HAANIYA.

HAANIYA.
Tidak sayang.



" Dasar bodoh, menjaga satu wanita saja kamu tidak becus."


BUK.. BUK.. BUK.


Maki Regan sembari terus menghajar anak buahnya hingga babak belur dan tergeletak tak berdaya di parkiran Hotel itu.


" Ampun tuan. " Pria itu memohon belas kasih dari Regan sembari menahan kakinya, namun pria itu seakan tak peduli dan terus menyiksanya.


Regan amat sangat marah saat ini. Bagaimana tidak ia dan anak buahnya sudah mengeledah seisi ruangan di hotel itu sampai ke sudut-sudutnya untuk mencari Narendra juga Hani, namun hasilnya nihil dan yang lebih membuatnya marah, asistennya baru saja mendapatkan kabar jika sebuah helikopter baru saja meninggalkan hotel itu kurang dari setengah yang lalu.


" Dasar bodoh! Aku tidak membutuhkan manusia sampah sepertimu." Ucapnya sembari mengarahkan moncong pistol yang dia pegang ke kepala anak buahnya itu.


" Ampun tua_"


Dor.. Dor... Dor.


Tiga buah peluru langsung mendarat di tubuhnya sebelum dia sempat untuk menyelesaikan ucapannya.


Begitulah Regan tidak ada kata ampuh untuk pria itu, sekecil apapun kesalahan yang anak buahnya atau pelayan mansion-nya lakukan, hukuman mereka tidak akan jauh-jauh dari kematian Setelah melewati sedikit penyiksaan tentunya.


Setelah mengakhiri nyawa anak buahnya, Regan langsung meninggalkan tempat itu. Pria itu telah menyuruh asistennya untuk menutupi semua bandara tanpa terkecuali.


Sayangnya apa yang dia lakukan itu sudah sangat terlambat, karena saat ini pesawat yang membawa sepasang suami istri itu telah berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Didalam pesawat.


" Azzam dimana paper bag yang di berikan orang suruhan-mu itu?" Tanya Haaniya, saat ini dia tengah duduk berhadapan dengan Narendra.


" Aku tidak tahu." Jawab Narendra seadanya. Keadaannya saat ini, membuat dia tidak dapat berpikir dengan jernih.


" Apa paper bag itu ke tinggal?" Tanya Hani lagi, karena wanita itu lupa untuk membawanya tadi saat turun dari helikopter.


Dan dalam paper bag yang di pesan Hani itu, terdapat obat pereda nyeri Haid, jarum infus, selang infus dan Natrium klorida IV untuk membantu Narendra.


Hani terpaksa mengunakan cara ini karena dia tidak bisa membantu Narendra, sebab perutnya terlalu sakit dan mungkin dia akan datang bulan sehingga dia memesan obat nyeri itu.


" Tidak sayang, tadi aku sudah membawanya tapi aku lupa menaruhnya dimana." Jawab Narendra, membuat Hani mende-sah pasrah.


Mungkin dia harus pria yang sebamganggymmmelakukannya untuk membantu Narendra. " Maaf nyonya, apa ini yang ada cari?" Tanya pramugara yang tadi membantu Narendra sembari menyerahkan paper bag itu.


Sang pramugara itu tidak bermaksud mencuri dengar. Hanya saja posisi berdiri pria itu tidak jauh dari mereka sehingga dia dapat mendengar obrolan pasangan suami istri itu.


" Ya benar! Terima kasih." Jawab Hani sembari mengambil papar bag itu kemudian mengeluarkan isinya satu persatu sesuai yang dia butuhkan.


Hani pun dengan cekatan memasang infus kepada Narendra. " Kenapa kamu menginfusku?" Tanya Narendra yang bingung dengan apa yang di lakukan Hani. " Aku tidak sakit sayang! Aku baik-baik saja, yang aku butuhkan itu kamu." Lanjutnya.


" Diam-lah, ini akan membantu untuk mengembalikan akal sehatmu. " Sahut Hani.


" Sayang aku_"


" Diam! Cukup percaya sama aku." Tegas Hani, membuat Narendra pun mau tidak mau menuruti istrinya itu.


Begitu selesai menginfus suaminya dan meminta tolong pramugara itu untuk menahan botol infus dan Hani pun langsung memejamkan matanya tanpa sempat menelan obat pereda nyeri Haid.