HAANIYA.

HAANIYA.
Wanita lain!



" Sudah aku bilang, aku nggak mau ketemu siapa pun, kenapa kamu izinin mommy kesini, Azzam." Hani berteriak menyalahkan Narendra.


"Maaf honey, mama yang maksa pengen kesini. Maafkan aku." Ucap Narendra, walaupun ini tidak sepenuhnya salah dia tapi dengan kondisi Hani yang sekarang Narendra hanya bisa meminta maaf dan menerima saat Hani menyalahkan dirinya.


" Kamu jahat Azzam, gara-gara kamu, aku buat mommy menangis." Teriaknya dengan sesenggukan.


Hani memberontak untuk melepaskan pelukan Narendra karena saat ini pria itu tengah memeluknya.


"Maaf honey! Tolong jangan seperti ini, ingat anak kita, ini akan menyakiti mereka, kalau kamu terus seperti ini." Narendra tidak punya pilihan selain menyebutkan calon anak-anaknya untuk menenangkan Hani.


Dan syukurnya, hal itu langsung membuat Hani tenan, wanita itu tidak lagi memberontak, hanya saja ia masih menangis dalam pelukan Narendra.


Cukup lama mereka berada dalam posisi itu hingga Hani benar-benar tenang dan tertidur dalam pelukan Narendra.


Narendra kemudian membaringkan Hani di tempat tidur, menyelimutinya lalu mencium kening Hani, Setelah itu dia meninggalkan Hani.


Narendra sengaja meninggalkan Hani seorang diri, karena dia ingin membuat makanan untuk Hani. Sebab wanita itu belum makan siang. Sedangkan jam makan siang sudah lewat.


" Bagaimana Hani?" Narendra yang baru keluar kamar, begitu terkejut saat mendapati pertanyaan dari mamanya. Ia pikir mama dan mertuanya itu sudah pulang.


" Hani sudah tidur mah," Jawab Narendra.


" Terus kamu mau kemana? Kenapa tinggalin Hani sendiri." Tanya Luna lagi.


" Abang harus buatin dia makanan mah, Hani belum makan siang." Jelas Narendra.


" Kamu ke kamar aja! Biar mama yang buatin makan siang Hani."


" Nggak bisa mah! Makan Hani itu harus Abang yang buat kalau nggak dia nggak akan makan." Ucap Narendra membuat Luna mengerutkan keningnya.


" Mah," Teriak Narendra pelan, pria itu sungguh tidak suka, cara mamanya memandang dirinya." Hani itu lagi ngidam, dia nggak akan makan banyak Kalau bukan masakan Narendra dan mama nggak perlu khawatir, karena keselamatan dan kebahagiaan menantu serta calon cucu-cucu mama adalah prioritas utama Abang saat itu." Sambungnya.


" Ko mama nggak yakin." Wanita itu masih saja curiga kepada anaknya sendiri.


" Lun." Melly yang melihat perubahan pada wajah menantunya itu langsung membantunya. " Udah Mel, kita pulang biarkan Narendra melakukan apa yang dia inginkan, karena dia pasti tahu yang terbaik untuk Hani." Ucapnya sembari menarik tangan Luna untuk pergi dari sana.


Walaupun dirinya tidak terlihat baik-baik saja saat ini.


Luna pun menyerah, kemudian mengikuti sahabat sekaligus besannya itu. Sementara Narendra meneruskan langkahnya.


Pria itu melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan makanan yang anak dia Olah untuk menu makan siang istrinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Luna dan Melly mengunjungi Hani waktu itu, ke-duanya memutuskan untuk datang lagi esoknya namun Narendra tidak mengizinkan mereka masuk, sebab dia tidak ingin hal itu mempengaruhi mood Hani.


Kedua wanita itupun tidak menyerah, mereka terus datang dalam seminggu terakhir, tidak terhitung berapa kali mereka mengunjungi apartemen Narendra tapi selalu saja tak pernah bertemu dengan anak-anak mereka.


Hingga pada akhirnya mereka lelah dan berhenti mendatangi apartemen Narendra.


" Azzam," panggil Hani, saat ini ke-duanya akan bersiap-siap untuk tidur.


" Ya Honey, kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Narendra.


" Apa kamu diam-diam telah memiliki wanita lain di belakang aku? Atau kamu sudah kembali dengan Nahla tanpa sepengetahuan aku?" Tanya Hani, membuat Narendra menatap tak percaya istrinya itu.


Bagaimana bisa dia memiliki wanita lain, dia saja tidak pernah meninggalkan gedung apartemen ini, lalu bagaimana bisa dia memiliki wanita lain dan Nahla, Narendra sudah tidak berhubungan dengan wanita itu. Ada dengan istrinya ini. Narendra masih menatap Hani dengan cemas dan menunggu kata-kata yang akan keluar selanjutnya dari bibir istrinya itu.