
"Kamu belum tidur?" Tanya Narendra, pria itu baru saja masuk kedalam kamar tidur mereka, setelah mempelajari berkas-berkas yang di kirim Kevin. Katanya sih ada sebuah perusahaan asing yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
Dan setelah Narendra mempelajari berkas-berkas itu, ia sepertinya tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan itu tapi belum ia putuskan, sebab ia harus membicarakan semua itu dengan ayah Sanjaya dan juga Reval papanya, terlebih dulu.
" Aku nungguin kamu, ada yang ingin aku bicarakan! tapi kalau kamu sudah lelah. besok saja kita bicaranya." Jawab Hani setelah melihat wajah lelah Narendra, pria itu bahkan beberapa kali menguap,. serta mengerakan lehernya kekiri dan kekanan. Walaupun Hani belum memiliki perasaan apa-apa kepada Narendra, namun ia tidak tega rasanya jika harus menahan Narendra untuk beristirahat dan membebani pria itu dengan masalahnya.
" Apa yang ingin kamu bicarakan, katakan saja! aku akan mendengarnya! bukankah kamu sendiri yang meminta untuk membuatmu nyaman berada di sisiku! Sayangku, bagaimana kamu akan merasa nyaman, jika bercerita tentang masalahmu saja sungkan untuk melakukannya." Ujar Narendra, pria itu berusaha untuk meyakinkan Hani sembari berbaring di samping Sang istri dan menjadikan paha wanita itu sebagai bantalnya. Posisi Hani yang duduk dengan bersandar pada kepala ranjang, membuat Narendra dengan mudah melakukan hal itu.
Narendra meraih tangan kanan Hani, kemudian mencium punggung tangannya berulang kali, sebelum meletakkan tangan wanita itu di dada dan memeluknya.
Entah mengapa setelah melihat wajah Hani, rasa ngantuk yang sejak tadi menganggu pekerjaannya langsung menghilang begitu saja dan membuatnya tetap ingin terjaga untuk melihat wajah istrinya." Zam, ini bukan masalah yang serius kok, kita masih bisa membicarakannya nanti. Sebaiknya kita istirahat kamu pasti lelah-kan, Mana besok kamu harus kerja." Hani tetap kekeuh untuk tidak memberi tahu masalahnya Kepada Narendra sekarang.
Wanita itu tidak sadar, jika masalah yang ia anggap sepele itu, bisa menjadi Boomerang untuknya. " Haaniya, Dengar kan aku! kamu itu istriku, apapun masalah kamu! sekecil apapun itu, itu sangat penting untuk aku. Ayo cerita Sayang aku mendengarkan." Desak Narendra membuat Hani pun mau tidak mau, Harus menceritakan Semuanya kepada Narendra saat itu juga.
Dimulai dari pertama kali ia berjumpa dengan keenam, yang Narendra sendiri juga sudah tahu ceritanya dari Keenan nya langsung, setelah itu pertemuannya dengan Regan, dimana pria itu begitu terobsesi untuk menaklukkan dirinya, hingga kekejaman pria itu membunuh Keenan dan pertemuan mereka di hotelnya siang tadi, Hani awalnya hanya ingin menceritakan seperlunya saja, tapi entah mengapa semua mengalir begitu saja hingga ia menceritakan semuanya kepada Narenda tanpa terlewat sedikitpun.
Sementara Narendra yang mendengar semua itu, di buat terkejut berulang kali, mulai dari Regan yang merupakan seorang mafia dingin dan kejam, obsesi pria itu untuk istrinya, Hani yang hampir menikah tanpa sepengetahuan mereka, belum lagi kematian keenan dan terakhir pria itu ada disini. Tapi Hani dengan santai berkata jika semua ini bukanlah masalah yang serius.
Narendra langsung mengubah posisinya, dari tiduran menjadi duduk dan kini berharap langsung kepada Hani, menatap dalam kedua Manik indah milik Istrinya, Seraya berkata." Masalah seserius ini, kenapa kamu begitu santai sih." Pria itu antara gemas atau geram kepada Haaniya. " Apa kamu ingin membuat aku hidup dalam penyesalan untuk kedua kalinya Haaniya, aku tahu kamu hebat, Kamu mandiri dan kamu bisa menghadapinya semuanya. Tapi kamu harus ingat sayang, tidak semua masalah dapat di selesaikan seorang diri, karena bagaimanapun kita, sehebat apapun kita, kita tetap membutuhkan bantuan orang lain. Kamu, aku atau siapapun itu kita tetap membutuhkan bantuan orang lain." Jelas Narendra sembari memegang Kedua pipi Hani dengan lembut.
" Maaf_"
Setelah keduanya berbicara, Mereka pun memutuskan untuk beristirahat, karena waktu kini telah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Hampir tiga jam Hani bercerita tentang Dirinya kepada Narendra.
Malam itu setelah menceritakan semuanya kepada Narendra, Hani tertidur dengan begitu lelap untuk pertama kalinya setelah kepergian Keenan, tidak perlu bantuan obat tidur dan tidak mimpi buruk juga, seakan beban di hatinya telah terangkat semuanya.
Hingga Ia terbangun dengan wajah yang jauh lebih segar dari biasanya. " Pagi sayang, bagaimana tidurmu." Sapa Narendra, begitu ia membuka kedua matanya. pria itu juga tak lupa mengambil kesempatan untuk mengecup bibir Haaniya, yang sepertinya akan menjadi candu untuknya.
"Sepertinya kamu semakin melunjak saat di biarkan." Ucap Haani begitu Narendra menarik dirinya, usai mengecup bibir istrinya itu. " Kamu sudah berani mencium aku berulang-ulang kali, Sedangkan hubungan kamu dan Nahla saja, belum tau jelasnya seperti apa." Sungut Hani. Sementara pria itu hanya tersenyum dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Hani lagi.
"Apa kamu cemburu? jika ya, buang perasaanmu itu jauh-jauh, karena dia tidak pantas untuk membuat istriku cemburu."
Hani mengeleng-geleng kepalanya mendengar ucapan manis pria itu, " berhentilah membual tuan Narendra Azzam Sanjaya yang terhormat, istrimu ini belum lupa jika di malam pertama kita kamu lebih menemani wanita setengah siluman itu. lagian apa bagusnya dia sampai kamu mau dengan wanita setengah akhlak itu. " Tanya Hani, sembari beranjak dari tempat tidur, kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Sang suami yang hanya diam sambil tersenyum penuh Arti.
Setelah melakukan ritual pagi mereka. Kedua pasangan suami itu, kini telah siap dengan setelan kerja mereka, Sebelum keduanya turun kebawah untuk bergabung bersama yang lain dan sarapan bersama.
Begitu selesai sarapan, keduanya langsung , berangkat berkerja. Tak lupa untuk pamit kepada Luna dan Reval yang ikut senang melihat kemajuan dalam hubungan anak-anak mereka.
Reval dan Luna Berharap, anak-anak mereka bisa selamanya seperti itu dan tidak ada yang mengulang kisah mereka. Sebab keduanya berharap perjalanan hidup anak-anak itu bisa jauh lebih membahagiakan dari mereka.
Sungguh itu semua hanya Harapan kecil, setiap orang tua, untuk anak-anak mereka dan hal yang sama pun berlaku kepada Luna dan Reval, keduanya juga sama seperti orang tua lain yang menginginkan kebahagiaan untuk Narendra dan Haaniya.