HAANIYA.

HAANIYA.
Nasib pekerja.



" Jangan keliru dalam menilai kepribadian dan sikapku, ya ganteng. Karena kepribadianku adalah jati diriku. Sedangkan sikapku tergantung bagaimana kamu." Ucap Hani, wanita itu kemudian mengambil tumbuh map yang di berikan Kevin dan mulai mengerjakannya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal ia baru saja membuat memar di rahang Kevin.


Sementara pria itu! Hampir saja mengumpat wanita yang menjadi istri bosnya itu, Andai dia tak ingat dimana dia berada saat itu dan semua tatapan sedang tertuju padanya dengan ekspresi yang berbeda-beda, ada yang mengasihani dirinya, adapun yang tak percaya dan hampir tertawa, namun mereka tidak berani melakukannya karena posisi Kevin lebih tinggi dari mereka.


Tak ingin menanggung malu lebih lama lagi, pria itu langsung beranjak pergi dari sana. Ia kembali masuk kedalam ruangannya dan menuntut pintu ruang itu dengan begitu kerasnya, hingga Nahla dan yang lainnya terkejut. Tentu saja hal itu tidak akan berlaku kepada Hani. Karena wanita itu sudah terbiasa dengan suara yang lebih berisik dari itupun, telah Hani dengar.


Keluarganya bahkan tidak tahu jika Haaniya pernah bergabung dengan badan intelijen, milik negara Q dimana keenan berasal. Entah kebetulan atau sudah di rencanakan, keduanya bertemu di sebuah gang sempit di las Vegas, saat Hani baru keluar dari sebuah kasino di kota itu, usai mengintai orang-orang yang telah berani menjual Bubuk haram, di club miliknya di Jakarta.


Hani yang baru saja lulus kuliah S1. Langsung terbang ke las Vegas begitu mendapatkan kabar itu dari Dino, bersyukurnya Dino dan Naela bertindak cepat.


Dan di kota itulah ia pertama kali berjumpa dengan Keenan, pria itu mengaku sedang menyelidiki anggota mafia yang sama yang di ikuti Hani. Setelah keduanya berhasil mengalahkan para anggota mafia, yang mengikuti Hani dari kasino itu. Mereka yang mengikutinya berjumlah hampir sepuluh orang. Beruntung Keenan ada disana dan membantunya.


Setelah hari itu, mereka terus bertemu, Hani sampai berpikir jika Keenan mengikutinya. Tapi pria itu berhasil meyakinkan Hani jika mereka hanya kebetulan bertemu dan tak lama setelahnya ia mengajak Hani untuk bergabung dengan badan intelijen milik mereka, sebagai orang yang mencari informasi, jika Hani mau ia harus mengubah identitasnya dan sedikit membuat penyamaran, Sehingga tidak ada yang mengenali dirinya. Karena mereka yang tergabung dalam badan intelijen di anggap sudah tak ada di dunia. Hidup atau mati mereka tidak akan bisa kembali dan menjalani kehidupan seperti Hani Sekarang. Namun wanita itu bisa kembali, karena sejak awal dia masuk dia sudah dalam penyamaran serta identitasnya yang baru. Bahkan untuk mengembalikan kehidupan Hani seperti semula, Keenan rela menukar semua itu dengan nyawanya. Dan mereka yang tergabung dalam badan intelijen, memiliki IQ yang tinggi dan tidak semua orang bisa bergabung disana.


" Eeh kamu, di panggil bos tuh." Ucap salah satu staf sekertaris yang baru keluar dari ruangan Narendra, begitu ia berdiri tepat di depan meja kerja Hani.


" Iya, aku akan segera kesana! Terima kasih." Sahut Hani, sementara Nahla! Yang berada di sebelahnya, melirik tak suka kepada Hani, apalagi saat Hani beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk keruang kerja Narenda. Nahla semakin bertambah kesal dan membenci Haaniya.


"Menyebalkan, aku nggak bisa biarin semuanya seperti ini. Bisa-bisa aku akan kehilangan bang Rendra. Nggak, bang Rendra harus menjadi milik aku lagi, persetan dengan kesepakatan yang di tawarkan Tante Luna. Aku Nggak peduli lagi." Gumam wanita itu dalam hatinya dengan tekad yang begitu kuat serta tangan yang terkepal.


Sementara itu di ruang kerja Narendra. Hani, berjalan menghampiri Suaminya itu, begitu ia di izinkan masuk, setelah mengetuk pintu dan meminta izin tentunya.


"Buatin aku kopi." Belum juga Hani bertanya, Narenda sudah lebih dulu memerintah-nya! Tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pekerjaan di depan wajahnya. Walaupun posisi Narendra adalah CEO, di perusahaan itu dia tetap termasuk kategori karyawan dan harus bekerja juga. Berbeda dengan tuan Sanjaya dan papanya yang merupakan pemilik, dimana mereka hanya berleha-leha di rumah tapi uang tetap mengalir seperti air pada akun bank milik mereka.


Hani pun melangkah keluar ruangan Narendra, menuju pantry. Sesampainya di pantry, ia mulai menyeduh kopi kepada Narendra, setelah itu membawanya ke ruang kerja bosnya itu. " Ini kopinya pak." Ucap Hani sembari meletakkan kopi itu di atas meja kerja Narenda.


" Semua berjalan lancar." Jawab Hani seadanya! Karena dia memang sudah terbiasa dengan melakukan pekerjaannya. Apalagi hanya pekerjaan seperti ini. bukan karena dia ingin merendahkan pekerjaannya Sekarang, hanya saja semua memang seperti itu adanya.


Setelah berbasa-basi sejenak dengan Narenda layak atasan dan bawahan, wanita itupun pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaan. Narendra pun mengangguk dan Hani kembali ke meja kerjanya. meneruskan pekerjaannya yang sempet tertunda.


Setengah jam sebelum jam istirahat tiba, pekerjaan yang di berikan Kevin telah selesai, wanita itupun membawanya keruang kerja Narenda, untuk mengecek hasil kerjaannya. Syukurlah karena Narendra menyukai pekerjaan nya. Dan begitu tiba waktu istirahat, Hani segera beranjak dari tempatnya. karena seperti kemarin, hari ini pun dia mempunyai janji makan siang dengan sahabatnya seperti kemarin. Ia juga harus ke hotel bersama Lita nanti.


" Bagaimana pekerjaan kamu di perusahaan?" Tanya Lita di sela-sela waktu makan siang mereka.


" Ya begitulah Lita! Oh iya, aku lupa kasih tahu kak Dino." Ucap Hani saat teringat akan sesuatu.


" Apa?"


" Setiap tahun, hotel selalu menerima karyawan magang kan dan kali ini pun sama." Jawab Hani, Lita pun mengangguk kepalanya membenarkan hal itu.


" Terus apa hubungannya dengan lupa kasih tahu kak Dino." Tanya Lita lagi.


" Gini, Nayna kan mendapatkan tempat magang di hotel dan dia meminta untuk bisa magang di cabang yang ada di bali! kamu bisa atur ini dengan kak Dino kan." Jawab Hani lagi, sembari balik bertanya.


Tentu saja hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit untuk Lita dan Dino. hanya saja, mereka takut bakal ketahuan pemilik hotel itu yang sebenarnya, apalagi cabang hotel yang ada di bali, Hampir seluruh karyawan di sana tahu siapa pemilik hotel itu. karena Hani sendiri yang turun untuk menyeleksi karyawan-karyawati yang ingin bekerja di sana.


"Kamu yakin ingin melakukan hal itu. lalu bagaimana kunjungan kamu ke sana, kamu bisa berjumpa dengan adik ipar mu itu! nanti."


" Aku sudah memikirkannya, selama dia magang di hotel kita kamu yang akan Menggantikan aku untuk melakukan kunjungan ke sana! tolong ya Lita sayang, aku sangat mempercayai kamu untuk ini." Bujuk Hani, namun Lita memutar bola matanya malas. begitu lah Hani, kalau ambil keputusan ujung-ujungnya dia dan Dino akan di buat pusing. mungkin ini yang di sebut nasib pekerja.