HAANIYA.

HAANIYA.
Tidak bisa.



Mobil Limosin itu berhenti di depan lobby hotel tepat Narendra menginap, mereka berdua pun turun dari mobil itu di ikuti oleh anak buah Regan. " Mau kemana kamu?" Ucap anak buah Regan sembari menahan tangan Hani.


" Maaf tuan aku hanya akan memapahnya sampai ke kamarnya, kasihan tuan ini jika berjalan seorang diri." Ucap Hani, wanita itu masih menggunakan perannya dengan baik.


" Tidak bisa! Tugas kita hanya mengantarnya sampai ke hotel, kita harus kembali Sekarang." Tolak Anak buah Regan, sembari menarik tangan Hani namun wanita itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya karena Narendra juga menahan tangannya.


"Lepaskan tangan kamu darinya! Bukan kah wanita ini adalah hadiah, yang tuan-mu janji padaku, jadi aku berhak membawanya kemana aku suka, kalau kamu tidak percaya, silahkan tanyakan hal ini dengan tuan mu." Sela Narendra, pria itu melepaskan tangan anak buah Regan yang telah lancang menggenggam tangan istrinya, kemudian menarik tangan wanita itu untuk ikut dengannya.


Keduanya masuk kedalam lobby dan Meninggalkan anak buah Regan begitu saja, setibanya di lobby seseorang menghampiri Narendra kemudian menyerahkan paper bag yang dia bawah kepada Narendra. "Ini pesanan anda, tuan. Pesawat yang ada minta juga sudah di siapkan, begitupun helikopternya. tuan bisa langsung ke atas." Ucap pria itu menjelaskan apa saja yang telah dia siapkan sesuai permintaan Narendra.


Sebab tadi, ketika mereka berada di perjalanan Narendra sudah mengirim pesan kepada orang kepercayaannya yang ada disini untuk menyiapkan pesawat pribadi dan juga helikopter untuk mereka karena malam ini mereka akan meninggalkan negara itu dan beberapa obat yang di perlukan Hani.


Narendra memilih mengunakan helikopter untuk mempersingkat waktu mereka sampai di bandara. Dan untungnya gedung itu memiliki helipad.


" Sampaikan rasa terima kasihku kepada bos-mu! Katakan kepadanya kami akan mengunjunginya begitu masalah kami selesai." Ucap Narendra sembari menjabat tangan dengan orang itu. Rasa panas dan pusing di tubuhnya semakin menjadi, membuatnya tidak tahan namun mengingat keselamatan wanitanya, Narendra berusaha untuk menahan semua itu.


" Baiklah, akan saya sampaikan! Semoga masalah anda cepat selesai, jangan sungkan untuk menghubungi saya, jika tuan membutuhkan sesuatu." Narendra hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya, lalu pria itu pun meninggalkan mereka.


" Azzam, siapa dia?" Tanya Hani.


" Nanti aku ceritakan, Seperti yang kamu katakan kita harus bergegas pergi selagi dia lengah." Ucap Narendra sembari menunjuk anak buah Regan yang sedang menelpon itu.


Dan saat itu anak buah Regan baru selesai menelpon.


Pria itu langsung menyimpan ponselnya, kemudian berlari untuk mengejar Narendra dan Hani namun dia terlambat, pintu lift itu sudah tertutup.


" Ahh sial." Umpatnya, seraya menekan pintu lift di sebelahnya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu lift itu terbuka, dia langsung bergegas masuk kedalam lift itu, kemudian menekan angka tujuh begitu pintu lift itu tertutup.


Disaat lift itu mengantarnya kelantai tujuh di mana kamar Narendra berada, pasangan suami istri itu justru baru tiba di lantai teratas gedung itu, dimana landasan helikopter itu berada.


Dan begitu keduanya tiba di atas sana, helikopter itu sudah siap untuk terbang. Rupanya orang itu tidak hanya memberikan helikopternya saja dia juga menyediakan pilot untuk Narendra agar pria itu tidak perlu mengawaki burung besi itu, walaupun itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk Narendra.


Narendra kemudian membantu Hani naik helikopter itu baru lah dirinya walaupun ia sedikit kesulitan melakukan hal itu karena keadaannya saat ini benar-benar telah di kuasai oleh obat pemberian Regan. " Sayang pakai ini." Ucap Narendra sembari membantu Hani memakaikan headphone di telinganya tak lupa juga sabuk pengaman, setelah itu barulah ia mengunakan benda-benda itu untuk dirinya sendiri.


" Sudah siap." Tanya sang pilot.


" Ya." Jawab Narendra, sembari mengangkat jempolnya. Sang pilot pun menerbangkan helikopter itu menuju bandara.


Sementara di bawah sana, Anak buah Regan Masih kelimpungan mencari keberadaan Hani juga Narendra.