
Sejenak Haaniya mengatakan syarat darinya! Narendra pun mulai terang-terangan menunjukkan perasaannya. Sikap ketusnya berubah tiga ratus enam puluh derajat dari biasanya.
Tidak hanya itu, bahkan Narendra tak sungkan-sungkan menunjukkan perhatiannya kepada selama mereka di kantor dan hal itu membuat Nahla mulai panas dingin. Padahal yang di taburi Bunga-bunga cinta Haaniya.
" Sayang udah bereskan! pekerjaannya?" Tanya Narendra, pria itu baru saja keluar dari ruangan kerjanya, karena saat ini adalah waktu istirahat makan siang. " Makan siang di luar yuk." Ajaknya kepada Hani tanpa melirik sedikitpun kepada Nahla.
" Udah! Tapi aku udah janji mau makan siang bareng, Lita sama Ela." Sahut Hani, bukan maksud ingin menolak ajakan Narendra tapi Wanita itu sudah terlanjur membuat janji dengan kedua sahabatnya itu.
" Ya udah aku ikut kalian," putus Narendra, membuat Hani mende-sah frustasi dengan tingkah suaminya, yang sudah seperti prangko, bawaannya pengen nempel terus di surat," Kamu nggak perlu khawatir, aku akan aja Kai sama kak Arga, biar aku ada teman ngobrolnya." lanjutnya, seakan tahu Hani ingin memberi alasan jika nanti dia akan bosan karena cowok sendiri.
" Azzam, nggak bisa gitu dong! kamu tahu kan Kai, ketemu sama Lita dan Ela tuh gimana! mereka tuh selalu aja adu mulut." Ucap Hani mengingatkan, kali aja, suaminya itu lupa kebiasaan mereka.
" Justru karena itu, mereka harus sering-sering bertemu! biar akrab." Hani pun, menyerah rasanya percuma juga mencoba menjauh dari Narendra.
"Terserah kamu aja deh."
" Nah gitu dong! kan aman Ya udah ayo, nanti mereka lama nungguin kita." Narendra pun mengulurkan tangannya kepada Hani dan di sambut oleh wanita itu.
Namun baru saja satu langkah dari meja kerja Hani, mereka kembali menghentikan langkah mereka, saat mendengar suara Kevin dari belakang sana di susul dengan Nahla juga.
" Kalian mau makan siang kan! aku ikut dong." Begitu lah ucapan Kevin.
"Kalau gitu aku juga iku."
Dan pada akhirnya, Siang itu mereka makan siang bersama, Ada Lita, Naela, Hani, Narendra, Kai, Arga, Kevin, Nahla dan sang kakak Nino.
Sayangnya siang itu Lisa dan Amna tidak jadi ikut karena keduanya memiliki kesibukan masing-masing, entah jadi Apa makan siang mereka jika kedua wanita itu tidak sibuk. Begini saja sudah terasa atmosfernya begitu panas, walaupun pendingin ruangan berkerja dengan baik. Entah apa jadinya jika si biang kerok Lisa juga ada di sana.
" Sebenarnya kalian berdua itu sedekat apa sih, nggak aneh-aneh kan?" Tanya Kai kepada Hani dan Lita dengan nada bercanda! pria itu bermaksud untuk mencairkan ketegangan di antara mereka
Tapi sayangnya, Hal itu justru dimanfaatkan Nahla untuk memercikkan api."Kenapa masih di tanya! anak kecil juga bisa lihat hubungan mereka tuh seperti?"
"Kenapa! kamu nggak pernah ya mendapatkan sahabat seperti kita." Sahut Lita. Mana mau wanita itu di pancing-pancing sama Nahla, lagian mereka tidak sebodoh itu sampai harus terpancing dengan kata-kata Nahla.
"Kamu ingin tahu kan sedekat apa hubungan kita berdua?" kini Giliran Hani yang berbicara sembari menatap Kairan." Kami bersahabat dan kata sahabat saja rasanya tidak cukup untuk mewakili sedekat apa kita berdua! Karena Bagi aku Lita lebih dari seorang sahabat. Sekarang aku tanya sama kamu! kamu pernah di cintai?" Wanita itu menjawab, kemudian balik bertanya.
" Tentu saja! Dan sama seperti kamu, Aku juga beruntung karena di cintai oleh kekasihku Amna! dia adalah hal terindah yang Aku lihat di dunia ini." Haaniya refleks, tersenyum sembari mengeleng kepalanya. Sementara Ela dan Lita kompak berekspresi ingin muntah mendengar Hal itu. berbeda dengan Narendra dan yang lainnya, yang hanya bisa tertawa sembari mengejek pria yang lagi bucin-bucinnya itu.
" Kamu tahu sesuatu yang indah itu bukan hanya tentang keindahan, dan jangan salah, terkadang cinta juga bisa membuat orang buta hingga tidak dapat membedakan suatu keindahan. Karena aku belum pernah melihat yang lebih indah, dari orang yang telah melihat semua kekuranganku namun masih tetap mencintai aku. Jika memang dia bisa seperti itu, maka kamu pantas memujinya. Sebab kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi di kemudian hari." Sahut Hani, membuat mereka semua terdiam. namun tidak dengan Narendra.
" Kalau boleh aku tahu, siapa orang itu." tanya Narendra.
" Ciih, Abang cemburu?" Tanya Ela, namu tidak di hiraukan oleh Narendra, pria itu masih menunggu jawaban yang keluar dari bibir Istrinya.
" Orang itu adalah Thalita." Jawab Hani jujur.
" Kamu yakin! kamu sedang tidak berbohong kan?" Ada sedikit perasaan lega di hatinya, tapi tetap saja Narendra ingin bertanya.
" Terserah kamu mau percaya atau tidak itu hak kamu! aku tidak tidak akan memaksa." Ucap Hani, Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, meraih tasnya. " Aku, Lita dan Ela ada urusan bertiga, aku janji Sebelum jam tiga aku sudah kembali ke kantor. Apa boleh?" Tanya Haaniya meminta izin suaminya itu.
"Baiklah tapi tidak boleh lewat dari jam tiga."
" Terima kasih." Ucap Wanita itu kemudian sedikit membungkuk untuk mencium pipi Narendra tepat di depan Nahla, Saat wanita wanita itu Asyik memanas-manasi Nahla, ia tidak sadar tangan Narendra kini sudah mendarat di tengkuknya, Menariknya, hingga ciuman itu berpindah dari pipi ke bibir Hani. Membuat Hani membulatkan matanya seketika.
Wanita itu ingin mendorong Narendra, tapi takut mempermalukan dirinya sendiri, sehingga ia membiarkan Narendra mendapatkan keinginannya. bersyukur ciuman itu hanya sebentar.
Begitu Narendra melepaskan dirinya, Haaniya langsung berjalan lebih dulu, ia bahkan tak berbalik untuk melihat apa yang di lakukan suaminya, hanya seja telinganya dapat mendengar umpatan dari teman-teman Narendra kepada suaminya itu karena sudah berani mempertontonkan kemesraan mereka.
Begitu meninggalkan restoran itu, Haaniya, Lita dan Ela menemui. Di hotel, karena ada yang pria itu ingin katakan kepada mereka.
Setibanya di Hotel, ketiganya langsung menuju ruang kerja Dino." Kok lama banget?" tanya Pria itu.
" Biasalah ada sedikit pengganggu tadi, jadinya kita nggak bisa langsung kesini. Emangnya ada apa sih kak? kayaknya serius banget." Jawab Ela, sekaligus bertanya.
" Han, Regan ada disini." Bukannya menjawab pertanyaan Ela, pria itu justru berbicara kepada Hani, memberitahu keberadaan, pria yang pernah menjadi calon suaminya itu. " Dari yang kakak lihat, sepertinya dia sudah tahu identitas kamu." lanjutnya lagi saat Hani tetap diam.
" Han_" Panggilan Lita.
" Kalian tidak perlu khawatir, bukannya aku sudah menikah! Lagian dia tidak akan berani macam-macam disini." Lanjutnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Sambil menunggu Haaniya update, yuk mampir ke cerita aku yang lain, semoga kalian suka. 🙏