
Narendra mengendarai mobilnya sudah seperti orang mabuk, ugal-ugalan dan selip sana selip sini. Pria itu tidak peduli apa yang dia lakukan akan membahayakan nyawa penguna jalan lain, yang ada di otaknya saat ini, dia harus sampai tepat waktu, karena pria itu tidak ingin wanitanya menunggu.
Narendra sudah berusaha tapi ia tetap saja terlambat, walaupun hanya terlambat lima menit, tetap saja dia terlambat dan semoga saja Haaniya mau mengerti hal itu dan tidak berubah pikiran.
"Selamat malam." Sapa Narendra, begitu ia menghampiri resepsionis. Untuk mengkonfirmasikan Kamar yang di pesan Atas Nama istrinya itu.
"Selamat malam pak, selamat datang di Grand secret H, hotel ada yang bisa kami bantu." Sahut kedua resepsionis itu dengan begitu ramahnya. Narendra pun mengatakan tujuan kedatangannya seperti yang di beritahu Hani. " Maaf kalau boleh tahu, dengan bapak siapa?" Tanya Resepsionis yang itu lagi.
" Narendra."
"Bapak, bisa tunggu sebentar disana nanti akan kami beritahu setelah mengkonfirmasikan terlebih dulu." Resepsionis menunjuk sofa yang berada tak jauh dari meja resepsionis itu.
Membuat Narendra bingung, apa mungkin hotel itu begitu mengistimewakan semua tamunya, sehingga untuk bertemu istrinya sendiri, dia masih harus menunggu! Sungguh terlalu.
Narendra pun hanya menurut saja, untuk mempercepat waktu. Lima menit menunggu, seorang pria yang menguntungkan seragam hotel itu, menghampiri Narendra, kemudian memintanya untuk mengikuti langkah pria itu.
Narendra pun dengan cepat mengikutinya, mereka berdua masuk kedalam khusus yang akan mengantarkan mereka ke paling atas Hotel itu. Sebab lantai paling atas Hotel itu sama dengan Anak cabang yang di Bali. Bedanya di Bali satu lantai penuh yang di sulap menjadi kamar khusus untuk Hani, sementara di sini di buat menjadi Empat, Ruang kerja hani yang jarang wanita itu tempati. Kamarnya yang sekarang sedang di pakai oleh Hani dan dua kamar lainnya. Untuk mereka yang sanggup membayar dan menikmati fasilitas kamar itu.
Ting.
Pintu lift terbuka Pelayan itu pun keluar di ikuti oleh Narendra. Walaupun dalam benaknya Narendra bertanya-tanya apa hubungan Hani dengan hotel semewah yang begitu terkenal itu. Bahkan sampai detik ini dia tidak tahu siapa pemilik hotel ini, tapi melihat istrinya bisa semudah itu memesan, kamar yang berada di lantai paling Atas gedung hotel itu membuat Narendra semakin gelisah. Dengan pikirannya sendiri. Ia ingin menduga jika Hani adalah wanita yang sedang di cari-cari oleh banyak perusahaan untuk berkerja sama. Namun ia tepis karena ada keraguan di sana.
Jika Hani adalah pemilik kenapa saat dia menghilang selama itu, hotel ini tetap stabil dan semakin berkembang sampai sekarang.
"Ini kamar Mbak Hani." Ucap pelayan itu, begitu mereka tiba di depan pintu kamar Hani. " Permisi." Setelah itu, sang pelayan itu pelayan yang mengantar pamit, meninggalkan Narendra.
Begitu pelayan itu telah pergi, Narendra langsung memencet bel pintu kamar Hani. Satu belum dibuka, dua kali pun begitu. Hingga ke-tiga kalinya! Barulah pintu itu di buka.
" Kamu terlambat lima belas menit." Ucap Haniya, wanita itu berdiri di hadapan Narendra dengan membuka sedikit pintu itu. " Mau masuk atau tetap di luar." Tanya Haaniya lagi, karena Narendra hanya terdiam di tempatnya, terpukau dengan penampilan Hani.
Wanita itu hanya mengunakan handuk yang melilit tubuhnya, menutup bagian dada sampai sebatas pangkal pahanya saja. Rambut di lilit dengan handuk khusus untuk rambut itu.
Tanpa menunggu di tanya dua kali, Narendra langsung masuk kedalam kamar, mengikuti langkah Hani tak lupa untuk mengunci pintu, karena wanita itu sudah melangkah kembali kedalam.
"Maafkan aku, aku baru melihat pesan kamu." Jawab Narendra sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hani.
Wanita itu pun dengan tidak langsung menerima pelukan Narendra, ia justru menepis tangannya seraya berkata. " Mandilah dulu. "
" Azzam, mau apa kamu! Aku sudah selesai." Hani begitu terkejut saat Narendra mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.
Narendra menurunkan Hani begitu mereka, berada di bawah shower. " Aku akan menunggu di luar." Hani mencoba untuk keluar dari ruangan yang di batasi kaca itu, sengaja agar air dari shower tidak kemana-mana dan membuat lantai kamar mandi menjadi licin, tapi Narendra mencegatnya dengan tubuh pria itu. Sembari melepaskan setiap benang yang melekat di tubuhnya, melemparnya satu-satu keluar begitu saja.
" Aku tidak akan melakukannya disini sayang, hanya mandi dan sedikit pemanasan." Ujarnya dengan tubuh yang sudah tidak tertutup sehelai benang pun.
Pria itu tidak menyadari jika rona wajah Hani telah berubah pias, saat melihat sesuatu yang menggantung dengan bebas di bawah sana. Sesuatu yang masih menunduk lemas tapi jika sudah tegang, ketegangannya bisa mengalahkan tiang sutet.
" Z--Zam." Panggil Hani, wanita itu bahkan beberapa kali harus membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Beberapa menit yang lalu dia masih sangat bersemangat untuk melakukan hal itu. Tapi entah kenapa, setelah melihat bentuknya Hani langsung berubah pikiran, tubuhnya merinding membayangkan benda itu memasuki dirinya. "A-aku_"
" Kenapa, takut?" Tanya Narendra, sembari mengulurkan tangannya untuk memutar krang shower, membiarkan percikan air itu jatuh membasahi tubuh mereka." Jangan takut kepadanya, dia mungkin menyakitkan di awal, tapi setelah itu kamu akan merindukannya." Lanjutnya, sedikit berbisik. Dengan tangan yang begitu lihat melepaskan lilitan handuk di tubuh dan kepala Hani. Hingga posisi kedua sama.
"Tap_ Hmmmhfff." Narendra tidak memberi kesempatan untuk Hani berbicara, pria itu langsung membekap mulut Hani mengunakan bibirnya, melu-matnya dengan begitu rakusnya.
Lidahnya masuk kedalam mulut Hani, mengabsen apa saja yang bisa ia absen di dalam sana.
"Ahhh ahhh."Derub nafas Hani terdengar, saat Narendra melepas tautan bibir mereka, membiarkan Hani menghirup oksigen sepuasnya sedang, bibirnya menari-nari pada rahang Hani, turun ketengkuk wanita itu, meninggalkan jejak dari kecupan basahnya.
Tangan pria itu tidak tinggal diam, menyusuri setiap jengkal punggung Hani, membuat wanita itu tenggelam dalam permainan panas, tapi tidak sampai membuat Hani melepuh.
Narendra menarik dirinya, memberi waktu untuk Hani, sementara dirinya mengambil sabun cair, menetes pada tangan Hani. " Usap pada punggungku." Titahnya, Hani pun mengusap punggung pria itu. Tidak hanya punggung karena Narendra sengaja menarik kedua tangan Hani yang berada di punggungnya, hingga membuat tubuh bagian depan wanita itu. Bertubrukan langsung dengan punggung Narendra. Pria itu bahkan bisa merasakan puncak gunung kembar yang bersentuhan langsung dengan punggungnya yang licin karena telah di oleh sabun.
...\=\=\=\=\=\=...
...Happy reading.💕...
Aku mau kasih sedikit informasi buat kalian. Aku tahu kalian pasti bertanya-tanya dan bingung sama waktu update aku. Dimana Novel Haaniya ini updatenya slow banget. Di bandingkan novel aku bukan pilihan. Padahal kalau di bandingkan dengan novel Novel Haaniya dan Aku bukan pilihan. Haaniya mungkin unggul dalam segala Hal.
Alasan aku Update novel aku bukan pilihan. 2 atau 3 bab sehari. karena novel itu sedang Daily, dimana aku harus menulis 60 k kata sebulan. sementara novel Haaniya yang bulan lalu rencananya akan daily bulan ini gagal karena levelnya di terjun bebaskan.
Yang ikut aku di IG dan berteman dengan aku di FB pasti Tahu, karena awal bulan aku sempat post ini.
Kurang dan lebihnya aku mohon maaf ya.🙏🙏🙏