
"Lun, apa aku terlalu jahat kepadanya! Hatiku sakit melihat dia berpaling begitu saja dari aku. Aku masih mommy-nya, selamanya akan seperti itu." Ucap Melly, saat melihat gadis kecilnya, terus berpaling dan menjauh saat dia mendekat, seperti sekarang ini.
" Kamu benar! Tapi kalau boleh jujur aku tidak tahu, apa yang menyebabkan kamu begitu keras kepalanya." Tanya Luna, karena wanita itu juga mendengar dari Dian bagaimana Melly mendisiplinkan Hani, rasanya itu terlalu keterlaluan.
" Kamu tahukan, dia ada disaat aku dan Dion tidak memiliki hubungan apapun! Diantara mereka bertiga, aku yang paling takut dia bernasib sama seperti aku! Aku terlalu takut anakku akan salah langkah, apalagi dia harus benar-benar di jaga sampai kami menyerahkan dia kepada kalian! Tapi aku nggak tahu hal itu justru membuat jurang sebesar ini di antara kita berdua." Ucap Melly, wanita itu mulai menitihkan air matanya, karena hatinya sangat sakit harus di Abaikan putrinya sendiri. " Dulu aku terus berdoa dan berbuat baik, sehingga anak-anakku di jauhi dari segala keburukan Daddy mereka di masa lalu, orang lain mungkin tidak percaya dengan namanya karma, tapi aku tahu itu pasti terjadi, mengingat seperti Dion dulu, aku bukan ingin mendoakan atau meragukan didikan kita, tapi sungguh ketakutan ini sangat menyiksa, kamu punya anak perempuan kamu pasti tahu apa ya aku rasakan. " Lanjutnya meminta pengertian dari Luna, mengingat keduanya sama-sama memiliki anak perempuan.
"Aku tahu, aku pun merasakan hal yang sama, tapi cara kamu itu salah! Kalau sudah seperti ini aku saranin kamu perbaiki hubungan kalian, jangan terus diam kan dia dan membuat dia sampai berpikir kalau kamu sudah tidak menyayanginya dan tak ada salahnya jika kamu yang meminta maaf terlebih dulu! Karena yang aku lihat, dia yang saat ini berada di antara kita terasa seperti orang asing." Ucap Luna menasehati sahabatnya sekaligus besannya itu. " Kalian semua harus memperbaiki ke salah paham ini. Baik kamu maupun Narendra! Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah enam bulan ini." Lanjutnya lagi. Sembari menggenggam erat tangan Kedua tangan Melly. Seakan dari genggaman itu ia bisa menyalurkan kekuatan untuk Melly.
"Iya Luna, aku pun menginginkan seperti itu." Sahut Melly, Luna pun tersenyum sembari mengangguk kepalanya. Karena wanita itu tahu, di balik tubuh kembang putri-putri mereka, ada kekhawatiran seorang ibu untuk anak gadisnya. Walaupun hal itu terdengar konyol di kehidupan yang modern ini, tapi seorang ibu tidak membutuhkan perkembangan untuk sekelebat rasa kekhawatiran atas masa depan serta pergaulan anak-anak mereka. Karena pada dasarnya semakin besar mereka, mereka tidak akan bisa diawasi lagi dari dekat, sebab anak-anak itu mulai mencari kehidupan mereka sendiri, membuat kekhawatiran itu terus mengusik ketenangan hati mereka sebagai ibu. Hingga mereka tidak sadar, apa yang mereka takutkan justru membubung mereka semakin renggang dan hal itulah yang terjadi kepada Melly saat ini.
Obrolan kedua wanita itu terus berlanjut, hingga Melly memutuskan pulang, karena Hani tak kunjung keluar setelah wanita itu masuk kedalam kamarnya bersama Narendra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, seperti yang di ucapkan Narendra kemari! Pagi itu Hani terpaksa ikut bersamanya ke kantor, karena pria itu terus saja mendesaknya untuk ikut.
Hani pun sudah menolak dari cara halus sampai berakhir dengan perdebatan mereka, namun dasarnya Narendra yang tidak mau mengalah, sehingga Hani pun tidak punya pilihan dan disinilah dia, di perusahaan Sanjaya. Duduk bersebelahan dengan kekasih suaminya itu itu. " Ingat, walaupun status kamu adalah istriku, tapi tidak ada yang di istimewa-kan kamu tetaplah pekerja disini." Pesan Narendra sebelum punggung pria itu menghilang di balik pintu kerja ruangannya.
" Ciih, bela-belain kuliah sampai luar negeri. Menghilang tanpa kabar, ujung-ujungnya manfaatin kekuasaan suami juga untuk mencari pekerjaan! Hhmmm katanya lulusan terbaik, apa hebatnya kalau cari kerja sendiri aja nggak bisa." Sindir Nahla, sembari menatap tak suka kepada Haaniya dengan sengaja meninggikan suaranya agar staf sekertaris lainnya, yang masih berada di ruangan yang sama mendengar kata-katanya.
" Kamu_" Sentak Nahla sambil ingin mencakar wajah Haaniya.
" Apa? Memang benarkan! Kamu nggak punya suami." Sahut Hani lagi sembari menegaskan kata-katanya, untuk membuat Nahla semakin kesal dan mungkin wanita itu bisa dia manfaatkan dengan membuatnya kesal selama dia bekerja disini! Hitung-hitung hiburan-lah.
"Harusnya kamu sadar ini semua karena kamu! Dasar pelakor, kalau kamu tidak pulang mungkin bang Rendra udah nikahi aku bukan kamu." Ucap Nalha, sembari menunjuk-nunjuk wajah Hani.
"Tapi kenyataannya aku kan yang dia nikahi dan tadi apa yang kamu bilang, aku pelakor." Tanya Hani sembari menunjuk dirinya sendiri. " Sadar nona, sadar kata pelakor itu lebih cocok untuk mereka yang sudah menikah." Lanjutnya, seraya menjentik-jentikan jarinya di depan wajah Nahla. Sementara staf lain yang ada di ruangan itu hanya bisa menjadi penonton saja, karena mereka tidak ada yang berani menegur kedua wanita itu, mengingat status keduanya sama sama-sama penting. Yang satunya kekasih dan satu lagi istri. Itulah yang mereka tahu.
Ceklek.
Pintu ruangan disebelah ruang kerja Narendra. Keluarlah Kevin dari ruangan itu sembari membawa tumpukan map di tangannya, kemudian membaginya di menjadi dua bagian. Tumpukan map lebih sedikit ia letakkan di atas meja kerja Nahla, sementara yang lebih banyak ia letakkan di atas meja Hani.
" Kerja, kalian datang kesini untuk kerja! Bukan berdebat seperti penjualan dan pembeli di pasar." Tegasnya, sembari menatap tajam kedua wanita itu secara bergantian." Kamu juga, katanya itu bos! Kok attitude nya nggak di jaga, bikin malu saja." Entah kenapa kata-kata itu membuat Hani sedikit kehilangan kontrol.
Wanita itu pun beranjak dari tempat duduknya, dengan tangan terkepal dan tanpa ba-bi-bu, ia langsung mendaratkan kepalan tangan itu tepat di rahang Kevin. Hingga pria itu sedikit tersungkur kebelakang karena terkejut dengan serangan mendadak istri atasannya.
" Jangan keliru dalam menilai kepribadian dan sikapku, ya ganteng. Karena kepribadianku adalah jati diriku. Sedangkan sikapku tergantung bagaimana kamu." Ucap Hani, wanita itu kemudian mengambil tumbuh map yang di berikan Kevin dan mulai mengerjakannya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal ia baru saja membuat memar di rahang Kevin.