HAANIYA.

HAANIYA.
Bukan urusanmu!



" Baiklah, kebetulan aku juga udah gerah banget." Putus Hani, membuat Narendra sumringah, tanpa banyak bicara pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya, membawanya ke dalam bathroom, Sebab dia tidak ingin sampai di ganggu lagi, seperti sebelum-sebelumnya. Sebisa mungkin pria itu harus, memanfaatkan kesempatan yang dia punya.


"Mau berendam?" Tanya, Narendra begitu menurunkan Hani di dalam bathroom.


" Nggak deh! Aku lelah, Kita langsung mandi terus istirahat, nggak papa-kan?" Jawab Hani, membuat Gairah Narendra langsung padam seketika, dia ingin sedikit mengicip-icip tapi mendengar kata lelah yang keluar dari bibir Hani.


Narendra langsung merendamkan inginnya. Dia tidak ingin membuat Hani, semakin lelah! Lagian mereka masih punya banyak waktu untuk melakukan lebih dari sekedar icip-icip, walaupun dia sendiri tidak tahu, kapan pastinya hal itu akan terjadi.


" Baiklah, ayo kita mandi terus istirahat, aku juga capek banget, belum tidur dari semalam." Hani tersenyum, kemudian mengangguk kepalanya.


Keduanya pun bergegas untuk mandi, hanya mandi saja tidak lebih dan tidak ada sentuhan aneh-aneh yang membuat Susana menjadi panas, kecuali saling menggosok punggung, setelah itu aman-aman saja.


Selesai mandi, Keduanya keluar dari bathroom itu, Hani mengunakan kaos kebersamaan milik Narendra dengan celana hot pants milik nya, wanita itu tidak sempat untuk mengeringkan rambutnya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas Ranjang dengan Handuk yang melilit kepadanya.


Tak butuh waktu lama, wanita itupun tertidur, Narendra yang melihat hal itu hanya bisa menarik nafas dalam sembari, menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tidak ingin sang istri tertidur dalam keadaan tidak nyaman, Pria itu mengambil pengering rambut, juga sisir kemudian menghampiri Hani yang telah tertidur, kemudian melepaskan handuk yang menempel di kepalanya dengan hati-hati agar tidak membangunkan Hani. Lalu mengeringkan rambut sang istri sembari menyisirnya.


Begitu selesai dengan rambut Hani, pria itu kemudian mengeringkan rambutnya sendiri. Barulah setelah itu dia berbaring di samping Hani, mengikuti jejak sang istri menuju alam mimpi di siang Hari.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Disisi lain, Melly yang baru pulang dari rumah sakit, tidak dapat mengehentikan Air matanya yang terus saja menetes, membasahi kedua pipinya.


"Mom," panggil Lisa, gadis itu juga baru datang entah dari mana dan berpapasan dengan Melly. " Mommy kenapa?" Tanyanya sembari memasang ekspresi khawatirnya, seakan dia benar-benar khawatir kepada wanita itu.


" Bukan urusanmu." Jawab Melly terdengar sedikit ketus, kemudian berlalu meninggalkan Lisa dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


Jelaslah, Lisa bingung karena untuk pertama kalinya wanita yang selalu ia panggil mommy itu, bersikap se-ketus itu kepadanya. Membuat Lisa bertanya-tanya dalam hatinya, apa mungkin Melly sudah mengetahui tentang dirinya yang selalu diam-diam menemui ibunya.


" Ngapain kamu bengong di situ?" Tanya seorang pemuda yang kini sudah berada di belakang Lisa.


" Aiden, kak, kakak! Bukan kamu, aku ini kakak kamu. Jangan kurang ajar ya kamu?" Suasana hatinya yang semula dongkol, semakin dongkol saja karena kehadiran pemuda yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak kedua Melly dan Dion, Aiden.


Melly dan Dion mengajar Kedua anaknya, Hana dan Aiden untuk memanggil Lisa kakak, tapi sepertinya itu terlalu sulit, karena nyatanya! Sampai detik ini Aiden masih sering memanggil nama Lisa. Berbeda dengan Hana, yang masih ada sopan-sopannya saat memanggil Lisa.


Karena jarak pemuda itu yang terlampau dekat dengan Hana, membuat ia lebih dekat kepada Neneknya. Sama seperti Hani yang dekat dengan sang kakek.


" Diiih, ngarep! Jangan mimpi, kakak aku cuma mbak Hani." Sahutnya, Kemudian berlalu sembari menubruk Bahu Lisa dengan bahu nya. Tapi baru beberapa langkah Pria itu kembali berbalik saat mengingat sesuatu. " Anak asuh, aku ingatin ya ke kamu! Jangan coba-coba untuk mengusik kebahagiaan mommy dan mbak aku, kalau kamu sampai berani melakukan hal itu. Aku sendiri yang akan melempar kamu ke jalanan." Ucapannya sembari menunjuk wajah Lisa.


Membuat wanita itu terdiam dan tidak dapat berkata-kata. Sementara Aiden sudah berlalu meninggalkannya begitu saja, setelah mengancamnya.


"Sia-lan, kamu pikir kamu siapa? Aku aja bisa membuat kakak kamu nggak betah di rumah ini, apalagi bocah ingusan seperti kamu." Umpatnya dalam hati, sembari mengepalkan kedua tangannya. Penuh rencana. " Benar kata mama! Aku harus cepat-cepat minta maaf Arga buat nikahi Aku." Gumamnya lagi, kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya.


Sementara itu, di kamarnya! Melly terus saja menangis menyesali, apa yang telah ia lakukan pada Hani, wanita itu kini terduduk di tepi ranjang sembari membuka album lama berisi foto-fotonya dengan Hani dari putrinya itu Masih kecil, hingga usia empat belas tahun. Karena Di usia lima belas tahun Hani seakan menjaga jarak dari. Dia menyadari hal itu, tapi entah mengapa dia justru membiarkan semuanya terus berlarut-larut hingga jarak itu terlampau sangat jauh untuk di satukan kembali.