
Keesokan paginya, Seperti biasa Narendra bangun terlebih dulu, pria itu segera membersihkan tubuhnya dan berpakaian lalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Sedangkan Hani sendiri, wanita hamil itu masih tertidur dengan pulas-nya, Setelah pertarungan panas mereka semalam.
Tepat pukul sembilan ponsel Hani, terus berdering membuat tidurnya terusik dan ia pun terbangun dari mimpi indahnya.
Hani beranjak untuk duduk, kemudian bersandar pada kepala ranjangnya. Ia kemudian mengambil benda pipih, yang sejak tadi terus saja berisik itu.
" Hmmm, siapa?" Tanya Hani dengan malas-malasan Setelah menggeser icon berwarna hijau tanpa melihat siapa penelpon itu.
" Selamat pagi honey! Gimana kabar kamu?" Ucap sang penelpon dari seberang sana.
Hani terlihat mendengus, entah mengapa dia tidak suka mendengar orang lain memanggilnya seperti itu, selain Narendra, padahal selama ini dia biasa-biasa saja dengan panggilan itu.
" Kak Dino!" Ucapnya karena dia hafal betul suara pria itu. " Mulai sekarang jangan panggil Hani gitu ya! Hani nggak suka, panggil nama aja." Lanjutnya. Dengan terang-terangan mengutarakan ketidaksukaan-nya itu.
" Loh, kenapa bukannya selama ini, kamu senang-senang aja kakak panggil seperti itu." Sahut Dino dari seberang sana, pria itu mungkin terkejut dengan perubahan Hani.
Karena selama ini Hani tidak pernah mempermasalahkan panggilan sayangnya itu dan itu bukan baru sekarang, Dino sudah terbiasa memanggil Hani seperti itu sejak pertama kali menjadi pengawal pribadi hingga sekarang.
"Iya dulu, sekarang aku nggak suka, kak Dino panggil nama aja! Jangan Honey, Honey lagi." Tegasnya.
" Baiklah, kakak akan belajar memanggil kamu dengan nama." Ucap Dino pada akhirnya.
Walaupun begitu, mood Hani sudah terlanjur buruk mendengar panggilan Dino tadi. " Ya udah katakan, kak Dino telpon Hani buat apa?" Tanyanya.
Dino yang sudah lebih dulu berhadapan dengan mood istrinya saat hamil, tidak tersinggung sedikitpun dengan kata-kata Hani, pria itu justru mengerti apa yang di lakukan Hani mungkin bawaan bayinya.
" Gini, hone_"
" Kak Dino." Teriaknya, tidak suka.
" Maaf, maksud kakak Hani."
" Begini, kakak baru tiba di Bali, untuk pengecekan lahan, buat pembangunan hotel yang kedua di sini. Dan kakak baru ingat jika ini sudah waktunya kita melakukan kunjungan ke anak cabang hotel yang ada di kota lain." Jelasnya.
" Kakak minta Hani yang kesana! Kak Dino kan tahu sendiri, aku lagi hamil nggak bisa kemana-mana, kenapa sih jadi ngatur-ngatur aku."
" Bukan seperti itu, maksud aku, ya tuhan! Kenapa jadi seperti ini."
" Apa maksudnya kak Dino ngomong gitu." Entah mengapa Wanita itu terdengar menyebalkan di telinga Dino.
" Nggak Haaniya, maksud aku! Kamu bisa minta tolong siapa yang kamu percaya untuk melakukan itu, tidak perlu kamu yang kesana, karena kak Dino nggak bisa."
" Ya udah, kalau gitu nanti Hani pikirkan, sekarang kakak ke hotel, cek sih Lita, sebab dia udah jarang hubungi aku." Perintahnya.
Tak ingin membuat suasana hati Hani semakin buruk ia pun segera mengiyakan ucapan wanita itu, kemudian mengakhiri panggilan mereka.
Setelah berbicara dengan Dino, Hani kembali meletakkan ponsel itu ke tempat semula. Kemudian ia beranjak turun dari tempat tidur itu lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Hani keluar untuk mencari keberadaan Narendra.
" Pagi honey." Sapa Narendra, yang sedang menata sarapannya di nampan dan akan mengantarnya ke kamar, tapi wanita itu sudah ada di hadapannya.
" Pagi Azzam! Aku sarapan disini aja." Ucapnya.
" Baiklah, ayo kita sarapan." Dan keduanya pun sarapan bersama.
Selesai sarapan, Hani langsung membicarakan, masalah kunjung ke hotelnya yang ada di luar kota.
Awalnya Narendra ingin mengusul Kevin untuk pergi ke sana karena dia bisa di percaya, namun wanita itu mau Narendra yang pergi.
Tentu saja Narendra langsung menolak ide, itu karena tidak mungkin dia akan meninggalkan Hani seorang diri disini, sementara wanita itu tidak mau di temani sama siapapun.
"Aku akan menelpon Hana dan memintanya untuk menemani aku." Bujuk Hani.