
" Kak Ela, sebaiknya kita tunggu di luar yuk! Biarkan Hani istirahat dulu kasihan di terlihat begitu lelah, sampai tidurnya pun tak nyaman seperti itu." Ajak Lita. Karena gadis itu tahu, saat Hani mulai gelisah dalam tidurnya, ia pasti sedang bermimpi tentang keenan dan tidak ingin sampai Ela mengetahui akan hal itu.
" Nggak papa nih kita tinggalin dia sendiri? Nanti dia butuh sesuatu gimana! Atau tiba-tiba ada yang Masuk." Ujar Ela.
" Udah kamu tenang aja! Pintunya tinggal kita kunci dari luar." Ela pun mau tak mau hanya menurut saja, setelah itu keduanya pun meninggalkan Hani,
Karena tidak ingin terlihat seperti orang bingung yang hanya berdiri di depan pintu kamar Hani, kedua gadis itu memutuskan untuk beristirahat di kamar Ela sembari menikmati makanan siang mereka yang sudah sangat terlambat itu, karena sejak tadi mereka tidak sempat untuk makan dan terus membantu Hani.
Tanpa kedua gadis itu sadari, ketika mereka meninggalkan kamar Hani ada seseorang yang masuk kedalam kamar Hani mengunakan kunci Duplikat yang ia minta dari petugas hotel.
Pria itu berjalan menghampiri Hani yang masih larut dalam mimpinya, kemudian duduk ditepi ranjang, sembari mengusap keringat yang di dahi Hani. Dan perlahan usapan itu turun ke pipinya.
Namun Hani tidak sedikitpun terusik. Pria itu kemudian memberanikan diri untuk menunduk mencium pipinya, Setelah itu ia segera beranjak pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya. Namun baru beberapa langkah! Pria itu berhenti saat mendengar Hani mengigau memanggil-mangli nama seseorang.
" Keenan, Keenan." Di ikuti suara tangisannya yang menyayat hati, pria itu ingin berbalik menenangkan Hani serta menghentikan suara tangisannya. Tapi ia takut ada yang melihatnya. Sehingga ia tetap menguatkan hatinya untuk pergi dari sana.
Bersamaan Dengan pintu yang tertutup dari luar, Hani pun terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati siapapun di kamar itu.