
Hani yang saat ini terjebak dengan keadaannya merasa sangat frustasi. Ia ingin melampiaskan kemarahannya tapi tidak tahu dengan cara apa.
Dia ingin terus menangis, meraung dan membiarkan pancuran air shower membasahi tubuhnya, tapi Hani bukanlah orang yang suka menyakiti diri sendiri, untuk itu ia segera menyudahi kegiatannya. ketika merasa tubuhnya mulai menggigil kedinginan walaupun air itu terasa hangat saat menyentuh tubuhnya tapi perlahan akan membuatnya kedinginan juga.
"Kenapa Han, ada masalah kah?" Tanya Lita saat Hani keluar dari kamar mandi dengan wajah sembabnya. " Sini duduk aku keringkan rambut kamu, biar kamu nggak sakit." Lanjutnya sembari menarik Hani untuk duduk di bangku tepat di depan meja rias, kemudian melepas handuk yang melilit rambutnya dan mulai mengusap-usap rambut panjang Hani dengan handuk kecil yang sejak tadi Hani lilitkan di kepalanya.
" Kamu belum jawab pertanyaan Aku Han! ada apa?" Desak Lita lagi, saat Hani tetap diam dan tak menjawab pertanyaannya.
Bukannya langsung menjawab Hani justru memeluk tubuhnya sendiri yang kita masih di baluti bathdrobe sembari menatap kepada Ela yang tengah duduk di sofa sembari mengotak-atik ponselnya. " Kak Ela sudah tahu akan hal ini?" Ucapnya. membuat Naela berhenti memainkan ponselnya dan meletakkan ponsel itu di atas meja, kemudian memberanikan diri untuk membalas tatapan Hani.
" Jika kamu tanya aku tahu atau tidak! tentu saja Jawabnya tidak. Hanya saja kedatangan kakek ke rumah ini, sore tadi membuat aku dapat menebak apa yang membuat kamu bersikap seperti ini." Sahut Naela, wanita itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Hani dan Lita. Setelah itu, ia ikut membantu Lita Mengeringkan rambut Hani mengunakan head dryer. " Aku justru bingung dengan sikap orang tua Kita! karena hubungan bang Rendra dan Nahla itu udah. terang-terangan banget loh Han, tapi mereka tetap berencana untuk meneruskan perjodohan ini. memangnya ini jaman apaan, pakai di jodohkan segala memang kita tidak bisa mencari jodoh sendiri." Lanjutnya tidak sadar memberi tahu hubungan Nahla dan Narendra, juga pendapatnya yang tidak suka dengan perjodohan apapun alasannya.
" Nahla anak Tante Dina kak?" Ela langsung mengangguk kepalanya. " Memangnya apa bedanya Nahla sama aku. bukan kah Tante Dina juga dekat banget sama kalian lalu kena_"
" Dengar ya Haaniya sayang. kamu dan Nahla itu jauh berbeda, mungkin kalian sama-sama cantik karena setiap wanita itu pasti cantik, tapi dari segi penampilan, attitude, wawasan dan kesuksesan. Kamu jauh lebih unggul dari dia. Hanya Saja dia itu sempurna di mata bang Rendra, sementara kamu tidak." Jawab Naela dengan asal sengaja memotong ucapan Hani, karena gadis itu tidak menyukai sikap Nahla, yang menurutnya terlalu berlebihan dan mininya sopan santun padahal mamanya tidak seperti itu.
" Kalau sudah seperti ini aku harus bagaimana, untuk menghentikan pernikahan ini. kalian berdua kan tahu sendiri aku belum siap untuk menikah apalagi sama kakak kamu yang jelas-jelas masih punya kekasih.". Ucap Hani.
" Kenapa kamu tidak langsung menolak saja." Usul Lita.
" Sudah tapi yang terjadi mommy justru semakin marah dan mengancam tidak akan menganggap aku anaknya lagi. jujur kepala aku pusing banget mikirin hal ini." Lanjutnya sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Ya sudah Kamu Abaikan saja, Rencana pernikahan kamu, Sehingga mommy kamu sadar jika kamu benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini." Usul Lita, Naela yang saat itu tidak punya ide untuk membantu Hani pun hanya bisa menyetujui saran dari Lita.
Dan sejak Hari itu. Hani tidak pernah ingin tahu tentang rencana orang tuanya, Hani bahkan tidak tahu sudah sampai mana rencana mereka dan seperti apa pernikahan yang orang tuanya siapkan untuknya! acara lamaran pun Hani sengaja tidak menghadirinya. tapi pada akhirnya ia harus menanggung kemarahan Melly membuat Hani hanya bisa pasrah, mungkin ini sudah jalan takdirnya bersama Narendra.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Hotel dimana saat ini Hani menginap tiba-tiba di ketuk dari luar, wanita itu menatap sekilas kearah pintu seraya bertanya." Siapa?"
" Aku Hana kak! kakak di minta untuk turun sekarang karena Acara pernikahannya akan segera di mulai."
Mendengar jawaban Hana membuat Hani semakin kalut, rasanya ia ingin mengulang hal yang sama dengan kabur melalui jendela lagi. Tapi Hani belum siap menanggung kemarahan Melly lebih dari ini.
Tetapi gadis itu membutuhkan keberanian dan kekuatan ekstra untuk melangkah keluar dari kamar itu. Seketika itu Hani teringat akan voice note terakhir yang di tinggalkan oleh Keenan! Voice note itu selalu ia gunakan saat merasa ragu dalam misinya dulu, sebelum pria itu pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
" Honey, aku mulai merindukan masak buatmu, tapi maaf aku belum bisa menemui kamu saat ini, karena disini aku sedikit sibuk! Apa kamu di sana baik-baik saja. Jika tidak coba pejamkan matamu," Hani pun memejamkan matanya seakan keenan-lah yang sedang berbicara kepadanya. " kamu sudah memejamkan matamu! Sekarang tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan dengan perlahan, apa kamu sudah merasa lebih baik? Jika ya aku akan pergi sekarang. Aku mencintaimu honey, Semoga harimu menyenangkan sampai berjumpa lagi." Kata-kata itu selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik dulu tapi sekarang kata-kata itu justru membuat dadanya sesek.
" Kak, Hana masuk ya." Suara Hana di luar sana menyadarkan dirinya.
" Iya masuk aja Dek. kakak sudah siap." Ucapnya kemudian buru-buru menyimpan ponselnya. bersamaan dengan pintu yang di buka dari luar. Disana tidak hanya ada Hana, karena Lita dan Ela pun juga ada disana menunggunya." Ayo kak! kakak cantik sekali." Puji Hana, sembari berjalan menghampiri Hani kemudian merangkul tangan kakaknya itu.
Lita dan Ela pun ikut mendekati mereka. Lita kemudian berbisik di telinga Hani. " Jangan Menganggap semua ini nyata yang nantinya akan membebankan kamu. Anggap saja kamu sedang melakukan misi, seperti yang kamu lakukan kepada Regan Arvenio Elbarack, Dia yang terkenal dengan kekejamannya bisa takluk, kenapa orang seperti Narendra harus membuatmu cemas. Aku yakin kali inipun kamu pasti bisa."Lita memang tahu caranya mengembalikan Suasana hati Hani yang belakangan ini memburuk berubah seketika.
" Apa yang kamu bisikkan kepadanya?" Tanya Ela, Namun Lita hanya menaikkan kedua bahunya.
" Sana turun, kalian sudah di tunggu itu." Mereka pun turun kebawah, dengan Hani yang diapit oleh Hana dan Ela. sementara Lita hanya mengikuti dari belakang.