
Setibanya di rumah Narenda berpapasan dengan Ela yang hendak berangkat kerja. " Ship malam?" tanya Narendra kepada saudari perempuannya itu. Karena di antara mereka bertiga, hanya Ela-lah yang mengikuti jejak Luna, menjadi seorang perawat.
Padahal Reval sudah menawarkannya untuk kuliah kedokteran biar bisa sehebat Melly, namun gadis itu menolaknya. Karena kapasitas otaknya tidak sehebat Narendra maupun Hani. lihat saja, dia dan Narendra seumuran cuma beda beberapa menit doang! yang terjadi dia justru sekelas dengan Hani.
Bukan karena dia tertinggal kelas atau sekolah terlambat. Salahkan saja kedua manusia itu kenapa suka melewati batas dan aturan. mereka seharusnya duduk di kelas 1 malah duduk di kelas tiga." Udah tahu masih nanya-nanya! kenapa bang, Abang mau ngajarin Ela." Sahut Naela.
" Ya, nggak-lah! Abang kan cuma tanya doang."Sahut Narendra.
"Ciih! Abang sih gitu, entar giliran si dedemit dan kawan-kawannya aja cepat banget! kita ini saudara loh bang, sejak dalam perut udah sama-sama! nggak bisa kah Abang sedikit perhatian ke aku. Adiknya mau ship malam, bukannya dianterin malah di cuekin aja! Emang dasarnya Abang aneh." Naela terus mengomel panjang kali lebar, membuat Narendra pusing sendiri.
" Udah cukup, diam! mau diantar kan?" Ela pun dengan cepat mengangguk kepalanya." Tunggu dan jangan berisik lagi." Ucap Narendra, sembari mengeluarkan benda persegi panjang itu dari dalam sakunya, kemudian menghubungi seseorang.
" Halo, Masih di cafe?" Tanya Narendra kepada orang di ujung telepon sana, begitu panggilannya di jawab.
"......"
" Tolong nganterin Naela ke rumah sakit dong, kebetulan hari ini dia ship malam dan pengen diantar." Jelas Narendra, Sementara Naela menautkan alisnya, tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Ela pikir, sang kakak memintanya menunggu! karena benar-benar ingin mengantarnya! tapi nyatanya, pria itu justru menghubungi salah satu temannya meminta bantuan mereka, untuk mengantarkan Naela ke rumah sakit.
" Bang Rendra, kamu itu nyebelin dan nggak tahu bertanggung jawab. Siapa lagi itu, yang Abang minta pertolongan untuk mengantar Ela." Tanya Naela dengan nada suara yang ia naikkan satu oktaf. Bukannya bermaksud kurang ajar! Hanya saja, abangnya itu sudah sangat-sangat keterlaluan. Setelah Narendra mengakhiri panggilannya dengan temannya itu.
" Siapa lagi yang bisa ngatur kamu! Sih Nino kamu judes-judesin sampai itu anak takut loh sama kamu, Kak Arga, lebih nggak mungkin lagi. Karena kamu itu tukang ngatur dia. Arga bisa saja menolak tapi tahu sendiri kan. Kak Arga gimana sayang dia ke kamu dan Nayna! dia terlalu lembek ke kalian."
" Terus siapa, Hmmm?" Tanya Naela sembari melipat tangannya di dada, Karena tanpa di jawab pun Naela sudah bisa menebak siapa, orang itu.
" Yang pastinya bukan Kevin-lah, adikku sayang." Naela langsung tersenyum, mengejek dirinya sendiri! karena dugaannya benar.
" Ogah! mending aku naik taksi! dari pada harus diantar sama teh celup bekas." Sahut Naela, wanita itu hendak berlalu, meninggalkan Narendra namun langkahnya tertahan saat melihat Hani, menuruni anak tangga dengan penampilannya yang sudah rapi.
" Kenapa kamu ngatain KAI gitu." Tanya Narendra, tidak percaya dengan julukan teh celup bekas.
" Kenapa, nggak suka? mau kakak nggak suka pun aku nggak peduli, karena kenyataannya memang dia seperti itu. Punya burung kok, dikit-dikit dicelupin nggak takut meriang tuh burung?"
" Enak saja! aku bukan anak kecil ya bang umur kita itu sama, cuma beda menit doang."
" Iya kamu benar! tapi otak kamu ini yang seperti anak kecil." Sahut Narendra tak mau kalah, sembari menunjuk kening adiknya.
" Tau ah! terserah Abang aja. Han mau keluar kan, yuk sekalian bareng aku." Ucap Naela, membuat Narendra mengerutkan keningnya, pria itu kemudian berbalik dan mendapati Haaniya sudah berada di belakangnya.
" Mau kemana?"Tanya Narendra, sembari menelisik penampilan Hani dari atas sampai ke bawah begitu pun sebaliknya." Tahu aturan nggak! nih suami kamu baru pulang loh, bukannya di sambut, di tawarin minun atau apa gitu, malah mau kelayapan, udah gitu dengan penampilan kaya gini! mau pamer badan ke siapa? kenapa nggak sekalian aja nggak usah pakai baju." Lanjutnya.
" Bang Rendra." Bentak Ela tak terima sahabatnya di Katai seperti itu oleh kakaknya sendiri, Padahal sudah jelas di mata Ela tidak ada yang salah dengan penampilan Hani, karena ia pun sering berpenampilan seperti itu.
" Apa yang salah dengan penampilanku! bukankah sebelum-sebelumnya kamu sudah pernah melihat aku mengunakan mini dress, seperti! kenapa baru sekarang kamu permasalahkan?"Tanya Hani tak habis pikir dengan penilaian Suaminya itu.
" Tahu nih! sih dedemit itu aja, penampilannya lebih hancur dari pada Hani." Sahut Naela.
" Ela, Diam jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga Abang, kalau kamu mau berangkat kerja silahkan pergi, kalau kamu ingin menunggu Kairan silahkan, tapi jangan ikut campur dengan urusan kita." Tegas Narendra kepada Naela, membuat Hani itu semakin kesal tanpa tahu harus berbuat apa untuk sahabatnya. Naela pun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. setelah Naela pergi, Narendra langsung menghampiri Hani. " Kamu bertanyakan dimana salahmu berpenampilan seperti itu. Salahnya karena kita sudah menikah, kemarin-kemarin aku nggak peduli karena kamu bukan Istriku dan sekarang beda, kamu itu istriku, sudah sepatutnya kamu turuti kata-kataku."
" Tapi aku harus pergi sekarang, karena aku punya janji dengan Lita."
" Aku nggak peduli akan hal itu Haaniya dan aku nggak izin kamu keluar. Kamu harus ingat, menjadi istri yang baik itu di mulai dengan menuruti ucapan suaminya bukan membangkang seperti ini. Kalau kamu nggak tahan dengan sikap aku. Kamu tinggal melangkah lurus aja, terus belok kanan, di situ ada pintu kamar mertua kamu! ketuk lalu katakan kepada mereka jika kamu kalah, sesimpel itu." Ujar Narendra sembari menunjuk arah kamar Luna dan Reval.
" Kamu_" Hani sudah sangat kesal di buat Narendra namun wanita itu memilih menahannya, sembari melangkah kembali ke kamar mereka dengan tangan yang terkepal.
Sementara Narendra hanya mengikuti di belakang sana. Bibir pria itu tersenyum penuh kemenangan, Karena sejak dulu ekspresi marah, kesal dan ejekan Hani. Adalah saat-saat yang begitu ia rindukan! hanya Saja ia hanya melihat hal itu sekali dan untuk enam bulan ke depan ia ingin terus melihatnya.
" Siapkan Aku air di bathtub, aku mau mandi."Pinta Narendra begitu keduanya masuk kedalam kamar mereka.
Hani yang masih kesal karena di larang keluar sama Narendra, hanya menurut saja. Begitu selesai, ia langsung keluar berganti dengan Narendra yang masuk kedalam kamar mandi.
" Mau kemana! sini gosok punggung aku." Makin kesal Si Hani, bahkan penderitaan tidak sampai di situ. karena begitu pria itu selesai mandi, Dia kembali meminta Hani untuk memijat punggungnya, setelah itu memasak makan malam, Hani pun tetap melakukannya walaupun sudah tahu, makan itu akan berakhir di tempat sampah.