
" Azzam turunkan aku! Apa-apaan sih kamu ini." Hani terus meronta dalam gendongan Narendra, tapi pria itu tetap tenang.
Dia membawa Hani menuju satu unit apartemennya yang berada di gedung itu, walaupun Hani terus meronta dan mengomel minta di turunkan, namun Nerendra tidak begitu saja menurutinya. Pria itu bahkan tidak terlihat terganggu sedikit pun dengan sikap Hani.
Dan setibanya di depan pintu apartemennya, Narendra langsung membuka pintu itu, lalu membawa Hani masuk.
"Tempat siapa ini?" Tanya Hani, begitu Narendra menurunkannya.
" Berikan ponsel kamu." Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Narendra malah meminta ponsel Hani.
" Buat apa?" Tanya Hani, Namun dia tetap memberikan ponselnya kepada Narendra. " Kenapa dinonaktifkan? " Tanya Hani lagi, untuk menutupi kegugupannya.
Namun Hani langsung sadar saat Narendra juga menonaktifkan ponselnya sendiri. " Untuk saat ini kita hanya perlu waktu berdua dan tidak membutuhkan pengganggu. " Ucap pria itu, kemudian menyimpan ponsel mereka kedalam laci nakas yang berbeda di ruangan tamu, apartemen itu.
Setelah itu Narendra menarik tangan Hani membawanya masuk kedalam kamar. Pria itu berusaha untuk tenang padahal saat ini dia sedang terbakar api cemburu. Belum lagi ucapan pria yang dia tahu bernama Regan itu.
' Empat puluh hari ya!' Narendra tersenyum samar mengingat hal itu. Terlalu banyak masalah yang tidak penting membuatnya hanya membuang-buang waktu dan berjalan di tempat, hingga tanpa dia sadari seseorang telah membuat jalan baru tepat di hadapannya. Untuk memiliki istrinya, sampai dia harus melihatnya sendiri.
" Ayo mandi bersama." Ajaknya.
" Haah." Hani benar-benar di buat bingung dengan ajakan Narendra tentu saja! Wanita itu tidak langsung menurutinya, karena mereka masih terlibat perang dingin. " Aku nggak mau." Tolak Hani dengan tegas.
Namun Narendra hanya menyeringai sesaat setelah itu ia mengangkat tubuh Hani lagi membawanya ke bathroom, lalu menguyur tubuh mereka di bawah pancuran air shower tanpa melepaskan pakaian yang mereka pakai.
" Apa yang dia katakan padamu." Tanya Narendra, pria itu saat ini tengah menahan Hani dengan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, sembari menatap kepada Wanita, yang kini juga menatap kepadanya. " Apa yang dia katakan padamu, hingga kamu membiarkannya begitu saja, menyentuhmu." Tanya Narendra lagi. Saat Hani tetap Diam.
Dan saat itu, Hani tersadar jika ini bukan saat yang tepat untuk melanjutkan peran dingin di antara mereka.
Sedangkan Narendra, dia marah, marah karena pria lain berani mencium pundak istrinya tepat di hadapannya. Dia marah karena Hani akan mengikuti pria itu, begitu kontrak pernikahan mereka selesai. Tapi satu yang Narendra tahu dari Hani, istrinya itu bukanlah wanita gampang yang mau-mau saja jika di sentuh pria lain. Apalagi pria itu yang membuat luka di hatinya, dengan menyiksa serta melenyapkan Nyawa orang yang Hani cintai.
" Tidak, langkah kamu sudah benar dengan kembali pada kami." Sahut Narendra pria itu memeluk tubuh istrinya dengan begitu eratnya, kemudian mencium pundak Hani tepat di tempat yang sama, yang di cium Regan, untuk menghapus jejak pria itu di tubuh istrinya dengan membuat tanda baru di atas tanda samar itu.
" Apa kamu menyukainya?" Tanya Narendra untuk mengetahui perasaan istrinya.
Hani pun dengan cepat menggeleng kepalanya, setelah itu ia menceritakan perasaan apa yang dia rasakan untuk Regan serta tujuannya untuk pria itu. Narendra kembali menjadi pendengar setia ketika istrinya bercerita Seperti sebelum-sebelumnya. Hingga api cemburu yang berkobar di hatinya, padam bersamaan dengan Hani yang mengakhiri ceritanya.
Tidak Hanya menjadi pendengar setia, Narendra juga menjanjikan sesuatu untuk hani, atau lebih tepatnya mereka mempunyai janji untuk satu sama lain tapi hanya mereka yang tahu itu.
Pembicaraan itu di tutup dengan ciuman panjang yang panas dan menuntun, bahkan kini mereka sudah berpindah dari tempat sebelumnya dan tidak ada sehelai benang pun yang menjadi penghalang tubuh Mereka untuk menempel satu sama lain.
Ranjang yang tadinya kering jadi basah, karena pasangan yang sedang diliputi gairah itu tidak sempat mengerikan tubuh masing-masing.
Narendra terus mencumbu tubuh istrinya, membuatnya terbuai dan siap untuk di masuki. " Kamu yakin ingin melakukannya?" Tanya Narendra sembari meletakkan ujung tongkatnya pada permukaan lembah milik istrinya itu.
" Ya! Aku menginginkannya." Jawab Hani di Sertai anggukan kepala.
" Tahan, ini hanya terasa sesaat." Bisik Narendra, kemudian mendorong tongkat itu untuk masuk.
Butuh beberapa percobaan sebelum, " Aaekkhh,, Hmmffh." suara meringis Hani terdengar, namun sedetik kemudian Narendra langsung membenamkan bibir pada bibir wanita itu bersama dengan Hani yang merasakan sesuatu menembus dirinya, seakan membelanya menjadi dua.
Sementara Narendra tidak langsung bergerak, dia biarkan benda panjang, nan keras itu terdiam cukup lama dalam lembah basah itu, karena bukan Hani saja yang meringis, dia pun merasakan hal yang sama. Karena jepitan dari lembah sempit itu.
Setelah merasa Hani cukup siap, Narendra pun mulai memaju-mundurkan pinggulnya.
Pergulatan panjang itu, terjadi hingga kedua sama-sama mencapai puncaknya dan itu tidak cukup sekali.