
"Jujur saja, aku sangat risih saat berjalan bersama kalian berdua." Ucap Narendra saat ketiganya duduk di pinggir jalan menikmati sarapan pagi mereka.
" Kenapa? kamu keberatan dengan hal itu?" Tanya Hani dengan emosi yang selalu meluap-luap tanpa tahu waktu itu.
Sementara Lita hanya menatap suami Sahabatnya itu sembari menunggu ia menyelesaikan ucapannya.
" Sayang," Narendra langsung menarik tangan Hani lalu menciumnya," Kamu Lihat sekitar kita, semua orang menatap seolah menghakimi aku. Mungkin mereka berpikir kalian berdua adalah istriku."lanjutnya membuat kedua wanita itu kompak menatap ke sekitar mereka dan benar saja, semua mata kini tengah tertuju kepada mereka dengan ekspresi yang berbeda.
" Biarkan saja! Bahkan jika Lita mau aku dengan senang hati akan memberikanmu." Sahut Hani diluar ekspektasi. Narendra sampai di buat melongo dengan jawaban Hani.
" Dan aku tidak sehina itu sampai harus merebut milikmu honey. Lebih baik aku mati dari pada harus menjadi orang yang tidak tahu diri seperti itu. Kamu bukan sekedar sahabat kamu lebih penting dari itu. Aku lebih baik menyakiti diri sendiri dari pada harus menyakiti kamu." Sahut Lita dengan tegasnya.
"Ayolah Lita sayang, aku tahu itu! Dan yang aku katakan hanyalah candaan oke. Lagian untuk apa kita harus memikirkan orang lain, mereka punya hak untuk melihat dan berpikir, selama itu tidak melukai kita abaikan saja. Kita yang tahu hidup kita dan kita yang menjalani orang lain hanya bisa melihat dan menilai, itu sudah hukum Alam. Baik buruknya penilaian mereka, hidup kita akan terus berjalan jadi biarkan saja." Ucap Hani panjang kali lebar.
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, mendekati Narendra lalu mengusap wajah pria itu. " Maaf aku hanya bercanda, kamu pria pria yang aku cintai sekarang dan selamanya." Ucap wanita sembari mengecup kening Narendra membuat hati Narendra yang sempat kesal dengan jawabannya beberapa saat lalu meluap berganti perasaan bahagia.
Lita yang melihat kemesraan itu ikut bahagia untuk Hani, setidaknya Hani sudah bahagia sekarang dengan lelaki yang dia cintai. Wanita itu berharap selamanya Hani akan terus bahagia walaupun dia tahu jalan mereka masih panjang dan krikil kecil itu pasti ada tapi dia yakin Hani dan Narendra bisa melewati semua itu.
" Lita sayang, kamu sudah selesai." Tanya Hani, wanita itu pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya. " Baiklah kita pulang sekarang, aku sedang menginginkan dirinya." Lanjut Hani dengan tidak tahu malunya, lalu menarik Narendra untuk pergi dari sana.
Diikuti Lita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu sudah terbiasa dengan semua itu dan bagi Lita Hani dan Narendra masih memiliki sedikit urat malu, beda Ela serta Kai. Dan jujur saja jauh di dasar hatinya iya iri dengan kedua sahabatnya.
Setibanya di apartemen, Lita langsung masuk ke apartemennya untuk membersihkan dirinya sekaligus beristirahat sementara pasangan itu masuk kedalam apartemen mereka.
\=\=\=\=\=\=\=
Saat usia kandungan Hani memasuki bulan kesembilan dan menunggu waktu lahirannya, wanita itu sudah tidak tinggal lagi di apartemennya tepat setelah acara syukuran tujuh bulan yang di lakukan di kediaman Xavier, Walaupun hal itu awalnya di tentang oleh Luna, karena bagaimanapun itu adalah cucu pertama dan kedua keluarga Sanjaya. Namun Melly beralasan jika Luna masih bisa merasakan itu, karena sebentar lagi dia bisa mengadakan syukuran untuk Cucunya yang lain dan setelah perdebatan panjang dan kembali kepada Hani yang memilih wanita itu ingin di rumah keluarga Xavier walaupun kecewa dengan pilihan menantunya tetapi Luna tetap yang paling heboh menyiapkan ini dan itu bahkan dan Melly dan Dian membiarkan saja serta ikut membantu hingga acara itu berjalan lancar dan khidmat.
Setelah acara itu selesai, Hani tidak di izinkan kembali ke apartemen oleh bunda Dian dan mommy Melly, mereka ingin Hani tinggal di kediaman Xavier dan Hani pun menuruti karena dia juga merindukan rumah itu.
Selama tinggal di kediaman Xavier, Hani begitu disayang dan dimanja. Dia bahkan sangat di jaga oleh adik-adiknya juga Dion serta Ken.
Walaupun Hani sedikit menjaga jarak dari daddynya itu, tapi Dion tidak menyerah begitu saja ia terus mendekati putrinya itu seperti saat ini.
" Kamu butuh sesuatu sayang." Tanya Dion pada Hani yang sedang duduk di sofa sambil meluruskan kakinya.
" Tidak Daddy, jangan membujukku! Aku masih marah kepadamu." Hani tidak pernah menutupi apapun semenjak hamil, jika tidak suka dia akan langsung mengatakan hal itu.
Dion menangkup wajah putrinya dari belakang lalu mencium keningnya dengan bertubi-tubi. " Katakan apa yang harus Daddy lakukan, agar kamu mau memaafkan Daddy sayang." Bujuk Dion lagi, lelaki paruh baya itu belum menyerah untuk mendapatkan maaf dari putrinya.
" Tidak ada, sebaiknya Daddy urus saja putri Daddy itu jangan pedulikan Hani." Kekeuk-nya.
Narendra, Aiden, Dian serta Melly yang Ada di ruangan itu hanya membiarkan mereka tak ingin mencampuri urusan ayah dan anak itu.
"Siapa yang kamu maksud Hana! Daddy akan mengurusnya begitu dia pulang kuliah nanti." Hani langsung menatap kesal ayahnya.
" Bukan Hana tapi Putri kebanggaan Daddy."
" Dan putri kebanggaan Daddy itu kamu, sayang."
" Tapi perlakuan Daddy ke Hani tidak seperti itu."
" Maaf Daddy salah." Pria kembali mencium kening Hani kali ini lebih lama dia bahkan sampai meneteskan air matanya. " Putri Daddy itu cuma Hani dan Hana tak ada yang lain. Maafkan kekeliruan Daddy ya sayang."
" Hmmm." Gumam Hani sebagai jawaban, wanita itu masih ingin marah kepada daddy-nya tapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau dia juga sangat menyayangi Dion.
" Terima kasih sayang. Daddy sangat menyayangi kamu dan Hana." Ucapnya meyakinkan Hani dan wanita itu hanya mengangguk kepalanya dengan malas.